Jordania di Tengah Dunia Menghadapi Covid-19

Raja Abdullah Atthani bin Hussein Al Hashim

Opini  JUMAT, 29 JANUARI 2021 | 08:43 WIB

Jordania di Tengah Dunia Menghadapi Covid-19

Bismillahirohmaanirrohiim
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Senang sekali bisa bergabung dengan diskusi yang penuh wawasan, dan saya berterima kasih kepada teman saya Profesor Klaus Schwab, karena telah mengundang saya menjadi bagian dari pertemuan yang sangat penting ini.

Kita memulai tahun baru dengan banyak tantangan yang menandai tahun terakhir masih beriak ke hampir setiap sektor. Pandemi terus merusak dunia kita, dan kita baru sekadar menyentuh permukaan implikasi kemanusiaan dan ekonomi jangka panjangnya.

Namun, saya yakin masih ada secercah harapan. Beberapa vaksin sudah siap, dan saat kita memulai proses penyembuhan yang lama dan tertunda ini, lebih baik kita bertindak untuk mencoba menyembuhkan ini bersama-sama.

Dan di sini kita harus memastikan distribusi vaksin Covid-19 serta pengobatan yang efisien dan merata. Merupakan kewajiban moral untuk memperlakukan vaksin, sebagai barang publik global yang memastikan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan miskin tidak berada di ujung antrean, karena negara-negara berpenghasilan tinggi membeli sebagian besar vaksin yang paling menjanjikan.

Di tengah masa-masa sulit ini, menjaga kesehatan dan kesejahteraan para pengungsi tetap menjadi tanggung jawab global. Dan seperti yang dikatakan Profesor Schwab, sebagai tuan rumah dari jumlah pengungsi per kapita tertinggi kedua di dunia, Yordania terus melindungi pengungsi dalam respons pandemi, dan kami termasuk di antara negara-negara pertama di dunia yang mulai memvaksinasi pengungsi secara gratis. Tetapi dukungan internasional juga penting. Kita harus bekerja bersama untuk mengembangkan perangkat kebijakan baru untuk membantu kita mengatasi masalah hari ini dan esok.

Di Yordania, kami telah mampu menggandakan tingkat inklusi keuangan selama enam tahun terakhir, dengan mengandalkan pendekatan digital untuk meningkatkan akses keuangan bagi warga Yordania dan pengungsi. Dan kepemilikan rekening uang seluler meningkat, karena kami mencari solusi inovatif untuk mendukung keluarga pekerja yang membutuhkan.

Prioritas global kita juga harus mencakup peningkatan akses ke pendidikan, dan mengurangi kesenjangan digital, sambil mempersiapkan angkatan kerja untuk pekerjaan masa depan — yang dengan cepat menjadi pekerjaan saat ini.

Jadi berinvestasi di UKM, tulang punggung ekonomi yang sedang tumbuh, adalah suatu keharusan untuk mempercepat pemulihan. Sebagai bagian dari respons pandemi kami, Yordania memungkinkan hampir 13.000 UKM untuk beralih dari ekonomi informal ke formal, dan kami adalah salah satu reformis global teratas dalam laporan Kemudahan Berbisnis pada 2020. Ekonomi kami siap untuk pulih, tetapi dalam kolaborasi dengan sektor swasta.

Saat kita bekerja untuk menyembuhkan bersama, kita harus menggunakan kelapangan yang diberikan kepada kita dalam kesempitan, untuk bergerak bersama dengan percaya diri menuju masa depan yang lebih cerah.

Pandemi telah membuktikan secara menyakitkan kepada kita bahwa kembali ke bisnis seperti biasa tidaklah berkelanjutan dan juga tidak efektif. Maka marilah kita memikirkan kembali dan menemukan kembali istilah globalisasi, multilateralisme, dan komunitas internasional yang selalu ada. Mari kita menempatkan kesetaraan, inklusivitas, dan martabat sebagai inti dari apa yang menjadi perjuangannya.

Dunia kita membutuhkan re-globalisasi yang mencari pemulihan berkelanjutan, adil dan hijau, yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat dan planet kita.

Kita perlu memberi penekanan pada komunitas, dalam komunitas internasional, untuk fokus pada nilai-nilai bersama, aspirasi, dan cita-cita yang mempersatukan kita.

Kita perlu mengubah perdagangan multilateral menjadi alat untuk perdamaian dan kemakmuran bersama, dengan meningkatkan ketahanan rantai pasokan, dan mendorong integrasi negara-negara berkembang, untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif.

Dan kita semua perlu memikirkan kembali cara kita menangani planet kita. Covid-19 telah menjadi pengingat yang tegas bahwa apa yang kita lakukan terhadap alam memiliki konsekuensi yang berbahaya. Biarlah pelajaran itu mengajari kita untuk tidak mengabaikan pandemi perubahan iklim yang lebih besar.

Ini, saya yakin, adalah krisis mendesak yang harus kita tangani bersama, melalui solusi kreatif yang memprioritaskan investasi hijau dan energi terbarukan. Sebagai salah satu negara termiskin air di dunia, Yordania sangat menyadari ancaman perubahan iklim. Kami merencanakan pemulihan kami berakar pada pembangunan hijau dan proyek infrastruktur.

Dan perhatian kami terhadap perubahan iklim juga menjadi kunci, karena kami berupaya untuk melawan ancaman global dari kerawanan pangan, yang semakin parah, setelah pandemi COVID, dengan jutaan orang terancam kelaparan.

Jadi kita harus bekerja secara kolektif untuk mempromosikan adopsi solusi agri-tech berkelanjutan yang meningkatkan ketahanan sistem pangan global, untuk memastikan aksesibilitas, keterjangkauan, dan kualitas, sekaligus melindungi lingkungan kita.

Pandemi ini membuat kita semua setara. Dan biarlah itu menjadi salah satu pelajaran positif yang kita ambil dari masa sulit ini, saat kita melihat ke depan.

Biarkan empati kita mendorong kemajuan dan pemulihan kita, saat kita membangun jembatan untuk memungkinkan pertukaran yang lebih baik tidak hanya dari persediaan dan keahlian penting, tetapi juga pertukaran harapan dan ide-ide positif.

Saya berharap kita mempersilakan kemanusiaan memimpin kita.

Pidato virtual Raja Jordania di Forum Davos Agenda, Swiss, Kamis, 28/1/21.


Komentar Pembaca
Hukum Sikat Gigi Saat Puasa

Hukum Sikat Gigi Saat Puasa

Kamis, 15 April 2021 | 19:05

Berpuasa, Tapi Meninggalkan Sholat?

Berpuasa, Tapi Meninggalkan Sholat?

Kamis, 15 April 2021 | 13:50