MENGAJAK MASYARAKAT CINTA LINGKUNGAN

Pengantin-Perantau Pulang Kampung Wajib Tebar Bibit..

Wisata  SENIN, 08 FEBRUARI 2021 | 18:10 WIB

Pengantin-Perantau Pulang Kampung Wajib Tebar Bibit..

Pemerintah Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker), Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, membuat aturan baru. Setiap pasangan yang akan menikah wajib melepaskan bibit ikan ke sungai. Para perantau yang pulang kampung juga diminta menebar bibit ikan. Para wisatawan pun diimbau keikhlasan mereka untuk melakukan hal serupa.

Kepada Moeslimchoice.com, Senin (8/2/2021), Camat Paiker Noperman Subhi mengatakan, untuk pelepasan bibit ikan ini sebetulnya sudah ada tradisi di daerah tersebut. Di samping pemerintah, para perantau yang sukses selalu melepas bibit ikan di sungai-sungai di Kecamatan Paiker.

Beranjak dari kebiasaan itu, timbul ide untuk melibatkan masyarakat untuk melibatkan warga Kecamatan Paiker dalam memelihara habibat ikan di perairan wilayah itu. Lalu dibuatlah peraturan yang mewajibkan pasangan calon pengantin menebar bibit ikan.

"Dengan adanya masyarakat langsung yang menebar bibit ikan akan menumbuhkan sikap peduli. Masyarakat akan turut menjaga ikan yang sudah ada dan yang mereka tebar dari tangan-tangan tak bertanggung jawab yang menangkap ikan dengan menyetrum atau memutas," kata Noperman.

Pelepasan bibit ikan juga sebagai simbol, pasangan pengantin lepas dari tanggung jawab orangtua dan saudara-saudara yang lebih tua. Juga mengambarkan harapan agar mereka cepat berkembang, segera mendapatkan keturunan dan mandiri secara psikologis dan ekonomi.

Diharapkan, 2-3 tahun ke depan, ikan air tawar akan melimpah di Kecamatan Paiker. Karena kepedulian masyarakat melepas bibit ikan yang tidak sebatas pasangan pengantin. Setiap putra daerah yang pulang ke Paiker maupun para wisatawan yang ingin menikmati wisata, budaya dan kuliner diimbau untuk menebar bibit ikan.

Paiker merupakan wilayah yang kaya akan potensi wisata alam, budaya, dan kuliner. Wisata alam yang terkenal adalan Sumber Air Panas Suban, Tebak Gimbe di Muara Sidang, dan Air Terjun Ayik Gemugho Nanjungan.

Di Paiker terdapat rumah-rumah khas yang sudah berusia ratusan tahun. Juga banyak gedung-gedung tua peninggalan zaman kolonial dan milik Pemerintah RI.

Selain kesenian tradisional, Kecamatan Paiker memiliki tiga bahasa daerah yaitu Budaya Bahasa Dide (digunakan Etnis Besemah), Nedo (Etnis Lintang) dan Nidau (Etnis Bengkulu Selatan).

Kuliner yang terkenal adalah Lemang yang rasa dan bentuknya sama dengan Lemang pada umumnya. Hanya saja Lemang Paiker dimakan dengan Ikan Goreng yang rasanya gurih dan pedas.[ros]


Komentar Pembaca