Pepesan Kosong Moeldoko Tentang Pergeseran Ideologi di Partai Demokrat

Opini  SENIN, 29 MARET 2021 | 17:55 WIB | Suluh Apriyanto

Pepesan Kosong Moeldoko Tentang Pergeseran Ideologi di Partai Demokrat

foto/net

MERESPON pernyataan Moeldoko tentang adanya pergeseran ideologi di Partai Demokrat, lagi-lagi menjadi pepesan kosong. Pernyataan ini justru bisa menimbulkan tanda tanya besar bagi publik. 

Moeldoko ini mahluk dari planet mana? Hanya karena ambisi dan syahwat politik yang tak terbendung hingga kembali membangun fitnah, namun naif. 

Selama 10 tahun SBY menjadi Presiden yang menempatkan Partai Demokrat sebagai the ruling party, tak pernah sekalipun ada perbenturan atau isu ideologi yang mengemuka apalagi sampai memecah-belah anak bangsa. 

Ideologi Partai Demokrat adalah Nasionalis Religius yang memperhatikan aspek Nasionalisme, Humanisme dan Pluralisme yang bertujuan mewujudkan perdamaian, demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Berasaskan Pancasila dan bersifat terbuka (inklusif) tanpa membedakan suku, agama, ras, profesi, jenis kelamin, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Itulah DNA Partai Demokrat. 

Doktrin Partai Demokrat yaitu Tri Pakca Gatra Praja yang mengandung arti adanya tiga kehendak kuat yang mewujud dalam trilogi perjuangan partai yaitu demokrasi, kesejahteraan dan keamanan. Inilah yang menjadi DNA politik Partai Demokrat.

Moeldoko mencoba cara-cara kotor yang menggunakan buzzer untuk menyerang Partai Demokrat dengan isue ideologi. Penggiringan ini dilakukan secara sistematis namun terbaca dengan jelas, karena mereka memilih sasaran yang salah. 

Model serupa mungkin efektif pada operasi terhadap ormas keagamaan yang rentan dan sensitif dengan isue ideologi, tapi tak relevan dan anakronis untuk diterapkan pada Partai Demokrat. 
Ada justifikasi yang kuat secara historis dan empiris yang membuat tuduhan ini hanya mungkin dilakukan oleh orang tolol terhadap Partai Demokrat.

Moeldoko tak mencermati komposisi pada kepengurusan DPP Partai Demokrat, termasuk pimpinan-pimpinan partai di daerah. Sangat beragam, mengakomodir semua elemen bangsa. Keberagaman agama, etnis, profesi, jenis kelamin, suku, dan sebagainya. 

Dalam kepengurusan di belakang Mas Ketum AHY banyak perwira-perwira menengah yang hijrah dari jalan pengabdian TNI ke jalan pengabdian politik, karena kecintaan kepada NKRI yang sifat kesatria dan keperwiraannya masih terjaga, belum terkontaminasi kepentingan praktis seperti Moeldoko. 

Banyak pula aktivis-aktivis dari beragam Organisasi Pemuda, Kelompok Cipayung plus yang merupakan kader-kader bangsa yang telah teruji rekam jejaknya dalam memperjuangkan, mengawal, dan menjaga demokrasi di negara kita tercinta. 

Karenanya, tuduhan ini memberi alasan yang cukup untuk menduga Moeldoko terkena kutukan kedunguan akibat syahwat kekuasaan yang tak terkendali.

Lebih parahnya lagi, isu ideologi ini disampaikan Moeldoko di saat negara kita sedang terluka dan berduka akibat teror bom bunuh diri di Makassar. Moeldoko sama sekali tak punya hati. 

Sebagai pejabat negara, ini sungguh keterlaluan. Malah mencoba mengeksploitasi peristiwa bom bunuh diri ini dengan penggiringan isu ideologi yang dilakukan para buzzer binaan kakak pembina.[***]

Oleh: Kamhar Lakumani
Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat

 


Komentar Pembaca