Hong Kong Berlakukan Lockdown Selama Dua Hari

Internasional  SABTU, 23 JANUARI 2021 | 20:00 WIB

Hong Kong Berlakukan Lockdown Selama Dua Hari

foto/net

Ribuan warga Hong Kong diperintahkan untuk tinggal di rumah pada Sabtu (23/1), untuk pemberlakuan lockdown virus corona pertama di kota itu, ketika pihak berwenang memerangi wabah di salah satu distrik termiskin dan paling padat.

Perintah tersebut melarang sekitar 10.000 orang yang tinggal di dalam beberapa blok perumahan di lingkungan Yordania, untuk meninggalkan apartemen mereka sampai semua anggota di daerah tersebut telah menjalani pengujian, sehingga hasilnya bisa diketahui.

Para pejabat mengatakan, mereka berencana untuk mengetest semua orang di dalam zona yang ditentukan dalam waktu 48 jam "untuk mencapai tujuan nol kasus di distrik tersebut."

"Warga harus tinggal di tempat mereka (dalam rumah) untuk menghindari infeksi silang sampai mereka mendapatkan hasil tes mereka," kata Menteri Kesehatan, Sophia Chan, kepada wartawan, Sabtu (23/1).

Pemerintah telah mengerahkan lebih dari 3.000 staf untuk memberlakukan lockdown, yang mencakup sekitar 150 blok perumahan.

Warga terlihat mengantri untuk melakukan tes di 51 kendaraan, yang dipakai untuk berkumpulnya para spesimen yang akan di tes, sekaligus juga untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari yang disediakan oleh pemerintah.

Hong Kong adalah salah satu tempat pertama yang terjangkit virus corona setelah menyebar ke luar China tengah.

Hong Kong mencatat telah terdapat kasus positif terinfeksi virus corona di bawah 10.000 dengan sekitar 170 kasus meninggal dengan tetap
memberlakukan tindakan jarak sosial yang efektif.

Selama dua bulan terakhir, Hong Kong kembali dilanda gelombang infeksi virus corona untuk yang keempat kalinya, dengan pihak berwenang terus berjuang untuk menurunkan kasus harian.

Kelompok yang keras kepala (yang mengabaikan protokol kesehatan) telah muncul di lingkungan berpenghasilan rendah, yang terkenal dengan beberapa perumahan paling sempit di dunia.

Distrik Yordania mencatat 162 kasus yang dikonfirmasi dari awal tahun ini hingga 20 Januari.

Pada Jumat (22/1), kota itu mencatat 61 infeksi positif, 24 di antaranya berasal dari daerah Yau Tsim Mong, tempat distrik terlarang itu berada.

Di atas kertas, Hong Kong adalah salah satu kota terkaya di dunia.
Tetapi negara itu menderita ketidaksetaraan yang meluas, kekurangan perumahan yang akut, dan harga sewa yang menggiurkan yang gagal diselesaikan oleh pemerintah berturut-turut.

Rata-rata flat di Hong Kong adalah sekitar 500 kaki persegi (46 meter persegi).
Tetapi banyak yang mengecilkan atau menyempitkan flat, yang bahkan lebih kecil lagi, bilik yang bisa sekecil 50 kaki persegi atau bahkan kurang, dengan kamar mandi dan pancuran berada dalam bangunan yang sudah tua.

Di bangunan semacam inilah tempat cluster kasus baru ditemukan dalam beberapa minggu terakhir, yang mendorong perintah lockdown dilakukan.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat kesehatan mulai melakukan tes wajib di sekitar 70 bangunan di daerah itu, tetapi pemerintah sekarang telah memutuskan untuk menguji semua orang untuk "memutus rantai penyebaran virus."

Lockdown telah menciptakan kebingungan bagi warga. Karena pengumuman lockdown diketahui hanya melalui media lokal kota pada Jumat (22/1), sementara tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah hingga Sabtu (23/1) pagi hari ini. 

Beberapa media melaporkan melihat warga meninggalkan daerah itu sebelum tenggat waktu tengah malam, sementara yang lain mengatakan penduduk setempat frustrasi dengan kurangnya informasi yang jelas.

Pihak berwenang mengatakan orang-orang yang tidak berada di area terlarang pada saat itu tetapi telah tinggal di dalamnya selama lebih dari dua jam dalam 14 hari terakhir harus menjalani tes wajib sebelum tengah malam hari ini.

Hong Kong menjadi rumah bagi banyak etnis minoritas, terutama warga Hong Kong Asia Selatan, sebuah komunitas yang sering menghadapi diskriminasi dan kemiskinan.

Awal pekan ini, seorang pejabat kesehatan senior memicu kemarahan, ketika dia menyatakan bahwa penduduk etnis minoritas mungkin yang lebih mudah menyebarkan virus, karena mereka suka berbagi makanan, merokok, minum alkohol, dan mengobrol bersama.

Kritikus membantah, bahwa kemiskinan dan kurangnya perumahan yang terjangkau memaksa orang untuk hidup dalam kondisi sempit adalah menjadi penyebab penyebaran virus lebih mudah di distrik-distrik itu, bukan ras atau budaya.

Pernyataan pejabat kesehatan juga muncul, saat video migran yang didominasi kulit putih menari saat makan siang di Pulau Hong Kong, hingga memicu kemarahan tetapi tidak ada peringatan dari pejabat. [mt/AN]


Komentar Pembaca