BSI Muncul, Market Share Perbankan Syariah Berhasil Keluar Dari Jebakan

Ekonomi Syariah  SELASA, 23 FEBRUARI 2021 | 14:45 WIB

BSI Muncul, Market Share Perbankan Syariah Berhasil Keluar Dari Jebakan

net

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) diharapkan dapat mempercepat perkembangan perbankan syariah di Indonesia.

BSI mencatatkan total aset sebesar Rp239,56 triliun per Desember 2020 atau urutan ketujuh terbesar di industri perbankan nasional. Adapun, modal inti mencapai Rp22,61 triliun.

Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Islam FEB UI Tika Arundina mengatakan kehadiran BSI menjadi momentum bagi perkembangan industri ekonomi dan keuangan syariah, terutama perbankan syariah.

Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar, tetapi pertumbuhan industri syariahnya relatif stagnan. Market share perbankan syariah berhasil keluar dari jebakan 5% pada 2017, terjadi karena adanya konversi Bank Aceh. Saat ini market share perbankan syariah sebesar 6,3%. Angka tersebut tidak banyak bergerak dalam beberapa tahun terakhir.

Dia mengatakan dengan bergabungnya tiga bank syariah BUMN menjadi BSI tidak lantas memperbesar aset perbankan syariah. Market share masih akan tetap 6%.
Namun, dengan modal yang lebih kuat membuat skala ekonomi lebih besar sehingga dapat mencapai cost of fund yang rendah. Hal tersebut akan berdampak pada profitabilitas bank yang lebih tinggi.

"Salah satu masalah bank syariah adalah cost of fund tinggi, sehingga pricing menjadi mahal. Harapannya dengan memiliki pricing yang lebih rendah dan kompetitif, maka bank syariah bisa mendapatkan nasabah yang risiko profilnya lebih baik, sehingga berdampak ke profitabilitas yang lebih tinggi," katanya dalam diskusi yang diselenggarkan INDEF, Selasa (16/2/2021).

Tika menambahkan setelah resmi beroperasi pada 1 Februari kemarin, BSI memiliki sejumlah peluang yang dapat digarap. Di antaranya integrasi dengan lembaga komersial dalam pemanfaatan dana zakat, wakaf sehingga lebih produktif.

BRIS dapat mengoptimalkan pengumpulan dana zakat melalui pemanfaatan teknologi dan penetrasi nasabah yang dimiliki. Apalagi pengumpulan dana zakat saat ini baru terserap 6% dari potensi yang ada.

"Merger ini menjadi PR yang baru dimulai. Bagaimana setelah ini dapat memperbesar aset secara menyeluruh," katanya.

Ekonom Senior INDEF Iman Sugema mengatakan merger sebagai salah satu cara untuk melakukan percepatan pengembangan industri perbankan syariah. Mayoritas bank syariah memiliki modal kecil sehingga jangkauan produk maupun layananya terbatas.

"Dalam beberapa tahun terakhir, bank besar memiliki keunggulan kompetitif dalam menyerap dana murah dan stabil. Bank kecil harus jumpalitan untuk mencari dana murah sehingga menaikan suku bunga. Persaingan seperti ini tidak sehat. Salah satu cara menyehatkan adalah bank syariah harus menjadi besar," imbuhnya dalam kesempatan yang sama.

Untuk mengembangkan perbankan syariah juga dibutuhkan human capital yang baik. Dengan modal yang kuat, maka bank syariah dapat merekrut bankir terbaik sehingga perusahannya lebih cepat berkembang.

"Kalau bank kecil akan sulit menyediakan remunerasi, insentif dengan jumlah yang lebih baik bagi para bankir yang sudah top di industrinya. Kalau bank syariah bisa mempekerjakan top bankir, maka akan lebih cepat berkembang," ujarnya. [irm]


Komentar Pembaca