Perlu Budayakan Slogan Jakarta Sebagai Muslim Friendly Destination

Wisata  SABTU, 13 FEBRUARI 2021 | 22:45 WIB

Perlu Budayakan Slogan Jakarta Sebagai Muslim Friendly Destination

foto/net

Pemprov DKI Jakarta perlu membudayakan slogan Jakarta sebagai destinasi ramah Muslim (Muslim Friendly Destination), karena selain ibukota negara, Indonesia, juga sebagai negara Muslim terbesar di dunia.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Departemen Pariwisata, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Hilda Ansariah Sabri saat berbicara di Programa 4 Radio Republik Indonesia ( RRI) bersama host Yanti Yusfid, Jumat (12/2). 

Hilda mengusulkan hal tersebut dalam materi promosi agar wisatawan dunia menjadi familiar bahwa Indonesia tujuan wisata yang ramah Muslim.

"Kata Ramah Muslim atau Muslim Friendly terbukti lebih Universal dan diterima ketimbang branding halal tourism. Negara-negara yang mempromosikan negaranya sebagai Muslim Friendly Country seperti Jepang, Thailand, Korea dan Taiwan sukses menjaring wisatawan Muslim dunia," katanya.

Saat ini, menurutnya, The Islamic Economy Indicator 2020/2021 mencatat  jumlah Muslim di dunia mencapai 1,9 miliar orang dengan pengeluaran sebesar US$ 2,02 Triliun untuk produk Halal Industry termasuk di dalamnya sektor travel.

"Mengklaim Jakarta sebagai Muslim Friendly Destination pas karena ibukota negara ini punya Masjid Istiqlal yang baru selesai direnovasi dan diresmikan Presiden Jokowi pada 7 Januari 2021 lalu," tutur Hilda yang juga Pemimpin Redaksi, portal berita wisata ini.

Renovasi Masjid Istiqlal tersebut merupakan yang pertama sejak 42 tahun yang lalu dan menelan biaya sebesar Rp 511 Miliar dari APBN dan tampak seperti baru kembali.

Kepala Negara menilai, renovasi Masjid Istiqlal bukan hanya menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia dan kebanggaan bangsa Indonesia tapi juga kebanggaan umat Islam.

"Jakarta juga punya Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas setinggi 132 meter (433 kaki), didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda," kata Hilda.

Monas sebagai ikon kota Jakarta sudah mendunia, terutama pada aksi Muslim 212 tahun 2016 lalu. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan seperti halnya Menara Eiffel, Paris yang per tahun dikunjungi lebih dari 10 juta orang, Pemprov DKI harus menambah dan mengganti lift yang dapat mengakomodasi turis ke ajungan atas dan meningkatkan pelayanannya.

"Sayangnya, Jakarta belum memiliki hotel bintang lima plus dengan brand Halal Hotel. Padahal 90% warganya beragama Islam dan menjadi negara Muslim terbesar di dunia. Sepanjang jalur utama Jalan Jenderal Sudirman hingga jalan Thamrin tidak ada satupun hotel halal bintang lima plus misalnya,"  tambahnya.

Sedangkan Bangkok yang warga Muslimnya hanya 5%, pemerintah dan pengusahanya melek Halal dan memiliki Halal Hotel Al Meroz misalnya, sebuah hotel bintang empat yang okupansinya selalu tinggi.

Mengenai Destinasi Super Prioritas (DSP) yang menolak membahas, apalagi menyiapkan konsep wisata halal, Hilda mengatakan penggunaan Muslim Friendly Destination juga bisa dipakai di Danau Toba, Likupang, Labuan Bajo karena fasilitas halal sudah tersedia.

Halal tourism itu sebenarnya pelayanan tambahan (extended service) dan Islam adalah agama yang Rahmatan lil alamin artinya Kasih sayang Allah untuk semesta alam. 

"Jadi bukan untuk menjadikan warga di destinasi jadi beragama Islam, karena Halal tourism intinya pelayanan tambahan, contohnya tempat shalat dan makanan yang terjamin halal," tegasnya.

Pusat perbelanjaan premium seperti Kota Kasablanka, Gandaria City, Senayan City, Jakarta malah telah memiliki fasilitas Mushalla yang luas dan mewah di dalam mall, sehingga pengunjung bisa melaksanakan  ibadah di tengah aktivitasnya. Para pemilik mall paham betul peluang bisnis yang diperolehnya, akibat memiliki fasilitas halal tourism, jelas Hilda

Untuk itulah, dia berharap tingkat sadar wisata dari pimpinan hingga warga di tingkat kelurahan memahami, apa yang dimaksud dengan Muslim Friendly Destination dan berupaya meningkatkan pelayanan untuk mendapatkan lebih banyak devisa negara dari traveler Muslim. [mt/ass]


Komentar Pembaca