Mantan Perdana Menteri, Khurelsukh Ukhnaa Terpilih Sebagai Presiden Mongolia

Internasional  JUMAT, 11 JUNI 2021 | 02:30 WIB

Mantan Perdana Menteri, Khurelsukh Ukhnaa Terpilih Sebagai Presiden Mongolia

foto: Khurelsukh Ukhnaa, Presiden terpilih Mongolia/net

Presiden Mongolia yang baru saja terpilih, Khurelsukh Ukhnaa adalah seorang dengan karakter macho, yang difoto telanjang dada di atas kuda ala Putin, dan dikenal sebagai "Petinju" setelah meninju seorang anggota parlemen.

Mantan Perdana Menteri Mongolia itu berhasil memenangkan hampir 70 persen suara dalam pemilihan Presiden pada Rabu (9/6), dan dari hasil penghitungan awal menunjukkan kemenangan atas dirinya pada Kamis (10/6). 

Mongolia pada Rabu (9/6) melaksanakan pemilu pilpres, untuk menggantikan pengusaha populis, Battulga Khaltmaa, mantan juara dunia seni bela diri sambo, yang saat ini tidak dapat mencalonkan diri lagi untuk masa jabatan Presiden dua kali berturut-turut menurut UU konstitusional di negara itu.

Pada Kamis (10/6) dini hari, Khurelsukh mengumumkan kemenangan dirinya, setelah mendapatkan hampir 70 persen suara.

"Dari lubuk hati saya, saya berterima kasih kepada sesama warga Mongolia," katanya.

Dan Enkhbat Dangaasuren, saingan utamanya dalam pilpres tersebut, hanya mengumpulkan sekitar seperlima suara dan mengakui kekalahan. 

Pengumuman resmi kemenangan dalam pemilihan umum ini diharapkan pada Kamis sore waktu setempat, menurut kantor berita negara Mongolia.

Khurelsukh dikenal dengan persona macho-nya, lengkap dengan foto dirinya yang berpose tanpa baju dengan senjata berburu yang mirip dengan foto terkenal pemimpin Rusia, Vladimir Putin.

Selain itu, Khurelsukh juga mendapat julukan "Fist", setelah video dia yang meninju seorang anggota parlemen dan menjadi viral pada tahun 2012. Sejak saat itu, Khurelsukh mencoba untuk membersihkan citranya, dan ini adalah kemenangan Presiden pertama dalam 12 tahun untuk Partai Rakyat Mongolia, tetapi jumlah pemilih hanya 59 persen dari sekitar dua juta pemilih yang memenuhi syarat.

Khurelsukh mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri pada Januari 2021 menyusul protes dan kemarahan publik atas perawatan pasien virus corona dan bayinya yang baru lahir.

Mongolia yang terkurung daratan, terjepit di antara China dan Rusia, telah berjuang dengan ketidakstabilan politik sejak negara itu menjadi negara demokrasi. Konstitusi pertamanya disahkan pada tahun 1992, setelah beberapa dekade pemerintahan komunis.

Pesaingnya, Enkhbat, seorang pengusaha Internet yang sebagian besar menarik kaum muda negara itu. Dia kehilangan kesempatan ketika ia dinyatakan positif mengidap virus corona, selama kampanye pemilihan dan dipaksa dikarantina.

Gerelt-Od, dosen senior di Universitas Pendidikan Nasional Mongolia, mengatakan kepada AFP, bahwa jumlah pemilih yang rendah adalah tanda apatis terhadap semua pihak.

Pertikaian di antara partai-partai yang bersaing dan pembatasan Covid-19 juga disalahkan atas lambannya jumlah pemilih.

Mongolia termasuk negara yang cepat dalam menangani wabah dan melakukan tindakan awal yang paling ketat terhadap virus corona dan mencapai keberhasilan awal dalam menjaga angka tetap rendah.
 Namun kasus positif melonjak dalam beberapa bulan terakhir, meskipun ada tingkat vaksinasi yang tinggi. [mt]


Komentar Pembaca