MUHASABAH

Lari dari Takdir Allah Menuju Takdir Allah yang Lain

Kajian  SELASA, 27 JULI 2021 | 20:12 WIB

Lari dari Takdir Allah Menuju Takdir Allah yang Lain

Usatadz H. Bagya Agung Prabowo, S.H., M.Hum., Ph.D/ist

DIKISAHKAN Sayidina Umar beserta rombongan beliau berencana pergi ke suatu desa. Beliau mendengar kabar bahwa di desa yang akan dihampirinya telah mewabah suatu penyakit menular atau Thaun. Akhirnya Sayidina Umar tidak jadi melanjutkan perjalanannya. 

Keputusan Sayidina Umar ini sempat diprotes oleh sebagian sahabat. Dikatakan, “Hai Amirul Mukminin, apakah Anda lari dari Takdir Allah?” Umar menjawab, “Saya lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.” 

Secara umum, takdir diartikan sebagai putusan Allah Azza wa Jalla yang berlaku bagi seluruh mahluk-Nya, termasuk manusia. Berlakunya takdir atas dasar keyakinan akan adanya kekuasaan dan kehendak mutlak Sang Pencipta serta status manusia sebagai makhluk.

Sebenarnya, walaupun setiap manusia telah ditentukan takdirnya, bukan berarti manusia hanya tinggal diam menunggu tanpa ada usaha dan ikhtiar. Seperti halnya ketika seseorang terpapar Covid-19 tidak boleh bersikap diam dan menyatakan "jika sudah tiba ajalnya mau bagaimana lagi." Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha dan dilarang berputus asa. 

Manusia merupakan makhluk yang terpaksa dan bebas sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ia dalam kondisi terpaksa karena terbatasnya kemampuan yang ada pada dirinya serta kondisi lingkungannya. 

Namun ia juga memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atau sikap terhadap sesuatu, ia diberi “kebebasan untuk memilih” ( free choice) antara melakukannya atau tidak. Berhasil atau tidak upaya yang dilakukan, biarkan takdir yang berjalan, "al-insan bi at-takhyir wa Allah bi at-takdir."

Salah satu rukun iman yang wajib kita imani dan yakini adalah beriman kepada takdir Allah Azza wa Jalla, baik takdir baik maupun takdir buruk. Kita wajib percaya dan beriman bahwa semua takdir baik dan buruk berasal dari Allah Azza wa Jalla, dan kita harus lapang hati dan ridha menerima semua takdir-Nya.

Namun terkadang kita tidak bisa menerima takdir Allah Azza wa Jalla dengan hati yang ridha dan lapang. Kita sering mengeluh terhadap takdir Allah Azza wa Jalla, bahkan terkadang terhadap takdir baik-Nya. 

Karena itu, agar hati selalu ridha menerima takdir Allah Azza wa Jalla, maka hendaknya kita memperbanyak membaca doa; Allohumma rodhdhinii bi qodhoo-ika wa shobbirnii ‘alaa balaa-ika wa awzi’nii syukro ni’amaa-ika. Yang artinya: "Ya Allah, jadikan aku ridha dalam menerima qadha (ketentuan)-Mu, dan jadikan aku sabar dalam menerima bala dari-Mu, dan tunjukilah aku untuk mensyukuri semua nikmat-nikmat-Mu." (Kitab Syarh Al-Hikam oleh Ibnu Ibad Al-Nafazi). 

Besar kecilnya nilai amalan dzahir bergantung dengan amalan hati. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Janganlah kalian mencela para sahabatku, kalau seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai infaq mereka kurma atau gandum sebanyak dua genggam tangan atau segenggam tangan”. (HR. Al-Bukhari no 3673 dan Muslim no. 221).

Perhatikanlah bahwasanya gunung Uhud panjangnya sekitar 7 km dan lebarnya 2 sampai 3 km, dengan ketinggian sekitar 350 meter? Tentunya kalau ada emas seukuran ini maka beratnya ribuan ton. Kalau kita memiliki emas sebesar itu, apakah kita akan menginfakkannya?

