Pembuatan Film tentang Penembakan di Masjid Christchurh yang Tewaskan 51 Warga Muslim Tuai Kritik

Internasional  MINGGU, 13 JUNI 2021 | 19:00 WIB

Pembuatan Film tentang Penembakan di Masjid Christchurh yang Tewaskan 51 Warga Muslim Tuai Kritik

foto/net

Rencana sang produser untuk menampilkan tanggapan Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern terhadap pembantaian seorang pria bersenjata terhadap jamaah Muslim, menuai kritik di Selandia Baru pada Jumat (11/6), karena tidak berfokus pada para korban serangan.

Film tentang peristiwa penembakan yang terjadi di dua Masjid di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret 2019, yang menewaskan 51 orang jamaah Muslim, kini tengah siap diangkat ke layar lebar.  

Seperti dilansir dari ArabNews, Outlet berita Hollywood Deadline melaporkan, bahwa aktris Australia, Rose Byrne akan memerankan sang Perdana Menteri Ardern dalam film  yang diberi judul " They Are Us " itu, yang saat ini tengah dibeli oleh FilmNation Entertainment, yang berbasis di New York, AS kepada pembeli Internasional.

Film tersebut rencana akan mengambil cerita beberapa hari setelah serangan penembatan terjadi. 

Deadline mengatakan, film itu akan mengikuti tanggapan PM Ardern terhadap serangan dan bagaimana orang-orang bersatu di belakang pesan belas kasih dan persatuannya, dan seruannya, yang berhasil untuk melarang jenis senjata semi-otomatis paling mematikan itu beredar.

Judul film tersebut berasal dari kata-kata yang diucapkan PM Ardern, saat dia berpidato penting sesaat setelah serangan itu terjadi. 

Pada saat itu, Ardern dipuji di seluruh dunia atas tanggapannya.
Tetapi banyak orang di Selandia Baru sendiri, justru meningkatkan kekhawatiran tentang rencana film tersebut.

Aya Al-Umari, yang merupakan kakak laki-laki Hussein, salah satu korban penembakan menulis di akun Twitternya, "Yeah nah," sebuah kata Selandia Baru yang berarti "Tidak".

Abdigani Ali, juru bicara Asosiasi Muslim Canterbury, mengatakan bahwa komunitas tersebut, mengakui kisah serangan yang perlu diceritakan, "tetapi kami ingin memastikan bahwa cerita film itu harus sesuai, otentik, dan sensitif."

Tina Ngata, seorang penulis dan advokat, lebih blak-blakan, men-tweet bahwa pembantaian Muslim seharusnya tidak menjadi latar belakang film tentang "kekuatan wanita kulit putih, ayolah."

Kantor PM Ardern mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat, bahwa Perdana Menteri dan pemerintahnya tidak terlibat dengan film tersebut.

Deadline melaporkan, bahwa warga Selandia Baru, Andrew Niccol akan menulis dan menyutradarai film tersebut, sementara untuk naskahnya masih akan berkonsultasi dengan beberapa anggota Masjid yang terkena dampak tragedi tersebut.

Niccol mengatakan, film itu bukan tentang serangan tetapi lebih pada tanggapannya.

"Film ini membahas kemanusiaan kita bersama, itulah sebabnya saya pikir itu akan berbicara kepada orang-orang di seluruh dunia. Ini adalah contoh bagaimana kita harus merespons, ketika ada serangan terhadap sesama manusia," kata Niccol.

Pihak sang aktris Rose Byrne, dan pihak FilmNation, belum menanggapi tentang masalah tersebut. 

Laporan mengatakan, bahwa film tersebut akan dibuat (mengambil lokasi syuting) di Selandia Baru, tetapi tidak mengatakan kapan syuting akan dimulai.

Andrew Niccol dikenal sebagai penulis dan menyutradarai beberapa film terkenal, seperti Gattaca, The Terminal dan The Truman Show, di mana dia juga pernah dinominasikan untuk piala Oscar.

Sementara aktris Rose Byrne dikenal lewat perannya dalam Spy dan Bridesmaids[mt]


Komentar Pembaca