Hadapi PPKM Darurat, Kalbe Kaji Pengaruh Penyebaran Covid-19 Terhadap Pengendalian Manajemen K3

EKONOMI  KAMIS, 22 JULI 2021 | 01:45 WIB | Zulfa Fahmi

Hadapi PPKM Darurat, Kalbe Kaji Pengaruh Penyebaran Covid-19 Terhadap Pengendalian Manajemen K3

Kegiatan Vaksin Gotong Royong yang digelar oleh PT Kalbe Farma Tbk/net

PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) berkolaborasi dengan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan Apindo Training Center (PT Pusat Studi Apindo) yang didukung oleh pemerintah dalam hal ini BPJS Ketenagakerjaan & BPJS Kesehatan menyelenggarakan edukasi Industrial Relation Innovation Insight dalam bentuk webinar bertema “Update Varian COVID-19 & Vaksinasi serta Pengendalian Manajemen K3 pada saat Pemberlakuan PPKM Darurat”.

Tampil sebagai narasumber diantaranya adalah dr. Muhammad Syahril Mansyur Sp.P, MPH (Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso Jakarta & Plt Dirut RS Persahabatan Jakarta), dr. Esther Kristiningrum – (Medical Senior Manager PT Kalbe Farma Tbk), dr. Rima Melati, MKK, SpAk, SpOk (Anggota Komite K-3 Apindo), Iftida Yasar, S.H., M.Psi (Dewan Pengawas BPJS Kesehatan), dan Subchan Gatot (Dewan Pengawan BPJS Ketenagakerjaan) dengan moderator Dr. Soeprayitno, MBA.,MSc. (Direktur PT. Pusat Studi Apindo/ATC). 

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (21/7/2021) diungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari edukasi bagaimana pemetaan varian virus COVID-19 terbaru serta bagaimana penyebarannya, memberikan pemahaman dalam Pengendalian Manajemen K3 pada saat pemberlakukan PPKM, mitigasi resiko atas dampak sosial yang terjadi akibat penambahan kasus yang signifikan, dan memberikan sosialisasi terkait program perlindungan untuk karyawan dari BPJS kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

Dalam pemaparan, Muhammad Syahril Mansyur mengungkapkan,  peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia salah satunya disebabkan dari mutasi virus varian Delta. Varian ini menyebar 10 kali lebih cepat dan lebih singkat sehingga adaptasi dan kewaspadaan juga harus ditingkatkan 10 kali lipat. 

“Selalu disiplin melaksanan protokol kesehatan dengan 5M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan Pakai Sabun, Menghindari Kerumunan dan Menghindari Makan Bersama) walaupun sudah di vaksinasi dan 3T (Testing, Tracing, Treatment). Juga jangan konsumsi obat-obatan selain anjuran dokter bila terkonfirmasi dan apabila ada penurunan saturasi oksiden <93% atau sesak napas segera ke Rumah Sakit,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Medical Senior Manager PT Kalbe Farma Tbk, dr.Esther Kristiningrum. Ia mengungkapkan bahwa penyebaran kasus COVID-19 khususnya varian Delta lebih masif dibandingkan varian lainnya. Upaya preventif tetap perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19, mulai dari prokes ketat (meliputi penggunaan masker 2 lapis), konsumsi vitamin dan mineral yang direkomendasikan (vitamin B, C, D, E dan Zinc) dan pastikan setiap karyawan telah mendapatkan vaksin. 

“Upaya testing & tracing perlu dilakukan untuk memastikan karyawan yang terpapar tetap terpantau dan dimonitor dengan seksama, serta karyawan yang positif COVID-19 mendapatkan tatalaksana atau pengobatan yang tepat sesuai rekomendasi, baik yang isolasi mandiri (ISOMAN) atau dirawat di fasilitas kesehatan,” kata dr.Esther.

Sedangkan Anggota Komite K-3 Apind, dr. Rima Melati mengungkapkan bahwa pencegahan dan pengendalian COVID-19 di tempat kerja bisa dilakukan dengan Regulasi external & Internal. 

Diantaranya dengan memberikan pemahaman COVID-19 secara komprehensif  seperti dengan tetap menerapkan protokol kesehatan 6M (Mencuci Tangan Pakai Sabun, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan, Membatasi Mobilitas dan Menghindari Makan Bersama) dan 3T (Testing, Tracing, Treatment) di tempat kerja. 

“Selain itu, dengan penerapan prinsip K3 di rumah (work from home) dan di kantor (work from office), percepatan vaksinasi untuk membentuk herd immunity; Melalukan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif; dan Tetap melakukan evaluasi program” katanya. 

Hal senada juga disemapaikan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Iftida Yasar. Menurutnya Penerapan K3 merupakan kunci penting keberlangsungan usaha dan perlindungan pekerja dalam rangka pencegahan dan penanggulan COVID-19.  

Penerapan K3 ini dapat dilakukan di tempat kerja (work from office) melalui Membentuk organisasi pekerja untuk meningkatkan partisipasi dalam pengambilan keputusan; Dialog sosial antara pekerja, perusahaan dan pemerintah; Memperhatikan kebersihan area kerja; Mendorong setiap tenaga kerja menerapkan budaya K3; Melalukan sosialisasi dan screening pada tenaga kerja; Mewajibkan tenaga kerja untuk melakukan vaksinasi COVID-19.

“Sedangkan untuk penerapan K3 di rumah (work from home) melalui Melakukan komunikasi yang jelas dengan atasan; Buat ruang khusus
untuk bekerja; Memberikan batasan jam kerja; Berpakaian sopan seperti bekerja di kantor; dan Atasan harus memberikan arahan dalam bentuk komunikasi yang jelas dan menjaga moral bawah,” kata Iftida Yasa.

Sementara itu Dewan Pengawan BPJS Ketenagakerjaan,  Subchan Gatot mengungkapkan bahwa dalam mencegah penyebaran COVID-19, ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu Perusahaan perlu memiliki kebijakan dan tim khusus untuk pencegahan dan deteksi dini COVID-19; Perusahaan memiliki perhatian khusus bagi karyawan yang terkonfirmasi COVID-19; Melakukan edukasi terhadap karyawan dan keluarga; Tetap disiplin dalam menjalankan 6M (Mencuci Tangan Pakai Sabun, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan, Membatasi Mobilitas dan Menghindari Makan Bersama) dan 3T (Testing, Tracing, Treatment. 

“Dengan vaksinasi, kita bisa mencapai herd immunity dan bisa segera melewati pandemi COVID-19 ini seperti beberapa negara lainnya,” katanya.[fah]


Komentar Pembaca