Lantas kenapa para sahabat mendapat kemuliaan yang luar biasa ini, mengapa ganjaran amalan mereka sangat besar di sisi Allah Azza wa Jalla?

Al-Baydhaawi berkata: “Makna hadits ini adalah salah seorang dari kalian meskipun menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai meraih pahala dan karunia sebagaimana yang diraih oleh salah seorang dari mereka (para sahabat) meskipun hanya menginfakkan satu mud makanan atau setengah mud. Sebab perbedaan tersebut adalah karena (mereka) yang lebih utama (yaitu para sahabat) disertai dengan keikhlasan yang lebih dan niat yang benar”. (Dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 7/34)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan-amalan berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan perbedaan tingkatan keimanan dan keikhlasan yang terdapat di hati. Dan sungguh ada dua orang yang berada di satu shaf shalat akan tetapi perbedaan nilai shalat mereka berdua sejauh antara langit dan bumi”. (Minhaajus Sunnah 6/136-137).

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya amalan-amalan lahiriah (dzahir) nilainya menjadi besar atau menjadi kecil sesuai dengan apa yang ada di hati, dan apa yang ada di hati bertingkat-tingkat. Tidak ada yang tahu tingkatan-tingkatan keimanan dalam hati-hati manusia kecuali Allah”. (Minhaajus Sunnah 6/137).

Dari sini jelas bagi kita rahasia kenapa Allah Azza wa Jalla menjadikan pahala sedikit infaq yang dikeluarkan oleh para sahabat lebih tinggi nilainya dari beribu-ribu ton emas yang kita sedekahkan. Sesungguhnya amalan-amalan hati para sahabat sangatlah tinggi, keimanan para sahabat sangatlah jauh dibandingkan keimanan kita.

Mungkin kita bisa saja menilai amalan dzhahir seseorang, akan tetapi amalan hatinya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla. Para sahabat yang luar biasa amalan dzahirnya bisa saja ada seorang tabi'in yang meniru mereka akan tetapi yang menjadikan mereka tetap istimewa adalah amalan hati mereka yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah Azza wa Jalla.

Ibnu Taimiyyah berkata tentang para sahabat, “Hal ini (ditinggikannya pahala para sahabat) dikarenakan keimanan yang terdapat dalam hati mereka tatkala mereka berinfaq di awal-awal Islam, dan masih sedikitnya para pemeluk agama Islam, banyaknya hal-hal yang menggoda untuk memalingkan mereka dari Islam, serta lemahnya motivasi yang mendorong untuk berinfaq".

Oleh karenanya orang-orang yang datang setelah para sahabat tidak akan bisa memperoleh sebagaimana yang diperoleh para sahabat. Oleh karenanya tidak akan ada seorangpun yang menyamai Abu Bakr radhiallahu 'anhu.

Keimanan dan keyakinan yang ada di hatinya tidak akan bisa disamai oleh seorangpun. Abu Bakr bin 'Ayyaas berkata, "Tidaklah Abu Bakr mengungguli para sahabat yang lain dengan banyaknya shalat dan puasa akan tetapi karena sesuatu yang terpatri di hatinya”.

Demikian pula para sahabat yang lain yang telah menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada Nabi dan berjihad bersamanya maka timbul dalam hati mereka keimanan dan keyakinan yang tidak akan dicapai oleh orang-orang setelah mereka.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senatiasa mengimani takdir dan menjaga amalan hati untuk meraih ridha-Nya. Aamiin Ya Rabb. Wallahua'lam bishawab. [***]

OLEH: H. Bagya Agung Prabowo, S.H., M.Hum., Ph.D.
Penulis Adalah: Dosen Tetap Fakultas Hukum UII, Sekjen BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional) MUI Propinsi DIY, Wakil Ketua APPHEISI (Asosiasi Pengajar dan Peneliti Hukum Ekonomi Islam Indonesia), Pengurus AMSI (Asosiasi Mediator Syariah Indonesia).



Komentar Pembaca
Preman Jadi Mualaf

Preman Jadi Mualaf

Ahad, 26 September 2021 | 18:55

Tragis Pensiunan Polisi Ngemis Jadi Manusia Silver