Rizal Ramli: Hakim MK Cupet, Picik, Kekanak-kanakan

Polhukam  MINGGU, 17 JANUARI 2021 | 16:10 WIB

Rizal Ramli: Hakim MK Cupet, Picik, Kekanak-kanakan

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak Judicial Review (JR) yang diajukan Rizal Ramli, Kamis (14/1/2021), karena ekonom senior itu tidak mampu membuktikan dirinya sebagai pihak yang dirugikan oleh aturan Presidential Threshold 20 persen. Rizal Ramli pun angkat bicara.

Mengenai keputusan MK tersebut, Minggu (17/1/2021), Rizal Ramli memberi penjelasan kepada para wartawan. Menurutnya, sejak awal dia sudah skeptis dengan MK, sehingga pengajuan  JR sebenarnya urung dia lakukan. melihat track record MK yang selama ini lebih menjadi “Mahkamah Kekuasaan”.

Menurut Rizal Ramli, keputusan-keputusan MK terkait kebijakan selama ini lebih banyak membenarkan status quo.

“Jadi wajar kami skeptis. Tetapi saya tidak mau suudzon, atau praduga yang negatif. Itulah alasan kami tetap mengajukan JR ini. Namun hasilnya ternyata seluruh Hakim MK menolak legal standing kami,” kata dia.

Rizal Ramli mengaku kecewa dengan putusan MK tersebut karena tidak memiliki argumen hukum yang kuat. MK disebutnya lebih mendengarkan suara kekuasaan dan merasa ketakutan jika membiarkannya hadir di pembahasan substansi perkara.

“Para hakim di MK tidak memiliki bobot intelektual, kedewasaan akademik, dan argumen hukum yang memadai untuk mengalahkan pandangan kami,“ tegasnya.

Seperti argumen bahwa sistem Presidential Threshold 20 persen merupakan legalisasi dari sistem politik uang dan kriminal yang merusak kehidupan bernegara dan merugikan kepentingan sosial ekonomi rakyat.

Di seluruh dunia ada 48 negara yang menggunakan sistem pemilihan dua tahap seperti di Indonesia tetapi tidak ada pembatasan semacam Presidential Threshold.

Ada negara seperti Ukraina yang bahkan memiliki 39 calon presiden, dengan 18 orang dicalonkan parpol yang berbeda dan 21 orang dicalonkan independen.

Namun itulah esensi demokrasi yang sesungguhnya, menurut Rizal Ramli. Artinya, rakyat yang menyortir dan memilih calon presiden. Bukannya parpol yang melakukan sortir dan pre-seleksi calon presiden berdasarkan kriteria kekuatan finansial.

“Di Indonesia capres-cawapres harus bayar atau ‘menyewa’ parpol-parpol untuk bisa dicalonkan. Para hakim MK yang menolak pembahasan masalah yang sangat prinsipil ini menunjukkan kelemahan pemahaman mereka terhadap sistem demokrasi dan tanda dari gejala kepicikan dan kecupetan berpikir,” tegasnya.

Selain itu, MK juga akan sulit membantah bahwa bahwa akibat sistem tersebut, kekuatan uang menjadi sangat menentukan bagi pemilihan pemimpin di Indonesia.

Kelompok utama yang mendukung sistem demokrasi kriminal adalah para bandar/cukong yang membantu biaya menyewa parpol, pollster, public relations, dan kampanye di media sosial sang calon.

Begitu calon menang, dia lebih mengabdi kepada para bandar dan cukong, melupakan kepentingan nasional dan rakyat.

“Seluruh hakim MK yang berpikiran picik dan cupet itu menghindar dari pembahasan yang sangat penting dengan cara menolak posisi legal standing Dr. Rizal Ramli,” tegasnya.

Ia menyebut ini cara cupet dan picik. Semua itu menunjukkan lemahnya basis argumen MK sehingga menggunakan cara kekanak-kanakan untuk menutup kesempatan melakukan pembahasan tentang sistem pemilu yang bersih dan amanah.

“Kami sedang mempertimbangkan opsi-opsi selanjutnya. Ini untuk mendorong pembahasan yang betul-betul berbobot dan ilmiah tentang sistem demokrasi kriminal vs sistem demokrasi yang bersih dan amanah,” lanjutnya.

“Dari 12 kasus gugatan Judicial Review tentang Presidential Threshold 20 persen di MK sebelumnya, sebagian besar diproses dan dibahas oleh MK. Kok bisa dalam gugatan RR, MK menolak legal standing-nya?” katanya.[ros]


Komentar Pembaca