Hasil Survei Sebut Orang Tua Setuju PTM di Tahun Ajaran Baru

Pendidikan  SENIN, 12 JULI 2021 | 05:35 WIB | Sunarya Sultan

Hasil Survei Sebut Orang Tua Setuju PTM di Tahun Ajaran Baru

Foto/net

MoeslimChoice | Berdasarkan hasil survei Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), 43,9 persen orang tua siswa setuju Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di tahun ajaran baru pada Juli 2021 meski kasus Covid-19 masih tinggi.

Tidak sedikit orang tua menginginkan PTM lantaran dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya, anak-anak jenuh, banyak menghabiskan waktu bermain gim, sinyal internet yang susah, dan orang tua yang tak memiliki kompetensi pengajaran di rumah.

"Alasan lainnya, selama pembelajaran jarak jauh guru hanya memberi tugas saja, sekolah menurut orang tua sudah siap untuk melaksanakan PTM, guru sudah divaksin, anak sudah kangen sekolah, kemudian anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya," ungkap Koordinator P2G, Satriawan Salim, Minggu (11/7/2021).

Untuk diketahui, survei dilakukan terhadap 9.287 orang tua siswa di 134 kota/kabupaten yang berlangsung pada 5-8 Juli 2021. Ada 32,2 persen orang tua yang ragu-ragu, lalu 23,9 persen tidak setuju sekolah dibuka kembali di tahun ajaran baru.

Hasil survei itu, kata Kabid Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri mencerminkan bahwa masih banyak orang tua yang belum peduli dengan bahaya virus corona terhadap anak-anaknya. Padahal, jumlah anak yang positif Covid-19 tergolong tinggi di Indonesia.

"Jadi, menurut kami dibutuhkan edukasi dan sosialisasi yang utuh bagi orang tua," jelas Iman.

Terkait hal itu, Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda menyebutkan bahwa pembelajaran jarak jauh selama ini tidak optimal, akibatnya tak sedikit orang tua yang ingin sekolah kembali dibuka.

Syaiful pun meminta Kemendikbud untuk lebih responsif dalam melihat keadaan yang ada. Perlu ada terobosan atau langkah konkret agar pembelajaran tetap bisa berjalan optimal di tengah pandemi Covid-19.

Kemendikbud juga perlu memikirkan kondisi keluarga dengan taraf ekonomi menengah ke bawah. Merujuk survei P2G, tak sedikit keluarga ekonomi menengah ke bawah yang ingin anaknya kembali bersekolah.

Keinginan itu didasari pada keterbatasan sarana belajar anak mereka. Kemampuan ekonomi keluarga pun tidak bisa memberikan sarana atau media yang baik untuk anak-anaknya.

"Ini mencerminkan bahwa memang pembelajaran jarak jauh tidak efektif, yang kedua juga pasti orang tua merasa keterbatasan sarana-prasarana, akhirnya di tengah kenaikan tren (kasus Covid) ini beliau tetap minta PTM tetap buka" tandas Syaiful. [ary]


Komentar Pembaca
Preman Jadi Mualaf

Preman Jadi Mualaf

Ahad, 26 September 2021 | 18:55

Tragis Pensiunan Polisi Ngemis Jadi Manusia Silver