Bidan RSUD Siti Fatimah ''Nyambi'' Jual Sabu, IBI Sumsel Kecewa

Tentang Sumsel  SELASA, 22 JUNI 2021 | 13:15 WIB | Irmayani

Bidan RSUD Siti Fatimah ''Nyambi'' Jual Sabu, IBI Sumsel Kecewa

net

Oknum bidan di RSUD Siti Fatimahbernama Debi Destiana (27) diringkus Satresnarkoba Polrestabes Palembang bersama tiga orang pengedar narkoba lainnya pada Kamis (17/6/2021) sekira pukul 10.30 WIB di Jalan Mayor Zen Lorong Sukarami RT 27 Kelurahan Sei Selayur Kecamatan Kalidoni Palembang.

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sumsel menyayangkan peran dan 'pekerjaan sampingan' oknum bidan yang menjalankan bisnis narkoba bersama keluarganya, tak sepatutnya dilakukan.

Ketua PD IBI Sumsel Lisa Mora mengatakan, seorang bidan yang notabenenya memiliki tugas sesuai profesi, yang melakukan pekerjaan diluar porsinya saja sudah dianggap salah. Apalagi sampai terlibat narkoba.

"Kami sangat menyayangkan, bidan itu bekerja sesuai profesi. Hal kecil yang bukan menjadi tugasnya saja jika ia mengerjakan dan ada kesalahan bisa membahayakan nyawa dan itu tidak boleh dilakukan. Apalagi ini sampai terlibat narkoba," kata Lisa, via telepon dikutip dari Infosumsel.id, Selasa (22/6/2021).

Meski pada dasarnya titik kesalahan ada pada pribadi bidan, lanjut Lisa, ia sangat tidak mengharapkan anggota IBI lainnya akan terlibat.

IBI hanya mendukung tindakan polisi dan proses hukum yang berjalan dan tidak ingin terlibat dalam kasus tersebut.

"Karena masalahnya ini diluar profesi bidan saya tidak mau komentar banyak, tapi profesi sampingan yang sudah dilakukan sang bidan sungguh tidak benar. Kami sepenuhnya menyerahkan ini ke Polisi, nurut hukum aja, " jelas dia.

Lisa mengimbau seluruh anggota IBI Sumsel yang berjumlah 14 ribu an, untuk tidak melakukan kesalahan atau hal-hal diluar profesi yang merugikan orang banyak.

"Untuk anggota-anggota cukup jalankan tugas sebagai bidan saja, jangan melenceng ke aktivitas yang menjerumus, " tegasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Debi ditangkap bersama Mat Arif alias Mat Geplek (52), Faridah alias Cicik Idah (56) dan Marselia (40).

Kasat Narkoba Polrestabes Palembang AKBP Andi Supriadi mengatakan terbongkarnya jaringan narkoba dalam satu keluarga ini, setelah anggota Satreskrim Narkoba berhasil menangkap pelaku Mat Geplek.

"Usai tertangkap, kami berhasil mengembangkan dan membuat 3 pelaku lainnya yang terkait atau masih berhubungan. Mereka menjual narkoba jenis sabu," ujarnya saat rilis di Aula Satnarko Polrestabes Palembang, Senin (21/6/2021).

Andi menjelaskan untuk peran masing-masing pelaku yakni pelaku Cik Idah berperan menjalankan bisnis ini dan Cik Idah ini merupakan residivis narkoba dan sudah dua kali ditambah ini tiga kali. Sementara Mat Geplek merupakan saudara Cik Idah.

“Mat Geplek ini setiap ada barang sabu, misalnya 1 ons dibagi lagi dan dijual kalau habis keuntungan Rp65 juta,” terangnya.

Barang milik Mat Geplek ini disimpan di dalam rumah keponakan bernama Marselia dan tugas dia ini mendapat upah setiap hari sebesar Rp100 ribu.

"Sabu ini disimpan di atas genteng rumahnya di lantai 2," ujarnya.

Sedangkan untuk mengendalikan transfer uang dalam bisnis ini dikendalikan Debi Destiana.

"Empat pelaku sudah dilakukan tes urin dan hasilnya negatif, mereka ini merupakan satu jaringan keluarga di wilayah Kalidoni yang jual beli Sabu," jelas Andi.

Menurut keterangan pelaku, bisnis Narkoba yang mereka lakukan ini sudah lama dijalankan.

"Cik Idah ini tidak kapok bisnis sabu bahkan sebelumnya sudah 2 kali masuk penjara," kata Andi.

Jaringan narkoba satu keluarga ini sangat tersusun rapi. Adapun peran Debi melakukan transaksi uang kepada bandar besar, dan Satres Narkoba Polrestabes Palembang, masih siapa bandar besar tempat mengambil barang ini.

Kemudian bandar Narkoba keluarga ini mengambil barang yang masih berasal dari Palembang, dalam 2 minggu keluarga ini bisa mendapatkan keuntungan Rp65 juta," terang Andi sambil mengatakan bandar yang saat ini sedang dicari MR.

Saat ini satres Narkoba Polrestabes Palembang berhasil membuat barang bukti (BB) berupa 2 bungkus plastik bening berisi Sabu seberat 15,54 gram, 1 buah timbangan digital, Uang tunai Rp 2,4 juta, 3 unit handphone, 1 buah dompet. [irm]


Komentar Pembaca