Lenyepaneun (3 -Habis)

Opini  SABTU, 06 FEBRUARI 2021 | 12:25 WIB

Lenyepaneun (3 -Habis)

Selain mahir lughoh (berbahasa Arab) Mama Ajengan bahkan sanggup menggubah syair, ia juga fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Ringkas cerita, alumni Universitas Al Azhar Mesir ini adalah ulama dan intelektual sekaligus yang tak gagap dengan perubahan sejak masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, masa revolusi kemerdekaan, Orde Lama, hingga Orde Baru. 

Tapi ia memilih jalan sufi seperti idolanya Al Ghazali. Setidaknya, sepanjang 15 tahun masa akhir riwayatnya, Mama Ajengan lebih tampil sebagai mursyid, guru sufi, justru di masa modernisasi dan sekularisasi semakin menggejala di Indonesia. Toh pada periode itu Mama Ajengan mendirikan Yayasan Islamic Center Al Ghazali di Bogor menggunakan kombinasi sistem pendidikan Barat yang memiliki kelas mulai dari taman-kanak-kanak sampai tingkat menengah atas, juga sistem pesantren tradisional dengan metode sorogan dan bandongan. 

Pilihannya menempuh jalan sufi dapat dipahami. Pada 1970, saat ia meninggalkan Jakarta, usianya sudah 65.  Apapun, Mama Ajengan tetaplah sufi yang langka. Alasannya?

Baiklah. Sementara ia menempuh jalan sufi, mudah saja ia cas-cis-cus dalam tatap muka dengan penggerak Revolusi Iran 1979, Imam Ayatullah Khomeini. Tanpa harus mengikuti ajaran Syiah. Sedangkan hubungan baik Mama dengan Irak dan Arab Saudi kala itu juga tak terganggu, termasuk persahabatannya dengan Raja Husein dari Yordania, ayah Raja Abdullah yang kini bertahta. 

Sebuah kontras yang langka dan menarik di masa yang jauh sebelum globalisasi menjadi wacana: seorang ulama sufi Indonesia sudah lebih dulu mengglobal. Hadir di seminar-seminar  tentang  Islam  sudah biasa bagi Mama Ajengan. Setidaknya di Arab  Saudi,  Yordania,  India,  Irak,  Iran,  Australia, Thailand, Singapura,dan Malaysia. 

Tapi itulah. Salah satu konsekuensi menempuh jalan sufi adalah khumul, jauh dari ketenaran dan popularitas. Hingga akhir hayatnya.

Satu kelangkaan lagi tentang Mama Ajengan, risalah kecilnya berjudul "Lenyepaneun" lebih sering hanya menjadi aksesoris. Boleh jadi karena berbahasa Sunda. Dari berbagai penelusuran, Lenyepaneun adalah tradisi menulis yang Mama Ajengan warisi dari ayahandanya, KHR Muhammad Nuh yang juga menulis risalah ringkas serupa. 

Ironinya, Lenyepaneun kerap diterjemahkan sebagai kajian mendalam. Sebenarnya lenyepaneun dalam bahasa Sunda lebih bermakna sebagai "yang melelapkan", hal yang muncul menjelang tidur. Tafsirnya, perencanaan menghadapi esok hari, masa depan yang dekat ((action plan) maupun yang jauh (vision). 

Ketika perubahan dunia terasa semakin cepat, lenyepaneun justru menjadi warisan paling relevan agar kita tak kehilangan pegangan. Seperti Al Ghazali dan Mama Ajengan Kota Paris pada masanya. Bagaimana dengan kita? (GE)


Komentar Pembaca