Sambangi DMI Jaksel, HNW: Ramadhan Buktikan Islam Ajarkan Moderasi Bukan Radikalisme

POLKAM  SENIN, 03 MEI 2021 | 23:10 WIB | Sugiharta Yunanto

Sambangi DMI Jaksel, HNW: Ramadhan Buktikan Islam Ajarkan Moderasi Bukan Radikalisme

Hidayat Nur Wahid/Net

Anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menuturkan fakta bahwa selama satu bulan Ramadhan Umat diajarkan untuk praktekkan ibadah murni dan kegiatan ibadah sosial baik oleh umat Islam di Indonesia, maupun juga di seluruh dunia, semakin menunjukan bahwa agama Islam mengajarkan moderasi dan toleransi, bukan ajaran radikalisme atau ekstremisme yang selama ini dituduhkan para penganut Islamophobia.

“Kegiatan sosial yang dilakukan sebagai bagian ibadah di bulan Ramadhan mengkoreksi pandangan para Islamophobia bahwa Islam itu anti-sosial, tidak bisa membaur, kerap mengkafirkan dan membidahkan. Kegiatan sosial umat Islam ditingkat Nasional bahkan secara kolosal di tingkat dunia justru telah menunjukkan wajah Islam sesungguhnya, yakni inklusif, bisa bergerak bersama dengan yang lain, hadirkan beragama yang membantu dan menghormati orang lain dan mencintai kebersamaan,” ujar HNW pria ini akrab disapa, dalam keterangannyan, Senin (3/5/2021).

HNW menyampaikan ini saat tausyiah Ramadhan dalam kegiatan reses DPR dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta Selatan dan DPC PKS Kebayoran Lama di Jakarta Selatan, Minggu (2/5).

HNW mengatakan bahwa selama ini agama Islam kerap menjadi sasaran serangan Islamophobia yang menuduh bahwa Islam itu radikal, ekstrem, teroris, eksklusif, intoleran dan lain sebagainya, dengan hanya melihat segelintir orang yang mengaku beragama Islam dan melakukan tindakan yang tercela. “Seharusnya yang dilihat bukan perilaku segelintir orang yang tidak mencerminkan ajaran Islam itu, tetapi justru mayoritas umat Islam di dunia yang selalu berupaya berkontribusi kepada masyarakat,” tukasnya. 

Lebih lanjut, Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menuturkan bahwa ajaran Islam di bulan Ramadhan ini yang paling utama adalah berpuasa yaitu internalisasi nilai dan ideologi saling menjaga serta mengalahkan emosi, ego, dan hawa nafsu. “Implementasi ini dalam konteks ibadah selama bulan Ramadhan, sudah dilakukan bukan hanya dalam tataran personal, tetapi juga ditunjukan dalam berbagai kegiatan sosial yang berskala nasional bahkan internasional”ujarnya.  

HNW mencontohkan selain berpuasa, selama Ramadhan juga ada kegiatan zakat yang mengajarkan saling peduli dan saling membantu kepada para rakyat miskin (dhuafa), takjil (hidangan buka puasa) di jalan yang mengajarkan tentang guyub dan rukunnya sesama warga, hingga tarawih-tarawih di masjid yang tidak lagi memiliki sekat-sekat di kalangan umat. 

“Dengan pelaksanaan prokes Covid-19 yang ketat, masjid-masjid menyelenggarakan ibadah tarawih secara terbuka dan toleran, dimana yang datang sebagai jamaah adalah umat dari berlatar belakang Ormas atau Madzhab apapun. Ada yang sholat tarawih dan witir 23 rakaat dan ada yang 11 rakaat. Mereka tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Watoniyah,” jelasnya.  

Menurut HNW, praktek beragama seperti ini merupakan tradisi yang telah dicontohkan oleh para founding parents bangsa Indonesia sejak dulu. Dalam konteks sejarah, setidaknya ada banyak ajaran Islam dan peristiwa penting di dalam Islam yang melekat dalam sejarah bangsa Indonesia. “Karena proklamasi Kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia itu ternyata juga dikumandangkan pada tgl 9 Ramadhan 1364 Hijriah”tuturnya. 

“Itu penting dimaknai bahwa dengan Ramadhan, maka umat Islam dan bangsa Indonesia diingatkan peran mensejarah dan konstruktif Umat Islam dalam menghadirkan dan menjaga Indonesia Merdeka, agar generasi sekarang tidak buta sejarah, dan terjebak pada Islamophobia maupun Indonesiaphobia. Tetapi Umat myour mterus istiqamah lanjutkan peran mensejarah tersebut untuk ikut menjaga dan memajukan NKRI,” tambahnya. 

HNW menegaskan bahwa pengalaman ibadah dan kegiatan sosial selama sebulan di bulan Ramadhan ini seharusnya bisa menunjukan bahwa Islam benar2 agama praksis yang Rahmatan lil Alamin (rahmat untuk seluruh alam), sehingga dapat menjadi bekal untuk memajukan kehidupan Umat dan  bangsa di bulan-bulan berikutnya, sehingga bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun depan.

“Itu akan semakin bisa dilaksanakan dengan kerja sama yang baik antara seluruh komponen umat dan bangsa, baik yang di Organisasi Kemasyarakat Islam dan Organisasi Politik Islam maupun yang ada di parlemen,” jelasnya. 

Sementara itu, Ketua DMI Jaksel Drs. Edy KS menyambut positif pandangan dan tausyiah yang disampaikan oleh HNW. Ia mengapresiasi dukungan HNW terhadap DMI dan kegiatan-kegiatan kemasjidan, dan berharap agar dukungan tersebut bisa terus berlanjut.[tyo]


Komentar Pembaca