India Makin Mengkhawatirkan, Rumah Sakit Kehabisan Tempat Tidur dan Oksigen untuk Pasien COVID-19

Internasional  SENIN, 19 APRIL 2021 | 00:05 WIB

India Makin Mengkhawatirkan, Rumah Sakit Kehabisan Tempat Tidur dan Oksigen untuk Pasien COVID-19

foto/net

Lonjakan kasus COVID-19 di India kini makin mengkhawatirkan, terutama di ibu kota, New Delhi, tercatat lebih dari 25 ribu kasus dalam waktu 24 jam terakhir, menurut data resmi.

Situasi di New Delhi, yang berpenduduk lebih dari 20 juta orang, memaksa Kepala Menteri, Arvind Kejriwal menulis surat kepada pemerintah federal untuk meminta lebih banyak tempat tidur untuk beberapa rumah sakit di New Delhi. 

Beberapa fasilitas perawatan kesehatan mengatakan, mereka tidak dapat lagi menampung pasien, sehingga menyebabkan meningkatnya kasus meninggal karena kurangnya ruang, tabung oksigen, dan obat-obatan.

"Situasi di Delhi sangat suram," tulis Kejriwal yang ditujukan kepada Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Kejriwal meminta PM Modi untuk "mengalokasikan 7.000 tempat tidur dari 10.000 di rumah sakit yang dikelola pemerintah federal di Delhi" untuk pasien COVID-19 demi mengatasi krisis.

"Ada kelangkaan oksigen yang parah di Delhi, dan itu harus segera disuplai," tambah Kejriwal.

Pada Minggu (18/4), India mencatat rekor baru untuk kasus positif sebanyak  261.500 kasus, sehingga total kasus positif secara Nasional menjadi hampir 14,8 juta.

Lebih dari 1.500 orang meninggal karena virus corona pada Minggu (18/4) dalam satu hari saja, yang menjadi rekor juga untuk negara berpenduduk 1,39 Miliar itu, sehingga menjadikan jumlah Nasional yang meninggal menjadi 177.168 kasus.

Beberapa penduduk di New Delhi mengatakan, bahwa sebagian besar rumah sakit swasta dan pemerintah kehabisan tempat tidur dengan banyak pasien yang sangat ingin dirawat di rumah sakit.

"Sejak kemarin malam, saya telah mencoba mengantar saudara perempuan saya untuk bisa dirawat di rumah sakit, tetapi tujuh atau delapan rumah sakit yang saya datangi menolak menerima dengan alasan tak ada tempat tidur lagi," ujar Tabish Jamal, seorang penduduk Delhi, seperti dikutip dari ArabNews, Minggu (18/4).

"Tingkat oksigen saudara perempuan saya menurun, dan dia membutuhkan penanganan medis segera, tapi ini benar-benar menyedihkan. Kami sangat tidak berdaya," katanya, sambil menambahkan bahwa akhirnya sebuah panti jompo kecil dengan fasilitas apa adanya telah menerima saudara perempuannya.

Lucknow, ibu kota negara bagian timur Uttar Pradesh, juga menghadapi hal yang sama, media melaporkan bahwa orang-orang menunggu dalam gerombolan untuk dirawat di rumah sakit. Setidaknya 50 orang terlihat mengantri di luar Universitas Kedokteran King George, fasilitas utama kota itu.

Ini benar-benar sebuah keadaan yang suram di kota dan sekitar Lucknow, Kulsum Mustafa, seorang jurnalis senior di Lucknow, mengatakan pada Minggu.

Dia menuduh pemerintah telah menyembunyikan angka persisnya dan tidak menunjukkan kondisi yang sebenarnya.

"Faktanya tidak hanya kekurangan tempat tidur dan oksigen, tapi fasilitas untuk melakukan tes juga sangat minim," tambah Mustafa.

Negara bagian terpadat di India, Uttar Pradesh melaporkan hampir 27.550 kasus pada Minggu ini, hingga menjadikannya daerah yang terkena dampak terburuk kedua, setelah negara bagian barat Maharashtra, yang mencatat lebih dari 67.000 pasien dalam waktu 24 jam terakhir.

Sementara itu, di negara bagian barat Gujarat, yang merupakan negara bagian asal PM Modi, para pejabat melaporkan adegan "kekacauan di sebagian besar rumah sakit" di ibu kota Ahmedabad.

"Kota Ahmedabad, seperti tempat lain di India, menghadapi kekurangan oksigen, tempat tidur rumah sakit dan obat-obatan penting seperti Remdesivir," kata Dr. Mona Desai, kepala Asosiasi Medis Ahmedabad, Minggu (18/4).

"Dengan varian baru virus corona, tingkat oksigen mulai turun dalam waktu dekat, dan negara tidak siap untuk memasok oksigen ke semua. Intervensi oksigen yang tepat waktu itu penting; kalau tidak, organ vital akan gagal," tambahnya.

Pada hari Minggu (18/4), Gujarat mencatat hampir 10.000 kasus, yang menurut Desai "bukan angka sebenarnya."

"Korban tewas kali ini tinggi, tapi data pemerintah tidak menunjukkan itu. Saya tidak tahu mengapa mereka menyembunyikan datanya," ujar Dr Desai. 

Menteri Kesehatan India, Harsh Vardhan mengatakan, bahwa produksi oksigen telah digandakan.

"Produksi oksigen dialihkan dari penggunaan industri ke medis. Pusat tersebut menyediakan ventilator tambahan untuk negara bagian," katanya dalam konferensi pers pada Minggu (18/4).

Dia mengatakan bahwa Maharashtra, dengan Mumbai sebagai ibukotanya, akan mendapatkan 1.121 ventilator, Uttar Pradesh 1.700, Jharkhand 1.500, Gujarat 1.600, Madhya Pradesh 152, dan Chhattisgarh 230.

Namun, para ahli dan praktisi medis mempertanyakan "keseriusan pemerintah" dalam memerangi pandemi. 

"Ini sudah lebih dari satu tahun, dan pemerintah belum siap menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh virus corona," kata Mustafa, menambahkan sebelum mempertanyakan, alasan diizinkannya acara festival Hindu 'Kumbh' digelar tahun ini.

'Kumbh Mela' adalah festival selama sebulan yang berlangsung setiap 12 tahun, dengan penyelenggara mengharapkan langkah kaki 150 juta umat Hindu,  setara dengan populasi Rusia untuk berkumpul di negara bagian utara Uttarakhand, untuk melakukan ritual berenang di air suci di empat situs khusus tahun ini. 

Sejauh ini, 5 juta orang telah mengunjungi situs suci tersebut sejak festival dimulai pada 1 April. [mt]


Komentar Pembaca