Kuil Karni Mata, Semua Suci Termasuk Makanan Bekas Tikus

Wisata  MINGGU, 07 MARET 2021 | 10:10 WIB

Kuil Karni Mata, Semua Suci Termasuk Makanan Bekas Tikus

INDIA sebuah negara dengan besar dengan jumlah penduduk 1,39 miliar jiwa memiliki keragamanan luar biasa. Semua sangat beragam mulai dari segi sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, pendidikan hingga iklim dan musim. Negeri yang penuh pesona dengan berbagai eksotisme, sehingga mampu mendatangkan banyak wisatawan.

Salah satu destinasi wisata sangat eksotis terdapat di Kota Bikaner, Rajasthan, dekat perbatasan utara Pakistan. Mata dunia "dipaksa" melihat Kuil Karni Mata yang dihuni puluhan ribu tikus dan berdiri pada Abad Ke-15.

Mengutip tulisan di Atlas Obscura yang dilansir CNN Indonesia hari ini, Minggu (7/3/2021), kuil tikus ini muncul setelah Karni Mata, inkarnasi Dewa Durga, meminta dewa kematian Yoma untuk mereinkarnasi putra seorang pendongeng yang berduka.

Ketika kematian menolak untuk membantu, Karni Mata berjanji bahwa pendongeng yang semuanya laki-laki - anggota Kasta Charan - akan bereinkarnasi menjadi tikus di kuilnua. Ketika mati sebagai tikus, mereka sekali lagi bereinkarnasi menjadi anggota keluarga Depavats, sebutan untuk keturunan Karni Mata.

Sementara asal pemujaan tikus di India berasal dari Abad Ke-15, kuil saat ini yang dihiasi panel marmer yang rumit dan ukiran perak padat, dibangun pada awal 1900-an untuk menghormati Karni Mata dan para penyembahnya yang berbulu dan bereinkarnasi.

Kuil ini dihuni sekitar 20 ribu tikus, yang diberi makan oleh anggota keluarga besar Depavats - tercatat ada 513 keluarga Depavats dan pemuja Karni Mata.

Meskipun sebagian besar anggota kuil bekerja secara bergiliran berdasarkan siklus bulan, beberapa keluarga tinggal di kuil tikus ini secara permanen, merawat tikus dan menyapu lantai kotoran dan remah-remah makanan.

Tikus, yang disebut 'kabbas' dalam Bahasa India atau yang berarti 'anak kecil', diberi makan biji-bijian, susu, dan kulit kelapa dari mangkuk logam besar.

Air yang diminum tikus dianggap suci, dan memakan sisa makanan tikus dikatakan membawa keberuntungan bagi mereka yang berziarah ke kuil.

Para pemujanya memiliki alasan lain untuk menjaga agar tikus tetap aman dan bahagia: menurut hukum kuil, jika salah satu tikus mati secara tidak sengaja, maka harus diganti dengan tikus yang terbuat dari perak atau emas.

Tapi mengelola kuil tikus tentu saja menjadi tantangan tersendiri, bahkan jauh sebelum pandemi virus Corona menjadikan faktor kebersihan nomor satu.

Banyak "drama" yang terjadi di kuil tikus ini, mulai dari kesalahan pemberian makanan manis sampai pertarungan antar tikus, membuat ribuan tikus rentan terhadap penyakit.

Gangguan perut dan diabetes sangat umum terjadi pada tikus, dan setiap beberapa tahun wabah tikus menghancurkan populasi tikus-tikus Karni Mata.

Untungnya, terlepas dari bahaya bagi tikus itu sendiri, hingga saat ini belum tercatat kasus manusia terjangkit penyakit dari tikus-tikus di kuil ini.

Pengunjung yang datang diminta mengenakan sepatu saat masuk ke dalam kuil. Bahkan jika tikus menginjak kaki Anda, itu dianggap tanda keberuntungan.

Begitu juga jika ada yang melihat tikus albino, yang jumlahnya hanya empat atau lima dari total 20 ribu tikus.

Untuk melihat kesibukan di kuil tikus ini, pengunjung harus datang larut malam atau sebelum matahari terbit, saat tikus keluar sarangnya untuk mengumpulkan makanan.

Ingatlah bahwa hanya tikus di dalam dinding kuil yang dianggap bereinkarnasi dan karena itu suci. Tikus-tikus di kota masih dianggap hama.

Salah satu kesempatan terbaik untuk mengunjungi Kuil adalah selama Karni Mata Fair. Juga dikenal sebagai Karni Mata Festival atau Karni Mate Mela, acara ini diadakan dua kali setahun dari Maret-April, kemudian dari September-Oktober.

Selama perayaan berlangsung, patung dewi Karni Mata didekorasi dengan indah dengan mahkota emas, perhiasan, dan karangan bunga.[ros]

 


Komentar Pembaca