Melalui Program Atensi, Kemsos Kuatkan Komitmen Layanan Anak Penyandang Disabilitas

Sosial  RABU, 30 SEPTEMBER 2020 | 21:25 WIB | Ida Iryani

Melalui Program Atensi, Kemsos Kuatkan Komitmen Layanan Anak Penyandang Disabilitas

foto/net

Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial, Eva Rahmi Kasim, mewakili Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat menyampaikan materi Kebijakan Kementerian Sosial dalam memberikan Layanan kepada Anak Penyandang Disabilitas di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal).

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan 'Focus Group Discussion'(FGD) tentang Layanan Anak Penyandang Disabilitas Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, yang dilaksanakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Hotel Red Top Pecenongan, Jakarta, Selasa (29/9).

"Anak penyandang disabilitas adalah anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intektual, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama, yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak," Kata Eva.

"Meskipun menyebutkan definisi secara umum, tetapi ada hal yang lebih khusus pada anak, karena anak memiliki masa tumbuh kembang yang masih panjang sehingga dalam undang-undang nomor 8 tahun 2016, disebutkan adanya hak perlindungan khusus untuk anak, hak untuk tumbuh berkembang, hak mendapatkan perawatan, pengasuhan, bahkan keluarga pengganti, juga hak dilindungi dalam pengambilan keputusan, karena hal-hal terkait pengambilan keputusan disabilitas, justru lebih banyak ditentukan oleh orang tua atau walinya," tegas Eva.

Atensi Penyandang Disabilitas merupakan layanan rehabilitasi sosial yang menggunakan pendekatan berbasis keluarga, komunitas, dan/atau residensial secara dinamis, integratif dan komplementari melalui kegiatan dukungan pemenuhan hidup layak, perawatan sosial/pengasuhan disabilitas, dukungan keluarga, terapi (fisik, psikososial, mental spiritual), latihan keterampilan/kewirausahaan, bantuan dan asistensi sosial serta dukungan aksesibilitas," tambah Eva.

Langkah pendampingan terhadap penyandang disabilitas yaitu dengan selalu mengingatkan, untuk mengikuti anjuran pemerintah dalam menjaga jarak, menganjurkan kegiatan-kegiatan dilakukan secara online, dan memberikan semangat dan membagi informasi yang positif.

Perlakuan khusus bagi anak penyandang disabilitas yakni dengan memastikan alat bantu steril, baik kruk maupun kursi roda dengan menyemprotkan disinfektan, pastikan alat bantu pegangan tangan di kamar mandi/rumah steril, dan jika keluar rumah tetap terapkan 'phisycal distancing'.

"Seringkali keluarga memperlakukan anak penyandang disabilitas dengan 'over protected', bahkan sebaliknya, mengabaikan dan justru mengeksploitasi anak disabilitas," kata Eva.

Terkait masa pandemi ini, Eva menjelaskan, bahwa Kemensos selain memberikan bantuan sosial kebutuhan dasar, juga layanan psikososial serta pendampingan yang dilakukan para pekerja sosial dan tenaga pendamping rehabilitasi sosial anak penyandang disabilitas.

Layanan juga diberikan kepada anak yang orang tuanya sedang menjalani karantina terpapar Covid-19.

"Jika terjadi hambatan atau masalah dapat menghubungi layanan respon kasus melalui kontak telepon 1500771," tambah Eva.

Eva menyatakan, bahwa dalam melakukan pendampingan Kementerian Sosial bekerja sama dengan Dinas Sosial setempat, dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang terkait dengan anak.

Kegiatan ini dikuti oleh 200 orang melalui rapat koordinasi virtual, 30 peserta orang untuk FGD, yang merupakan perwakilan dari Yayasan Sayap Ibu, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Yayasan Tunas Ganda, Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), dan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). [mt]


Komentar Pembaca