Menarik..Begini Cara Presiden Ketika Memerintah Kapolri

POLKAM  KAMIS, 10 JUNI 2021 | 19:15 WIB

Menarik..Begini Cara Presiden Ketika Memerintah Kapolri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merupakan teman Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjadi Wali Kota Solo dulu. Lalu stelah pindah ke Jakarta ia sempat pula menjadi ajudan Presiden.

Karenanya menjadi hal yang menarik ketika mantan Gubernur DKI Jakarta itu berkomunikasi dengan Kapolri di hadapan publik. Salah satunya komunikasi Presiden Jokowi dan Kapolri Listyo via telepon di hadapan publik terjadi hari ini, Kamis (10/6/2021)

Ya. Hari ini Presiden mendengarkan keluhan para sopir kontainer yang masuk di perbatasan Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta Utara. Awalnya Presiden mengumpulkan belasan sopir kontainer untuk berdialog dengan mereka.

 "Pagi hari ini saya senang bisa bertemu dengan Bapak-Bapak semuanya. Saya mendapatkan keluhan yang saya lihat dari media sosial, terutama driver banyak yang mengeluh karena urusan bongkar muat," ucap Jokowi membuka dialog.

Presiden ingin mendengar langsung keluhan yang mereka alami, terutama soal pungutan liar (pungli).  Jokowi berpandangan bahwa seharusnya para sopir kontainer merasa nyaman saat bekerja, terutama di tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19.

"Driver mestinya merasa nyaman semuanya. Jangan sampai ada yang mengeluh karena banyaknya pungutan. Itu yang mau saya kejar, kalau ada. Silakan," ungkapnya.

Sopir kontainer Agung Kurniawan lantas mengacungkan tangan dan menyampaikan keluh kesahnya. Pria berusia 38 kelahiran Ngawi itu menjelaskan, para sopir kontainer kerap menjadi sasaran tindak premanisme.

"Begitu keadaan macet, itu di depannya ada yang dinaiki mobilnya. Naik ke atas mobil bawa celurit atau nodong begitu. Itu enggak ada yang berani menolong, Pak," kata dia.

Dia mengatakan, para preman mengerumuni dari depan, belakang, dan samping. Meski banyak kendaraan di sekitar, tetapi banyak orang yang tidak berani menolong.

"Itu sangat memprihatinkan. Karena dia takut, kalau posisinya nanti dia membantu, preman-preman itu akan menyerang balik ke dirinya. Maka dia lebih memilih tutup kaca," lanjutnya.

 Peristiwa itu juga dialami oleh rekannya sesama sopir kontainer, Abdul Hakim. Dia menyebut bahwa kemacetan merupakan penyebab para preman bisa leluasa menjalankan aksinya.

"Kalau mungkin lancar, ini mungkin tidak ada, Pak. Jadi ini kendala kami ini kemacetan aslinya, Pak. Jadi kami mohon kepada Bapak Presiden, bagaimana solusi ini ke depannya kami," keluhnya.

Selain soal premanisme, Abdul Hakim juga menceritakan soal banyaknya pungutan liar di sejumlah depo. Depo adalah tempat meletakkan kontainer yang sudah dipakai atau mengambil kontainer yang akan dipakai shipping line.

Menurutnya, para karyawan depo sering meminta imbalan berupa uang tip agar laporannya bisa diproses segera.

"Kalau enggak dikasih kadang diperlambat. Itu memang benar-benar, seperti Fortune, Dwipa, hampir semua depo rata-rata. Itu, Pak. Yang sekarang itu yang saya perhatikan itu yang agak-agak bersih cuma namanya Depo Seacon dan Depo Puninar, agak bersih sedikit. Lainnya hampir rata-rata ada pungli, Pak," beber pria berusia 43 tahun tersebut.

Modus pungli ialah ketika sopir ingin melepas kontainer. Saat itu, petugas menunggu tip sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu. Apabila petugas tidak diberi uang, maka kontainer di truk sopir lambat diproses.

"Jadi begitu kira-kira, Pak, pungli di dalam depo itu," ungkapnya.

Mendengar cerita para sopir kontainer, Presiden lantas memanggil ajudannya Kolonel Pnb Abdul Haris. Rupanya, Jokowi meminta ia menghubungi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui telepon.

"Pak Kapolri, selamat pagi," sapa presiden.

"Siap, selamat pagi, Bapak Presiden," jawab Kapolri di ujung telepon.

"Ini saya di Tanjung Priok, banyak keluhan dari para driver kontainer yang berkaitan dengan pungutan liar di Fortune, di NPCT 1, kemudian di Depo Dwipa. Pertama itu," jelas Presiden.

"Siap," jawab Kapolri.

"Yang kedua, juga kalau pas macet itu banyak driver yang dipalak preman-preman. Keluhan-keluhan ini tolong bisa diselesaikan. Itu saja Kapolri," ujar Presiden.

"Siap, Bapak," jawab Kapolri.

Presiden mengatakan, dirinya sudah menangkap situasi yang ada dan apa yang diinginkan oleh para sopir kontainer. Ia menegaskan bahwa dirinya akan terus mengikuti proses ini sehingga keluhan-keluhan yang disampaikan bisa diselesaikan.

"Kalau keluhan-keluhan seperti itu tidak diselesaikan, sudah pendapatannya sedikit, masih kena preman, masih kena pungli, itu yang saya baca di status-status di media sosial. Keluhan-keluhan seperti itu memang harus kami selesaikan dan diperhatikan," tegas Presiden.[ros]


Komentar Pembaca