Larangan Mudik, Jumlah Penumpang Bandara Soetta Turun Drastis Sampai 90 Persen

EKONOMI  RABU, 12 MEI 2021 | 07:15 WIB

Larangan Mudik, Jumlah Penumpang Bandara Soetta Turun Drastis Sampai 90 Persen

Penumpang Bandara Soetta/Net

Penerapan kebijakan larangan mudik oleh Pemerintah Pusat menyebabkan jumlah penumpang di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) menurun drastis hingga 90 persen.

Menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, jumlah penumpang di Bandara Soetta saat ini kurang dari 10 ribu orang setiap harinya, padahal pekan sebelumnya bisa mencapai 50 ribu hingga 70 ribu penumpang per hari.

"Sekarang ini rata-rata setiap harinya ada 7.000-8.000 penumpang yang bergerak. Penurunannya kurang lebih 90 persen," ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa (11/5/2021).

Namun, ia memastikan pelayanan di Bandara Soetta tetap berjalan pada masa larangan mudik. Layanan tersebut hanya ditujukan bagi kegiatan penerbangan yang dikecualikan dari larangan mudik.

Ia juga mengimbau semua petugas di Bandara Soetta mengantisipasi potensi kenaikan jumlah penumpang pada arus balik yang diprediksi terjadi pada Minggu (16/5) atau Senin (17/5). Semua petugas harus menjaga penerapan protokol kesehatan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan.

Semua ketentuan itu harus berlaku pada penumpang yang akan berangkat maupun yang akan datang, termasuk penumpang yang harus menjalani karantina.

"Jumlah ketersediaan ruang karantina harus dipastikan tersedia," tuturnya.

Untuk mendukung larangan mudik, ia menyampaikan bahwa pihaknya telah meniadakan sementara penerbangan carter (sewa) dari luar negeri sampai dengan 17 Mei 2021. Ketentuan ini akan dievaluasi sebelum dibuka kembali.

Penurunan penumpang juga terjadi pada angkutan laut. Namun, angkutan logistik lewat program tol laut justru meningkat hingga 70 persen selama satu bulan terakhir.

"Tidak hanya angkutan tol laut menuju Indonesia timur saja yang mengalami kenaikan, tingkat keterisian angkutan balik dari Indonesia timur menuju Indonesia barat yang selama ini belum optimal, mengalami kenaikan hingga 30 persen," katanya.

Selain angkutan logistik di wilayah Indonesia, angkutan logistik laut internasional juga bertambah. Ia menuturkan angkutan logistik laut internasional naik 6 persen dibandingkan awal 2020 atau sebelum pandemi covid-19.

"Kami tahu bahwa angkutan logistik ini sangat penting untuk memberikan suatu ruang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih baik," katanya.[tyo]


Komentar Pembaca