Begini, Rasulullah SAW Mengisi Malam-malam Ramadhan

Kajian  SENIN, 19 APRIL 2021 | 23:00 WIB

Begini, Rasulullah SAW Mengisi Malam-malam Ramadhan

Allah SWT menciptakan malam sebagai waktu beristirahat bagi manusia dan menciptakan untuk mencari penghidupan. Meskipun demikian, Allah SWT menempatkan waktu-waktu khusus yang memiliki nilai istimewa di malam hari. Karena itu waktu-waktu ini harus dimanfaatkan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dinukil dari laman Bincangsyariah.com, Senin (19/4/2021), bahwa Allah SWT berfirman yang artinya: Dan pada sebahagian malam bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan-Mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS. Al-Isra: 79).

Sebagai hamba terbaik Allah SWT, Nabi Muhammad SAW senantiasa mengisi malam-malam harinya dengan ibadah-ibadah sunnah sebagai bentuk rasa syukur beliau.

Dalam satu riwayat diceritakan: dari al-mughirah bin Syu’bah, bahwasannya Rasulullah saw melaksanakan salat malam hingga bengkan kedua kakinya, salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah, untuk apa semua ini? Bukankah, Allah Swt telah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Rasulullah saw pun menjawab: “tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah Yang Bersyukur”. (Muttafaq Alaih)

Dari riwayat tersebut kita mengetahui bahwasannya Rasulullah SAW senantiasa mengisi malam-malamnya dengan ibadah sunnah sebagai rasa syukur kepada Alllah SWT, tidak terkecuali pada malam-malam Ramadhan.  Bahkan lebih dari itu, pada malam-malam Ramadhan Rasulullah SAW menambah intensitas ibadah sebagai bentuk penghambaan seutuhnya kepada Allah SWT.

Dalam sebuah riwayat, Abdullah bin Abbas RA mendeskripsikan bahwasannya Rasulullah SAW pada tiap-tiap malam Ramadhan, senantiasa didatangi malaikat Jibril AS, untuk mendaras “mempelajari” Al Quran.

Sebagaimana diriwayatkan:Dari sahabat Abdullah bin Abbas, bahwasannya Rasulullah saw adalah orang yang paling baik, dan kebaikannya menjadi-jadi ketika masuk bulan Ramadan ketika Malaikat Jibril menemuinya setiap malam Ramadan untuk mendaras Alquran kepada Nabi SAW… (HR. Al-Bukhari)

Selain intensitas mempelajari Alquran yang senantiasa beliau lakukan bersama Jibril as di malam-malam Ramadan, beliau juga senantiasa menghidupkan malam-malam Ramadannya dengan salat-salat sunnah.

Aisyah RA meriwayatkan: dari sayyidah Aisyah ra, bahwasannya pada bulan Ramadan, Rasulullah saw keluar pada malam hari, dan melaksanakan salat “sunnah” di masjid, dan beberapa sahabat ikut salat bersamanya, lalu mereka saling menyampaikan kepada yang lain, hingga bertambahlah jumlah mereka, kemudian mereka salat bersama Rasullah saw, dan pada pagi harinya tersebarlah kabar tentang salat yang mereka laksanakan bersama Rasulullah saw, hingga pada hari ketiga jumlah para sahabat yang ikut melaksanakan salat “sunnah” bersama Rasulullah saw bertambah banyak…, lalu, pada malam keempat, Rasulullah saw tidak hadir ke masjid, hingga beliau keluar untuk salat subuh, dan ketika selesai melaksanakan salat subuh, Rasulullah saw menghadap kepada para sahabat, lalu beliau membaca syahadat, dan berkata: “sungguh aku mengetahui antusias kalian, namun aku khawatir salat sunnah ini akan diwajibkan kepada kalian sehingga akan membebani kalian” (Muttafaq Alaih)

Lebih lanjut, pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, Rasulullah SAW mengisinya dengan itikaf dan ibadah-ibadah sunnah lainnya, sebagai manifestasi pendekatan diri kepada Allah Swt, dalam rangka menyambut malam lailatul qadar yang penuh dengan keberkahan.

 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar: bahwasannya Rasulullah saw senantiasa beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Berdasarkan keterangan di atas, kita dapat mengetahui bahwasannya Rasulullah SAW senantiasa mengisi malam-malam bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah sunnah. Di antaranya, “mendaras” (mempelajari) Al Quran dengan Malaikat Jibril AS; Melaksanakan salat malam; serta beritikaf di sepuluh malam terakhir.

Ibadah-ibadah tersebut merupakan bentuk penghambaan beliau hamba yang bersyukur kepada Allah SWT, serta merupakan contoh terbaik yang bisa diteladani oleh umat beliau. Wallahu ‘Alam bis Shawab.[ros]


Komentar Pembaca