Harga Kedelai Berpotensi Meroket Hingga Mei

Ekonomi  KAMIS, 21 JANUARI 2021 | 07:25 WIB

Harga Kedelai Berpotensi Meroket Hingga Mei

net

Harga kedelai berpotensi meningkat sampai mei 2021, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mengaku kebingungan jika harga kedelai naik terus-menerus.

"Sesuai informasi teman-teman importir itu harga kedelai akan naik terus sampai Mei 2021. Kalau naik lagi kami bingung lagi," ujar Ketua Gakoptindo Aep Syaifudin dalam rapat bersama Komisi IV DPR, Rabu (20/1).

Ia menyatakan harga kedelai sudah naik sejak akhir tahun lalu. Rata-rata harga kedelai sejak Januari-September 2020 sebesar Rp6.750 per kg.

"Ini masih ditambah ongkos angkut dari gudang Rp1.000 atau Rp1.500, bergantung jarak gudang itu ke tempat anggota kami, karena anggota kami ada di Jakarta, Bogor, Cilacap, dan Jambi," kata Aep.

Harga kedelai dari importir naik sejak September 2020 menjadi sekitar Rp8.500 per kg. Namun, jika ditambah ongkos angkut menjadi Rp9.200-Rp10.000 per kg.

"Waktu beli Rp6.750 per kg, biaya produksi itu sekitar Rp3.000. Jadi modal Rp10 ribu, harga tempe Rp11 ribu-Rp12 ribu per kg. Lalu pas harga kedelai naik, jadi lebih dari Rp9.000 maka biaya produksi kami menjadi Rp13 ribu," jelas Aep.

Hal itu membuat perajin tahu dan tempe menjerit. Oleh kare itu, Aep menyebut pihaknya sempat mogok produksi karena merugi.

Namun, setelah itu perajin pun terpaksa menaikkan harga tahu dan tempe di pasar tradisional. Total kenaikannya sejauh ini maksimal 20 persen.

"Akhirnya pedagang di pasar mengerti kami yang tadinya jual Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kg, lalu Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu, lalu jadi Rp15 ribu per kg. Tapi kenaikan kami tidak seberapa, hanya maksimal 20 persen," kata Aep.

Ia mengaku penjualan tahu dan tempe sempat turun saat ada kenaikan harga. Namun, saat ini penjualannya sudah kembali normal.

"Pertama-tama penjualan berkurang, sekarang sudah normal," ucap Aep.

Sementara, ia mengaku lebih suka dengan kedelai impor. Sebab, kualitasnya sesuai standar yang dibutuhkan pengrajin tahu dan tempe.

"Kalau lokal itu biji kedelai tidak standar, ada yang besar dan kecil. Pas beli juga kotor, di dalam karung ada tanah, ranting, daun," ujar Aep.

Ia mencontohkan 1 kg kedelai impor bisa digunakan untuk membuat 1,8 kg tempe. Sementara, 1 kg kedelai lokal hanya cukup untuk membuat 1,4 kg-1,5 kg tempe.

"Mengembangnya beda, tapi masyarakat tidak mengerti," imbuhnya.

Selain itu, pasokan kedelai impor selalu terjamin ketimbang lokal. Selama ini, pasokan kedelai lokal tak pasti selalu ada.

"Padahal, kami tiap hari harus produksi. Kalau produksi gunakan kedelai lokal, hari ini ada, besok tidak, jadi kami bingung," jelas Aep. [irm]


Komentar Pembaca