Masih Adakah Rekayasa Untuk Menjerat HRS?

Opini  RABU, 11 NOVEMBER 2020 | 05:32 WIB

Masih Adakah Rekayasa Untuk Menjerat HRS?

Penyambutan kepulangan Habib Rizieq Shihab/mch1

IRONIS, musuh musuh HRS khususnya yang ada di pemerintahan ini, karena kebenciannya pada Islam dan kepada ulama, maupun karena kecintaannya pada kursi jabatannya, justru telah berhasil membesarkan tokoh HRS. Insha Allah semakin mereka memusuhi dan meneruskan kejahatan dan fitnahnya kepada HRS justru HRS semakin moncer.

Dan para pemfitnah HRS itu, dengan segala upaya rekayasanya pastilah kini semakin gelisah dan kebingungan sendiri. Ibaratnya semakin ngos-ngosan, bicaranya suka nglantur.

Kekuatan HRS adalah karena istikomah, tidak berburu kursi jabatan, tidak mau di sogok harta maupun jabatan. Barang yang amat langka. Istikomah memerangi ketidakadilan dan menyerukan revolusi akhlak. Seruan yang sejalan dengan misi Nabi Besar Muhammad saw yaitu diutus Allah Swt untuk memperbaiki akhlak manusia.

Semoga tidak ada lagi upaya merekayasa kasus kasus untuk HRS. Counter productive. Hanya akan menimbulkan kemarahan rakyat. Bukan saja dari para pendukungnya yang berjuta juta itu tapi juga dari mereka yang selama ini netral bisa berubah menjadi pembela fanatik HRS sebab rakyat yang lagi hidup susah semakin sensitif dan sudah bosan dengan kedholiman dan ketidakadilan hukum serta dugaan rekayasa hukum.

Termasuk dugaan perlindungan penguasa kepada para penjahat korupsi dan politik khususnya kasus Harun Masiku. Rasanya tidak masuk akal bila Pemerintah khususnya penegak hukum tidak berdaya menangkap Harun Masiku.

Logis saja bila kemudian menimbulkan macam macam dugaan atau spekulasi seperti siapakah yang melindungi Harun Masiku? Atau jangan jangan Masiku sudah di bunuh, dll.

Lebih baik menyelesaikan kasus kasus yang nyata itu daripada melayani hasrat atau nafsu oknum oknum yang ingin ngotak ngatik HRS yang hanya merepotkan aparat penegak hukum dan justru bisa mengganggu pemulihan ekonomi.

Selamat datang HRS. Selamat berdakwah, berdakwah dan hanya berdakwah.[***]

OLEH: FUAD BAWAZIER, Ekonom Senior dan Mantan Menteri Keuangan RI


Komentar Pembaca