Polarisasi Ideologi dan Pragmatis Parpol Sebabkan Akar Radikalisme di Indonesia Sulit Dicabut

POLKAM  SELASA, 06 APRIL 2021 | 04:15 WIB

Polarisasi Ideologi dan Pragmatis Parpol Sebabkan Akar Radikalisme di Indonesia Sulit Dicabut

Polarisasi ideologi dan sikap pragmatis partai politik di parlemen membuat akar radikalisasi di Indonesia sulit untuk dicabut sehingga aksi teror terus berulang sebagaimana terjadi di Makassar dan Mabes Polri Jakarta baru-baru ini.

Hal itu dikemukakan oleh Anggota MPR Agun Gunandjar Sudarsa dalam diskusi bertajuk Penanaman Nilai-nilai Kebangsaan untuk Menangkal Radikalisasi bagi Generasi Muda yang dilaksanakan oleh MPR dan KWP di Media Center DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (5/4/2021).

Menurut Agun, polarisasi ideologi secara nasional itu tidak terlepas dari pengaruh dan kepentingan global. Padahal secara jelas Indonesia memiliki ideologi Pancasila yang sudah disepakati bersama oleh para pendiri bangsa.

Akan tetapi dalam pembuatan kebijakan di parlemen, jelas dia, partai politik nasional masih saling tarik-menarik kepentingan di luar ideologi Pancasila.

“Radikalisasi ini terjadi karena adanya polarisasi ideologi karena kepentingan global yang menginginkan pemahaman ideologi yang sama. Hal ini muncul di parlemen sehingga hampir semua kebijakan terjadi tarik-menarik ideologi," jelasnya.

Politisi Partai Golkar itu menyanyangkan adanya klaim sebagai pihak yang menyebut diri paling Pancasilais sehingga kelompok lain bukan Pancasilais. Akibatnya, ada kelompok yang merasa tidak nyaman sehingga bisa saja memicu radikalisasi dengan ideologi yang diyakini mereka.

“Segera akhiri polarisasi ini sehingga kita tidak lagi diramaikan dengan soal ideologi,” demikian Agun.[tyo]


Komentar Pembaca