Sebut Polisi-Pol PP Tak Berani, IPW Apresiasi TNI

Polhukam  SABTU, 21 NOVEMBER 2020 | 15:10 WIB

Sebut Polisi-Pol PP Tak Berani, IPW Apresiasi TNI

Ketua Presidium  Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane memberikan apresiasi tinggi atas ketegasan Anggota TNI menurunkan baliho-baliho bergambar imam besar FPI Habib Rizieq Shihab (HRS).

Atas tindakan tegas yang diperintahkan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurrahman itu, Neta mengatakan pencabutan poster-poster HRS seharusnya dilakukan Satpol PP bersama Polri. Sebab ketentuan itu diatur dalam peraturan daerah (perda), di mana disebutkan ```semua pemasangan spanduk, poster, dan baliho harus memiliki izin dan tidak boleh dipasang seenaknya.

"Namun, Satpol PP dan Polri tidak berani mencabut baliho-baliho Rizieq," kata Neta dalam keterangan pers yang diterima hari ini, Sabtu (21/11/2020).

 IPW memberi apresiasi kepada Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang sudah memerintahkan anggotanya mencabuti baliho Rizieq tersebut.

"Diharapkan jajaran Kodam Jaya segera membersihkan semua baliho Rizieq yang tanpa izin tersebut," jelasnya.

 Tidak itu saja. IPW bahkan mendukung manuver TNI di wilayah sipil di Petamburan yaitu di sekitar markas FPI yang dipimpin HRS. Sebab hal ini harus dilakukan TNI untuk mengantisipasi situasi ketahanan negara dan keutuhan NKRI.

Rupanya diam-diam Neta memperhatikan bahwa HRS disebutnya sudah beberapa kali bermanuver yang bisa mengganggu keutuhan NKRI.

"Di antaranya jika datang ke Indonesia Rizieq mengatakan akan memimpin revolusi seperti di Iran, kemudian memberi ancaman "memenggal kepala" dan lain-lain," paparnya.

 Menurut dia, meskipun itu hanya ancaman kosong, ucapan Rizieq itu bisa berpotensi memicu kekacauan dan gangguan keamanan serta mengganggu keutuhan NKRI.  Pengamat kepolisian yang juga mantan wartawan ini menjelaskan ucapan dan ancaman Rizieq itu makin riuh tatkala poster dan balihonya terlihat di mana-mana dan tanpa izin.

"Sehingga terkesan Rizieq dan orang-orangnya seakan tidak tersentuh hukum. Ironisnya, dalam situasi ini jajaran kepolisian hanya berdiam diri," kata dia.

Dia menilai manuver Rizieq Shihab yang melakukan kerumunan massa di tengah pandemi Covid-19 dibiarkan begitu saja oleh pihak kepolisian.

"Akibatnya Rizieq bebas bermanuver mulai dari saat tiba di Bandara Soetta, di rumahnya di Petamburan, dan di Puncak, Bogor," ungkapnya.


 Ia menegaskan bebasnya Rizieq bermanuver seakan menggambarkan tidak adanya aparatur negara yang berani menghadapi petinggi FPI itu.


"Negara sepertinya kalah dan tidak berdaya menghadapi manuver Rizieq," tegasnya.

Menurut Neta, dalam situasi ini sangat wajar jika TNI turun tangan mengambilalih pengendalian situasi dengan melakukan manuver di sekitar wilayah Petamburan, dan memerintahkan anggotanya mencabuti baliho Rizieq. Ia menegaskan semua ini dilakukan TNI demi keutuhan NKRI dari ancaman dan manuver Rizieq maupun FPI.

"Manuver TNI di sekitar Petamburan dan pencabutan baliho Rizieq ini sekaligus menunjukkan bawah negara tidak boleh kalah pada pihak-pihak yang bermanuver ingin mengacaukan atau merusak keutuhan NKRI," kata Neta.[ros]


Komentar Pembaca