Lenyepaneun (2)

Opini  JUMAT, 29 JANUARI 2021 | 07:52 WIB

Lenyepaneun (2)

Kawasan khusus orang Eropa di ujung barat Bogor (Buitenzorg) 1914.

Kawasan Kota Paris bertetangga dengan kawasan Kebon Kopi, terpisah oleh kanal Cidepit: sebuah kombinasi yang mencerminkan tata ruang permukiman kolonial bertetangga dengan kawasan perkebunan dan kanal buatan untuk irigasi dan pemandangan kota berupa lembah yang berujung di kaki Gunung Salak. Cidepit boleh dibilang cucu Sungai Cisadane dari aliran Cibalok.

Aliran Cibalok ini berawal dari titik sodetan di dekat kawasan permukiman kelompok penduduk Arab (Empang) dan Tionghoa (Lawang Saketeng).  Cibalok sebagai anak sungai Cisadane menurunkan dua cucu berupa percabangan Cidepit dan Cipakancilan.

Selanjutnya aliran Cipakancilan terus menghilir ke kawasan tengah Bogor dan bercabang lagi di kawasan Kebon Pedes. Satu cabang berupa sodetan irigasi untuk kawasan yang berada di sisi rel kereta api Bogor - Depok  -  Jakarta yang berlanjut hingga bergabung dangan aliran Kali Krukut di tengah Ibu Kota Jakarta.

Sedangkan arus utama setelah sodetan Kebon Pedes bergabung dengan Ciliwung di kawasan Jembatan Satu Duit, Warung Jambu, yang kini lebih dikenal sebagai Pertokoan Jambu 2 Plaza. Aliran Ciliwung dari Jambu  2 ini yang mengalir di kawasan timur Ibu Kota. Akan halnya Cidepit, alirannya mengalir hingga kawasan barat Ibu Kota bergabung dengan Kali Angke.

Apa urusan Abdullah bin Nuh, Kota Paris, dan aliran anak-cucu Cisadane itu? Satu hal, sebagian besar jamaah majelis Kota Paris, tempat Abdullah bin Nuh membahas kitab-kitab karya Al Ghazali semisal Ihya Ulumiddin dan Minhajul Abidin, berasal dari kawasan permukiman di sepanjang anak-cucu Cisadane tadi. Pada masanya, majelis pengajian Al Ghazali untuk umum setiap pekan, asuhan Abdullah bin Nuh, membeludak. Padahal majelis berlangsung di hari libur, bada subuh pula.

Beriringan dengan itu, panggilannya adalah Mama Ajengan, sebuah gelar yang dalam perspektif kearifan lokal Priangan, Jawa Barat, lebih dari sekadar Kiai Haji. Hingga akhir hayatnya pada 1987, panggilan Mama Ajengan di Kota dan Kabupaten Bogor boleh dibilang hanya untuk Abdullah bin Nuh, sebuah penghormatan atas kharisma dan keilmuannya. Jika masih belum jelas, cukup sebut Mama Ajengan Kota Paris. Nama Abdullah bin Nuh sendiri tenggelam oleh kharisma dan lokasi majelis di kawasan kelas menengah-atas itu, padahal rekam jejaknya sejak masa kecil tak kalah memukau.

Ia pejuang kemerdekaan, wartawan tulis dan penyiar radio di masa revolusi hingga pasca kemerdekaan. Tercatat membentuk seksi siaran berbahasa Arab di Stasiun RRI Yogyakarta ketika Ibu Kota hijrah ke sana. Jarang pula yang mengungkapkannya sebagai pendiri Sekolah Tinggi Islam, cikal-bakal Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta saat ini.

Mama juga pernah menjadi Kepala Seksi Siaran Bahasa Arab di RRI Pusat. Sempat pula menjadi pengajar di Jurusan Bahasa Arab Universitas Indonesia. hingga menduduki jabatan Lektor Kepala di Fakultas Sastra. Salah satu mahasiswanya adalah KH Maftuh Basyuni yang pernah menjabat Menteri Agama RI. (GE)


Komentar Pembaca
Hukum Sikat Gigi Saat Puasa

Hukum Sikat Gigi Saat Puasa

Kamis, 15 April 2021 | 19:05

Berpuasa, Tapi Meninggalkan Sholat?

Berpuasa, Tapi Meninggalkan Sholat?

Kamis, 15 April 2021 | 13:50