Opini

Luasnya Makna Sedekah

Opini  SABTU, 03 APRIL 2021 | 00:00 WIB

Luasnya Makna Sedekah

foto/net

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW mengingatkan jangan membiarkan satu hari berlalu tanpa sedekah. 

"Tiap-tiap jiwa keturunan Adam tanpa kecuali harus bersedekah setiap hari di mana Matahari terbit di dalamnya."

Salah seorang sahabat yang merasa tidak memiliki kelebihan harta untuk disedekahkan bertanya; Bagi orang seperti kami bagaimana bisa bersedekah, wahai Rasulullah?

Nabi menjelaskan; "Sesungguhnya pintu kebajikan itu banyak. Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil dengan khidmat dan khusu', merupakan sedekah. Mengajak orang kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar merupakan sedekah. Menyingkirkan batu dari jalan untuk memudahkan orang lewat, merupakan sedekah. Menuntun orang buta menyeberang jalan, merupakan sedekah. Memberi petunjuk kepada orang yang bertanya kepadamu, merupakan sedekah. Membantu orang-orang yang lemah dengan kekuatan dua betismu dan dua lenganmu, adalah sedekah. Bahkan senyumanmu ketika berhadapan dengan saudaramu, juga merupakan  sedekah." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas memberi pemahaman bahwa sedekah memiliki makna yang luas. Setiap orang dapat melakukannya. Sedekah tidak dibatasi dalam bentuk materi yang hanya orang-orang mampu dan kaya bisa melakukannya. 

Ucapan yang menyejukkan hati atau senyum simpatik kepada orang lain juga merupakan sedekah. Tidak dipersoalkan sedekah itu banyak atau sedikit, berupa materi atau bukan, tapi yang penting ialah hasrat dan niat suci untuk mengukir jasa baik sepanjang hidup.

Sedekah mengisyaratkan betapa luasnya lapangan amal kebajikan bagi seorang Muslim. Setiap orang dapat berpartisipasi. Sedekah berfungsi merekat hubungan antar-manusia berlandaskan rasa empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Memberi adalah sumber kebahagiaan. Seorang Muslim merasa bahagia jika dapat membahagiakan orang lain di sekitarnya.

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi SAW, "Siapakah manusia yang paling baik?" Nabi menjawab, "Orang yang memberi manfaat kepada orang lain." 

Sahabat itu bertanya lagi, "Amal apa yang paling utama?" Dijawab,  "Memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman." (H.R. Thabrani)

Sejarah mengabadikan khutbah pertama Nabi Muhammad SAW di Madinah, setelah hijrah dari Makkah, dalam kesempatan shalat Jumat pertama di tahun pertama Hijriyah, mengemukakan keutamaan sedekah. 

"Maka siapa yang mampu memelihara dirinya dari (siksa) neraka, meskipun dengan hanya sepotong korma, maka lakukanlah itu. Dan siapa yang tidak memperoleh (suatu apa pun), maka dengan ucapan kata-kata yang baik. Sesungguhnya segala kebajikan akan diberi ganjaran sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat."

Dalam sebuah hadits dijelaskan, jenis amal jariyah yang terkait secara langsung dengan kebutuhan dan kemaslahatan umum. 

"Sesungguhnya amal shaleh yang akan menyusul seorang Mukmin setelah dia meninggal dunia kelak, ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak shaleh yang dia tinggalkan, Mushaf Quran yang dia wariskan, Masjid yang dia bangun, rumah tempat singgah Musafir yang dia dirikan, sungai (irigasi) yang dia alirkan, dan sedekah yang dia keluarkan di kala sehat dan masih hidup. Semua itu akan menyusul ketika seseorang meninggal dunia kelak."  (H.R. Ibnu Majah dan Baihaqi).

Semua amal jariyah yang memberi manfaat kepada sesama, akan tetap mendatangkan pahala bagi pelakunya, meski telah meninggalkan alam dunia. Sebagian besar amal jariyah selalu berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemanusiaan. 

Spirit sedekah perlu diamplifikasi untuk menangkal sikap mementingkan diri sendiri, kesenjangan sosial dan pengagungan materi yang merusak keharmonisan kehidupan dalam masyarakat.

Salah seorang ulama, Bisyr al-Hafi dalam kutipan Dr. Syekh Yusuf Al-Qaradhawi pada Fiqih Prioritas menuturkan, Kalau kaum Muslimin mau memahami, memiliki keimanan yang benar, dan mengetahui makna fiqih prioritas, maka dia akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat, setiap kali dia dapat mengalihkan dana ibadah haji (bagi yang telah pernah menunaikan haji yang wajib) untuk memelihara anak-anak yatim, memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi tempat perlindungan kaum yang terlantar, mengobati orang sakit, mendidik orang-orang yang tidak berilmu, atau memberi kesempatan bekerja kepada mereka yang menganggur.

Setiap Muslim, dalam spirit taat kepada Allah dan peduli kepada sesama, dianjurkan senantiasa menanam kebajikan dengan berbuat baik bagi kepentingan sesama sebagai sarana yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Ali Syariati, pemikir Muslim asal Iran mengatakan, Seorang yang shaleh tak akan dibiarkan sendiri oleh kehidupan. Kehidupan akan menggerakkannya dan zaman akan mencatat amal baiknya. Wallahu alam bisshawab.**


Oleh:
M. Fuad Nasar (Seditjen Bimas Islam)



Komentar Pembaca