Melalui Surat Puisi, Buya HAMKA Memberi Tausiah dan Dukungan

Kajian  RABU, 24 FEBRUARI 2021 | 23:55 WIB

Melalui Surat Puisi, Buya HAMKA Memberi Tausiah dan Dukungan

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) pada 13 November 1957 menulis sepucuk surat kepada sahabatnya Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia Mohammad Natsir. Surat itu berbentuk puisi yang isinya memberikan support kepada sang Perdana Menteri untuk kukuh dalam perjuangannya.

Ya puisi itu dikirim Buya HAMKA karena ia mendengar uraian pidato Muhammad Natsir, yang  dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar Negara RI.

Puisi itu diberi judul "Kepada Saudaraku M. Natsir".

Kepada Saudaraku M. Natsir

Di pertengahan 1950an itu…

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaummu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu…!

Surat Puisi itu dikirim Buya HAMKA 13 November 1957, namun  baru dua tahun kemudian M Natsir membalasnya dengan surat puisi untuk Buya Hamka yang berjudul “Daftar”.

Daftar

Saudaraku Hamka,

Lama, suaramu tak kudengar lagi
Lama…
Kadang-kadang,
di tengah-tengah si pongah mortir dan mitralyur,
Dentuman bom dan meriam sahut-menyahut,
Kudengar, tingkatan irama sajakmu itu,
Yang pernah kau hadiahkan kepadaku,

Entahlah, tak kunjung namamu bertemu di dalam
“Daftar”,
Tiba-tiba,
Di tengah-tengah gemuruh ancaman dan gertakan,
Rayuan umbuk dan umbak silih-berganti,
Melantang menyambar api kalimah hak dari mulutmu,
Yang biasa bersenandung itu,
Seakan tak terhiraukan olehmu bahaya mengancam.

Aku tersentak,
Darahku berdebar,
Air mataku menyenak,
Girang, diliputi syukur

Pancangkan!
Pancangkan olehmu, wahai Bilal!
Pancangkan pandji-pandji Kalimah Tauhid,
Wahai karihal kafirun..
Berjuta kawan sepaham bersiap masuk
Ke dalam “Daftarmu”…

Saudaramu,
Tempat, 23 Mei 1959



Komentar Pembaca