SIMAK, Ini Perbedaan Uang Digital dan Uang Elektronik

Ekonomi  KAMIS, 25 FEBRUARI 2021 | 20:35 WIB

SIMAK, Ini Perbedaan Uang Digital dan Uang Elektronik

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan masyarakat akan fenomena uang kripto Bitcoin. Kendati harganya sempat mencapat Rp741 juta pekan lalu, Bitcoin dan uang kripto lain-lainnya bukan alat pembayaran sah di Indonesia.

Sementara itu Direktur Eksekutif merangkap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Kamis (25/2/2021),  memberi penjelasan mengenai uang digital, yang akan diterbitkan bank sentral ini, berbeda dari uang elektronik yang sudah biasa digunakan masyarakat.

Menurut Erwin, uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC) merupakan uang digital yang diterbitkan dan menjadi kewajiban bank sentral terhadap pemegangnya.Uang digital tidak sama dengan uang elektronik.

Dikemukakannya, uang elektronik adalah instrumen pembayaran yang diterbitkan oleh pihak swasta/industri dan merupakan kewajiban penerbit uang elektronik tersebut terhadap pemegangnya.

Uang digital BI ini akan menjadi simbol kedaulatan negara (sovereign currency), yang diterbitkan oleh bank sentral dan menjadi bagian dari kewajiban moneternya.

"Saat ini, bank sentral memiliki kewajiban moneter berupa uang kartal, seperti uang kertas dan uang logam, lalu rekening giro," kata Erwin.

Mengenai uang digital BI, menurut dia, masih melakukan kajian untuk melihat potensi dan manfaat uang digital. Kajian ini disesuaikan dengan perkembangan ekonomi Indonesia. Begitu juga dengan desain uang digital dan mitigasi risikonya.

BI juga berkoordinasi dengan bank sentral lain termasuk melalui forum internasional untuk bertukar pandangan terkait pendalaman CBDC. BI berencana menerbitkan uang digital karena mempertimbangkan manfaat efisiensi sistem pembayaran domestik dan keuangan inklusif serta memitigasi shadow banking.[ros]


Komentar Pembaca