Dua Bom Bunuh Diri Guncang Baghdad Tengah, Sedikitnya 32 Orang Tewas

Internasional  JUMAT, 22 JANUARI 2021 | 00:30 WIB

Dua Bom Bunuh Diri Guncang Baghdad Tengah, Sedikitnya 32 Orang Tewas

foto/net

Dua Pemboman bunuh diri telah menghancurkan pasar yang tengah ramai di ibu kota Irak, Baghdad, Kamis (21/1) dan menewaskan sedikitnya 32 orang dan melukai puluhan lainnya, kata pejabat setempat.

Serangan bom bunuh diri yang jarang menghantam kawasan komersial 'Bab Al-Sharqi' di Baghdad tengah di tengah ketegangan politik yang meningkat atas pemilihan awal yang direncanakan dan krisis ekonomi yang parah. 

Darah telah mengotori lantai pasar yang sibuk di tengah tumpukan pakaian dan sepatu, saat para penyintas mengamati kekacauan yang terjadi setelahnya.

Tidak ada yang langsung bertanggungjawab atas serangan itu, tetapi pejabat militer Irak mengatakan, bahwa serangan itu adalah pekerjaan kelompok pemberontak Daesh.

Menteri Kesehatan Irak, Hassan Mohammed Al-Tamimi mengatakan, sedikitnya 32 orang tewas dan 110 lainnya luka-luka dalam serangan itu. Dia mengatakan beberapa korban luka dalam kondisi serius. Militer Irak sebelumnya menyebutkan jumlah korban tewas 28 orang, namun kini telah bertambah empat orang.

Kementerian Kesehatan mengumumkan, bahwa semua rumah sakit di ibu kota dikerahkan untuk merawat yang terluka.

Mayor Jenderal Tahsin Al-Khafaji, juru bicara Komando Operasi Gabungan, yang mencakup sejumlah pasukan Irak, mengatakan, pembom bunuh diri pertama berteriak dengan keras, bahwa dia sakit di tengah pasar yang ramai, mendorong kerumunan untuk berkumpul di sekitar dirinya,  dan saat itulah dia meledakkan diri dengan sabuk peledaknya. Sementara pembom bunuh diri yang kedua meledakkan ikat pinggangnya tak lama setelah yang pertama.

"Ini adalah tindakan teroris yang dilakukan oleh kelompok ISIS," kata Al-Khafaji, seperti dilansir dari ArabNews. 

Dia mengatakan ISIS "ingin membuktikan keberadaannya" setelah mengalami banyak pukulan dalam operasi militer untuk membasmi para militan.

Pemboman bunuh diri menandai yang pertama dalam tiga tahun terakhir yang menargetkan kawasan komersial Baghdad yang ramai. Serangan bom bunuh diri terjadi di daerah yang sama pada 2018, tak lama setelah Perdana Menteri, Haidar Al-Abadi menyatakan kemenangan atas kelompok ekstremis tersebut.

Meski belum ada yang mengaku bertanggungjawab, namun Irak telah menyaksikan serangan yang dilakukan oleh ISIS dan kelompok milisi dalam beberapa bulan terakhir.

Milisi secara rutin menargetkan kehadiran Amerika di Irak dengan serangan roket dan mortir, terutama Kedutaan Besar AS di Zona Hijau yang dijaga ketat di Baghdad. Laju serangan itu, bagaimanapun, telah menurun sejak gencatan senjata tidak resmi diumumkan oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran pada bulan Oktober 2020.

Gaya serangan pada Kamis (21/1) mirip dengan yang dilakukan ISIS di masa lalu. Tetapi kelompok itu jarang bisa menembus ibu kota Irak sejak digulingkan oleh pasukan Irak dan koalisi pimpinan AS pada 2017.

ISIS telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan serangan yang semakin canggih di Irak utara, di mana ISIS masih mempertahankan kehadirannya, tiga tahun setelah Irak menyatakan kemenangan atas kelompok tersebut.

Pasukan keamanan Irak sering disergap dan menjadi sasaran IED di daerah pedesaan Kirkuk dan Diyala. Peningkatan serangan terlihat di musim panas lalu ketika para militan memanfaatkan kesempatan saat pemerintah Irak tengah fokus menangani pandemi virus corona.

Dua Pemboman pada Kamis (21/1) terjadi beberapa hari setelah pemerintah Irak dengan suara bulat setuju untuk mengadakan pemilihan awal pada bulan Oktober. 
Perdana Menteri Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah mengumumkan pada bulan Juli bahwa pemungutan suara awal akan diadakan untuk memenuhi tuntutan pengunjuk rasa anti-pemerintah.

Puluhan ribu demonstran turun ke jalan tahun lalu untuk menuntut perubahan politik, dan diakhirinya korupsi yang merajalela dan layanan yang buruk. Lebih dari 500 orang tewas dalam demonstrasi massal ketika pasukan keamanan menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Irak juga bergulat dengan krisis ekonomi parah yang disebabkan oleh harga minyak rendah yang telah menyebabkan pemerintah meminjam secara internal dan berisiko menghabiskan cadangan mata uang asingnya. 

Bank Sentral Irak mendevaluasi dinar Irak hampir 20% tahun lalu untuk memenuhi kewajiban pengeluaran. [mt]

 


Komentar Pembaca