Bantah KSPI, TransJakarta: Karyawan Meninggal Bukan Karena Covid-19

NASIONAL  SELASA, 27 JULI 2021 | 19:40 WIB | Aldi Rinaldi

Bantah KSPI, TransJakarta: Karyawan Meninggal Bukan Karena Covid-19

PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) membantah klaim Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), yang menyebut angka kematian karyawan TransJakarta akibat COVID-19 mencapai 20 orang.

Direktur Utama PT Transjakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, pernyataan KSPI tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Sebab berdasarkan catatan perusahaan, PT Transjakarta tidak menemukan korban meninggal akibat COVID-19.

“Korban (meninggal akibat COVID-19) di kita (Transjakarta) sejauh ini angkanya 14 orang. Jadi kalau ada yang menyebut lebih, itu datanya dari mana?,” kata Jhony dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/7/2021).

Jhony menjelaskan, TransJakarta merupakan perusahaan yang bergerak di bidang transportasi dan termasuk ke dalam sektor kritikal. Artinya boleh tetap beroperasi penuh dengan protokol kesehatan yang ketat. Di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat hingga level 4, Transjakarta tetap melayani masyarakat meski dengan pembatasan tertentu.

"Transjakarta sangat peduli dengan seluruh karyawan, baik yang bekerja di office maupun lapangan. Bahkan, orang belum ngapa-ngapain, ribuan karyawan kami sudah melakukan PCR swab, kemudian kami juga aktif melakukan random test setiap hari minimum 200 orang, itu ada kebijakannya, ada surat direksinya," jelasnya.

TransJakarta juga punya Satgas COVID-19 yang sudah melaksanakan vaksinasi massal untuk karyawan dan keluarganya. Jhony meminta kepada semua pihak untuk mengetahui dahulu tentang TransJakarta sebelum berkomentar.

"Perusahaan lain juga mungkin mengalami hal yang sama, ada korban jiwa juga. Tetapi yang jelas ini bukan sekadar angka statistik. Ini soal kemanusiaan,” tegasnya.

TransJakarta selalu berupaya untuk beroperasi mengacu pada setiap kebijakan yang ada. Salah satunya ketika penerapan PPKM Jawa dan Bali, karyawan yang bekerja di kantor hanya 25 persen dan 75 persen bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Kemudian untuk mengurangi risiko di tengah naiknya angka penularan virus, Transjakarta kembali membuat kebijakan di mana hanya 10 persen dari karyawannya yang bekerja dari kantor, dan sisanya bekerja dari rumah.

“Kami sudah melakukan semua prosedur dengan baik sesuai aturan yang berlaku. Jadi jika ada pihak-pihak yang ingin melakukan sidak sangat dipersilahkan. Transjakarta selalu membuka pintu selebar-lebarnya agar tidak ada lagi berita-berita keluar yang tidak sesuai dengan fakta,” tutupnya.

Di luar itu, TransJakarta tetap menghimbau masyarakat untuk tetap di rumah apabila tidak ada keperluan mendesak. Namun jika harus ke luar rumah karena terpaksa, selalu pastikan untuk selalu menerapkan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.[ros]   


Komentar Pembaca