Berkas Siap, Empat Tersangka Dana Hibah Masjid Sriwijaya Segera Disidangkan

Tentang Sumsel  KAMIS, 15 JULI 2021 | 15:02 WIB

Berkas Siap, Empat Tersangka Dana Hibah Masjid Sriwijaya Segera Disidangkan

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel telah menyiapkan empat bundel berkas dari empat tersangka yang dididuga terlibat dalam dugaan korupsi dana hibah Masjid Sriwijaya Jakabaring yang merugikan negara hingga Rp 130 miliar.

Dari enam tersangka, ada empat yang bakal disidangkan yakni berkas Eddy Hermanto selaku mantan Ketua Panitia Pembangunan Masjid Sriwijaya, berkas Ir Dwi Kridayani sebagai kuasa KSO PT Brantas Abipraya-PT Yodya Karya, berkas H Syarifudin selaku Ketua Panitia Divisi Lelang Pembangunan Masjid Sriwijaya, dan berkas Ir Yudi Arminto selaku Project Manager PT Brantas Abipraya-PT Yodya Karya.

Untuk dua tersangka lain yakni Mukti Sulaiman mantan Sekda Pemprov Sumsel dan Ahmad Nasuhi (mantan Plt Kepala Biro Kesra Pemprov Sumsel dan saat ini masih aktif sebagai Kadinsos Kabupaten Musi Banyuasin masih dalam proses kelengkapan. Para tersangka ini sekarang berada di Rutan Pakjo, menunggu proses hukum.

Mukti Sulaiman sendiri sempat mengajukan praperadilan terkait penahanannya sebagai tersangka namun saat menjalani sidang perdana pada Senin (12/07/2021) lalu, yang bersangkutan mencabut sendiri gugatannya.

Mukti Sulaiman sebagai Sekda Pemprov Sumsel dan Ahmad Nasuhi sebagai Kepala Biro Kesra dianggap mengetahui dan terlibat dalam pembangunan masjid yang sempat digadang gadang jadi masjid terbesar di Asia Tenggara.

Selain keenam tersangka, Kejati Sumsel juga telah memeriksa anggota DPRD dan Muddai Madang, mantan Ketua KONI Sumsel.

Dari hasil kajian dan temuan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Sumsel, pembangunan Masjid Sriwijaya yang menggunakan dana hibah APBD tahun 2016 dan 2017 sebesar Rp 130 miliar berpotensi mendulang masalah besar terkait penggunaan yang tidak jelas.

Bila mengacu ke masalah jabatan, seharusnya Kejati bisa mengurai kembali siapa saja pejabat yang terlibat hingga diketahui siapa yang menjadi faktor utamanya.

Deputy MAKI Sumsel, Feri Kurniawan menilai, Banyak hal yang terkesan belum terungkap pada proses hukum dugaan korupsi dana hibah Masjid Sriwijaya, termasuk keterlibatan anggota DPRD Sumsel.

Dimana Mantan Sekda Sumsel menyatakan bahwa pemberian hibah ke Yayasan Wakaf Sriwijaya berdasarkan kesepakatan kepala daerah dan pengurus yayasan, ini suatu kesalahan besar karena uang negara dikeluarkan tanpa dasar hukum seolah uang pribadi.

Bahkan lebih mengherankan lagi hibah ini disetujui Panggar dan Banggar DPRD Sumsel. Ini juga menjadi tanda tanya kenapa Komisi III menyetujuinya.

MAKI juga mempertanyakan hasil evaluasi APBD Sumsel oleh Kemendagri terkait pemberian dana hibah ini, apakah mengizinkan atau menolaknya karena patut diduga proses penganggarannya tidak sesuai Permendagri.

Penganggarannya juga terkesan semua serba instan dan diduga melanggar rambu–rambu aturan perundangan. Bila dilihat atensi Gubernur Sumsel pada surat permohonan pencairan dana hibah oleh Yayasan wakaf pada bulan September 2015. Dana hibah harus digunakan pada tahun anggaran berjalan dan bila bersisa maka harus dikembalikan ke kas negara karena penerima hibah dan pemberi hibah harus mempertanggung jawabkan dana hibah secara formil dan materil pada tahun anggaran berikutnya.

Atas semua itu diduga telah terjadi ketidakpatuhan terhadap aturan perundangan PP 58 tahun 2005 tentang Keuangan Daerah dan Permendadri No. 32 tahun 2011 serta perubahannya tentang aturan pemberian hibah.

Atas ketidakpatuhan ini semua pihak harus bertanggung jawab, mulai dari pihak yang memberi dan menerima dana hibah.

Kemudian kepala daerah selaku pengguna anggaran, anggota DPRD yang menyetujui pemberian hibah, oknum di Kemendagri yang mengevaluasi APBD Sumsel tahun 2015 dan 2017 yang memberikan persetujuan pemberian dana hibah untuk pembangunan masjid pada APBD Sumsel 2015 dan 2017.

Ini menjadi tugas berat Kejati Sumsel untuk mengungkap dan menetapkan tersangka lain–lainnya karena melibatkan banyak pihak termasuk aktor utama dari semua rencana ini, harus diungkap.

Sementara sebelumnya Kasi Penerangan dan Hukum Kejati Sumsel, Khaidirman menerangkan, ditetapkannya Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi sebagai tersangka berdasarkan hasil pengembangan dan pemeriksaan Kejati. Dengan demikian kini sudah ada enam tersangka yang diduga terlibat dalam dugaan korupsi dana hibah pembangunan Masjid Sriwijaya ini. Untuk tersangka selanjutnya, Kejati masih terus mengembangkan kasusnya. [rhd]


Komentar Pembaca