Siap-siap! Banyak Pegawai Bank Bakal Kehilangan Pekerjaan

Ekonomi  JUMAT, 22 JANUARI 2021 | 15:10 WIB

 Siap-siap! Banyak Pegawai Bank Bakal Kehilangan Pekerjaan

Sinyalemen itu diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, di mana ia mengingatkan, ada potensi besar para pekerja industri perbankan kehilangan pekerjaan. Ini disebabkan berkembang pesatnya digital banking di Indonesia pada 2021.

Perry mengemukakan secara virtual pagi ini, Jumat (22/1/2021), pesatnya perkembangan digital memicu para bankir tidak lagi bisa berdiam diri dan menunggu masyarakat menggunakan layanannya seperti selama ini. Teknologi digital mengharuskan mereka memberi pelayanan lebih pada konsumen.

"Jadi para bankir apakah Anda ingin disowani lama-lama, Anda ditinggalkan, dijaminlah. Kalau para bankir, masih ingin disowani kepada panjenengan semua, Anda kemudian enggak ada kerjaan, akan ditinggal konsumen," tegasnya.

Dikatakan Perry, berdasarkan perhitungan beberapa tahun ini, transaksi digital banking sudah melebihi nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pada 2020, angka transaksinya mencapai Rp27.036 triliun dan melonjak 19,1 persen pada 2021 menjadi Rp32.206 triliun.

Menurut Perry, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir, PDB atas dasar harga berlaku kuartal III-2020 Rp3.894,7 triliun dan atas dasar harga konstan Rp2.720,6 triliun. Dengan demikian, jauh di bawah angka transaksi digital.

Dulu, kata dia, "Masyarakat harus sowan ke yang mulia para bankir-bankir ini. Mau transfer, ambil uang, setor, nah sekarang you have to service them melalui digital banking. Sekarang masyarakat sudah pinginnya transaksi hanya melalui hp."

Dijelalskan Perry bahwa dari total transaksi digital tersebut, yang berasal dari transaksi melalui perdagangan elektronik atau e-Commerce akan mencapai Rp253 triliun pada 2020. Sedangkan pada 2021 melonjak 33,2 persen menjadi Rp337 triliun.

Yang berasal dari penggunaan uang elektronik mencapai Rp201 triliun pada 2020. Sementara itu, pada 2021 akan mengalami kenaikan mencapai 32,3 persen menjadi sebesar Rp266 triliun.

Itu pula, lanjutnya, mengapa BI sangat agresif melakukan digitalisasi sistem pembayaran.

"Ingat itu lihat angkanya digital banking, ini termasuk online banking, mobile banking, transaksi yang tidak butuh tatap muka," tuturnya.

Perry bersyukur, dengan perkembangan digital tersebut telah banyak perbankan di Indonesia yang sangat agresif untuk melakukan transformasi layana, untuk mengimbangi perkembangan teknologi digital.[ros]


Komentar Pembaca