Kaiji Wada, Mualaf Jepang yang Menikahi Wanita Indonesia

INSPIRASI ISLAM  SABTU, 17 APRIL 2021 | 15:10 WIB

Kaiji Wada, Mualaf Jepang yang Menikahi Wanita Indonesia

Kaiji Wada, pemuda Jepang, mengikuti Program Pertukaran Pelajar di Brunei pada 2015. Tak dinyana, momen itu telah mengubah jalan hidupnya. Kini dia menjadi pemeluk Islam yang  sangat taat.

Dikutip dari BBC, Sabtu (17/4/2021), Kaiji waktu di Brunei itu baru tahu seperti apa sebenarnya para pemeluk Islam. Sebelum itu, yang ia dengar tentang Islam adalah berbagai berita miring terkait pemberitaan di media, khususnya soal serangan oleh kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS di Timur Tengah.

Ajang pertukaran pelajar ini merupakan pertemuan dan komunikasi pertamanya dengan warga Muslim dan dunia Islam. Sekembalinya dari pertukaran pelajar, pemuda itu - Kaiji Wada - mulai bertemu dengan banyak Muslim lain dan belajar banyak tentang agama.

Ia mengatakan menemukan sesuatu yang istimewa, pengalaman spiritual yang membantunya mengetahui tujuan hidup sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk Islam pada 2017.

"Tahun ini adalah Ramadhan keempat ... sebagai Muslim Jepang, saya merasa bangga sama agama saya ... lewat ibadah, identitas saya sebagai Muslim menjadi lebih kuat," kata Kaiji.

Ia juga sudah sempat melaksanakan ibadah umrah sebelum Pandemi Covid-19. "Siapa yang bisa membayangkan pria sekuler seperti saya bisa berdiri di depan rumah Allah."

"Pikiran saya berubah. Setelah kembali (ke Jepang), saya sering ketemu orang Malaysia, Indonesia, Brunei. Mereka tenang, mereka baik. Saya terinpirasi dengan pengalaman itu, karena itu saya tertarik pada Islam dan ingin tahu apa yang dipelajari dalam Islam," cerita Kaiji.

Untuk sampai ke keputusan memeluk Islam, tantangan yang ia hadapi tak hanya datang dari lingkungan. Keluarganya sendiri juga menentangnya, karena mereka tak bisa memahami mengapa ia memerlukan agama.

"Awalnya ibu saya tak suka agama, bukan hanya Islam tapi semua agama. Saya pikir karena ibu tak ada pengalaman berkomunikasi langsung dengan orang Islam, hanya informasi dari media. Kalau ketemu langsung, mereka tidak bahaya," tambahnya.

Sejauh ini, cerita Kaiji lagi, sang ibu, "Belum nyaman dengan agama saya, tapi ia mendukung keputusan saya, karena saya anak dia. Alhamdulilah, dia sering kirim makanan halal untuk saya."

Jumlah Muslim yang tinggal di Jepang saat ini, walaupun kecil, meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dari 110.000 pada 2010 menjadi 230.000 pada akhir 2019, termasuk sekitar 50.000 orang Jepang yang masuk Islam, menurut Tanada Hirofumi dari Universitas Waseda.

Bertambahnya Muslim di Jepang seiring dengan meningkatnya jumlah pelajar dan pekerja ke negeri Sakura itu, menurut Tanada seperti dikutip surat kabar Mainichi. Menurut penelitian Tanada saat ini di seluruh Jepang terdapat musala dan masjid kecil sekitar 100.

"Tantangan saya adalah harus cari tempat salat karena sedikit masjid dan juga cari makanan halal," kata Kaiji yang bekerja sebagai CEO Career Diversity, perusahaan konsultan perekrutan tenaga kerja di Tokyo.

'Saya cuma cowok biasa Jepang yang dulu sekuler, tak beragama...dan sekarang punya tujuan hidup," kata dia.

Kaiji mengatakan ia belajar agama melalui pengajian online para ustaz Jepang, selain juga melalui berbagai pertemuan "komunitas orang Indonesia di Jepang dan komunitas mualaf."

Ia menggambarkan kehidupannya lebih tenang dalam lebih tiga tahun terakhir, jauh berbeda dibandingkan sebelum 2017, masa yang disebutnya seperti orang yang "tak punya tujuan hidup".

"Biasanya di masyarakat Jepang, mereka sering tersesat, atau bingung [dalam menetapkan] apa yang penting dalam kehidupan mereka, apa yang benar dan tidak benar. Jadi mereka hidup untuk bekerja sampai bunuh diri, disebabkan kecapekan," ceritanya lagi.

"Setelah masuk Islam semua tujuan dan jawaban tertulis di Quran. Sekarang tujuan kehidupan saya sudah jelas, alhmamdulilah. Saya termotivasi untuk kehidupan saya sendiri," kata Kaiji yang juga bekerja sebagai humas di organisasi Olive, Young Muslim Community, komunitas Muslim untuk anak muda di Jepang.

Angka bunuh diri di Jepang termasuk yang paling tinggi di dunia. Persoalan keluarga, perundungan hingga kekhawatiran terhadap masa depan diduga menjadi faktor penyebab yang melatari kenaikan angka bunuh diri pada anak-anak muda Jepang.

 Di antara pengalaman spiritual yang "tak akan saya lupakan", kata Kaiji, adalah ketika ia umrah bersama para mualaf dari negara-negara lain di penghujung 2019.

"Saat saya lihat Kabah, saya [berpikir] saya cuma cowok Jepang biasa yang dulu sekuler, tak beragama. Kehidupan saya saat itu sangat jauh dari ajaran Islam. Siapa yang bisa bayangkan orang seperti saya berdiri di depan rumah Allah SWT, tak ada yang bisa mengatur kecuali Allah SWT. Satu hal yang tak akan saya lupakan," tambahnya.

Ketika ditanya rencana Idul Fitri, ia mengatakan bahwa kalau orang Indonesia pulang kampung merayakan Lebaran. Tapi dia tak pulang kampung. Karena dalam keluargaya tak ada yang Islam selain dirinya.

Ia bertemu dengan teman-teman termasuk dari Indonesia saat Idul Fitri lalu. Tahun ini juga dia akan kembali kumpul-kumpul dengan saudara-saudara Muslim di masjid.

Namun karena pandemi, berbagai kegiatan di masjid seperti buka puasa dibatasi berdasarkan peraturan masjid masing-masing. Bertemu dengan berbagai komunitas, membantu mendalami agama, kata Kaiji.

"Saya akan merayakan [Idul Fitri] dengan istri saya, insya Allah," kata Kaiji yang menikah dengan perempuan Indonesia Yusanne Pitaloka.

Yusanne sendri mengatakan, "Kaiji taat dalam beribadah dan mencoba menjalankan sesuai syariat."

Dan menyangkut rencana ke depan, kata Kaiji, ia merasa "bertanggung jawab untuk menyebarkan kebaikan Islam untuk komunitas Jepang."[ros]


Komentar Pembaca