PM Mesir Peringatkan Warganya Hadapi Gelombang II COVID-19

Internasional  MINGGU, 22 NOVEMBER 2020 | 03:00 WIB

PM Mesir Peringatkan Warganya Hadapi Gelombang II COVID-19

foto/net

Pemerintah Mesir pada Jumat (20/11) memperingatkan negara itu untuk bersiap-siap menghadapi gelombang kedua serangan virus korona (COVID-19) karena jumlah kasus baru terus meningkat.

Perdana Menteri Mesir, Mostafa Madbouly mengatakan, warga negara harus mematuhi langkah-langkah kesehatan dan keselamatan dan mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan untuk membantu memerangi penyebaran virus.

Perdana Menteri juga mendesak otoritas terkait, untuk menegakkan aturan secara ketat di tempat kerja dan di perusahaan-perusahaan guna menahan wabah.

Mostafa menunjukkan bahwa gelombang kedua serangan virus corona, yang telah melanda sejumlah negara di dunia, tampaknya lebih berbahaya daripada yang serangan yang pertama.

"Segala upaya harus dilakukan untuk menghindari adanya gelombang kedua," katanya.

Perdana Menteri pun mengeluarkan arahan untuk memperketat peraturan anti-virus dan menghukum mereka yang terbukti melanggar hukum. 
Kementerian diperintahkan untuk mengambil tindakan yang tepat termasuk langkah-langkah untuk mengurangi jumlah para pekerja di tempat kerja dan memberikan prioritas kepada pekerja dengan penyakit kronis.

Pada Kamis (19/11), Kementerian Kesehatan Mesir mengumumkan, telah mencatat adanya kasus baru COVID-19 sebanyak 342 kasus, naik dari 329 pada Rabu (18/11), dan 275 kasus pada Selasa (17/11), dan 242 kasus  pada Senin (16/11). 

Sebanyak 111.955 orang di negara itu kini telah dilaporkan tertular virus tersebut.

Jumlah kasus baru pada Kamis (19/11) adalah yang tertinggi yang tercatat setidaknya selama sebulan, dan 13 kasus meninggal tercatat pada Rabu (18/11), sehingga jumlah total yang meninggal akibat COVID-19 di Mesir menjadi 6.508 kasus. 

Juru bicara Kabinet Mesir, Nader Saad, mengatakan pemerintah Mesir semakin prihatin tentang merebaknya virus baru-baru ini di kawasan dan negara-negara Eropa.

Dia menyatakan bahwa kegagalan untuk mengikuti tindakan pencegahan dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah kasus di negara tersebut, dan menambahkan bahwa komite krisis khusus telah dibentuk untuk menangani kasus Covid-19 yang meningkat.

Saad mencatat, bahwa Mostafa telah meminta lembaga pemerintah dan kementerian untuk mengurangi, jika memungkinkan, jumlah karyawan yang dibutuhkan untuk bekerja dan mengatakan, bahwa staf apapun tidak boleh memberikan layanan kepada warga yang tidak memakai masker.

Namun, juru bicara tersebut mengatakan, bahwa hanya sekitar 300 kasus COVID-19 telah dilaporkan di sekolah-sekolah Mesir, yang memungkinkan tahun ajaran berlanjut seperti sekarang, dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai alternatif.

Dia menambahkan, bahwa prospek penguncian (lockdown) di Mesir adalah sebuah kemungkinan tetapi akan menjadi pilihan terakhir. 

"Jika kita meniru negara-negara yang menerapkan lockdown total, kita akan berada dalam situasi ekonomi yang sulit," kata Saad. [mt]
 


Komentar Pembaca