Ibadah Umrah Siap Dibuka, Arab Saudi Pastikan Jamaah Aman

Kabar Tanah Suci  SENIN, 28 SEPTEMBER 2020 | 23:45 WIB

Ibadah Umrah Siap Dibuka, Arab Saudi Pastikan Jamaah Aman

foto/net

Moeslimchoice. Ketika Arab Saudi mulai buka kembali untuk bisnis, banyak orang Saudi dan ekspatriat menyambut baik dimulainya ibadah umrah secara bertahap sebagai tanda selamat datang, meski harus tetap waspada.

Pembukaan kembali ibadah Umrah akan dilakukan dalam tiga tahap, masing-masing dengan kapasitas tertentu dan di bawah pengawasan yang ketat, dengan menerapkan standar yang sama seperti yang diterapkan saat pelaksanaan ibadah haji Agustus lalu. 

Menteri Haji dan Umrah Saudi, Dr. Mohammed Saleh Benten berkata bahwa "kementerian ada di sini untuk membantu para jamaah."

Dia juga membantah rumor yang mengatakan bahwa Arab Saudi akan mengenakan biaya untuk memesan slot waktu.

Menkeu mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji, setiap langkah dilakukan komputerisasi menggunakan AI dengan Kementerian Haji dan Umrah meluncurkan aplikasi umrah baru, Eatmarna, pada Minggu (27/9). 

Ini akan membantu menegakkan standar kesehatan di tengah pandemi COVID-19, sehingga memudahkan jamaah untuk memesan Umrah mereka asalkan diizinkan oleh pihak berwenang.

Pengguna yang mengunduh aplikasi tersebut, juga harus memastikan bahwa mereka terdaftar dengan aplikasi Tawakkalna Kementerian Kesehatan untuk memeriksa status kesehatan pengguna dan kelayakan untuk menjalankan ibadah Umrah.

Dalam wawancara dengan program Al-Rased TV Nasional Saudi, Dr. Mohammed Saleh Benten mengumumkan, bahwa tahap pertama akan memungkinkan 6.000 jamaah setiap hari, dan akan dibagi menjadi 12 kelompok dalam waktu 24 jam. 

Ini sambil mempertahankan langkah-langkah jarak sosial dengan bantuan pihak berwenang untuk memastikan bahwa mereka menerima perawatan yang sama yang diberikan kepada jamaah haji, dan menambahkan, bahwa itu akan "lebih akurat, lebih tepat dengan lebih banyak tindakan pencegahan di tempat," katanya.

"Kami juga menetapkan kelompok usia antara 18-65 tahun bagi mereka yang mampu. Mereka yang tidak mampu, bisa memakai kursi roda yang siap digunakan untuk melakukan Thawaf dan Sa'i, tetapi dalam melakukan Thawaf (tindakan mengelilingi Ka'bah tujuh kali) akan konsisten dengan kecepatan dan jalan yang sama," kata Menteri Benten.

"Kami memiliki rencana implementasi yang akurat untuk memfasilitasi arus warga dari tanggal 17 Safar (4 Oktober) untuk melakukan ibadah Umrah," tambah Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Dr. Mohammed Saleh Benten.

Menteri mengatakan, bahwa jamaah akan memiliki jangka waktu tertentu untuk melakukan ibadah.

Jamaah Umrah yang akan tiba dari luar Makkah, yang memesan hotel dan tempat tinggal, akan diminta untuk bertemu di check point 15 menit sebelum jadwal keberangkatan mereka ke Masjidil Haram, di mana mereka akan bertemu dengan pemandu dan spesialis kesehatan untuk melakukan pemeriksaan di periode waktu yang sangat spesifik dalam slot waktu yang mereka tentutan. 

"Jamaah haji yang datang dari luar negeri akan mendapat perlakuan yang sama dengan warga Arab Saudi. Mereka akan dapat memesan slot waktu dengan baik, dan tiba dengan mengetahui sepenuhnya bahwa mereka akan diurus dari kedatangan hingga keberangkatan," kata Menteri itu.

Khairallah Al-Zahrani, seorang guru sekolah, mengatakan: "Keputusan untuk melanjutkan umrah secara bertahap, setelah tingkat kasus virus corona berkurang dengan dibatasi jumlahnya adalah keputusan bijak yang memenuhi tuntutan jamaah dan langkah-langkah kesehatan untuk umrah yang aman."

Al-Zahrani mengatakan, telah beberapa kali melakukan Umrah, dan tidak akan mengajukan izin Umrah untuk saat ini.

"Banyak Muslim dari berbagai negara yang tinggal di Arab Saudi, dan orang-orang ini sangat ingin melakukan Umrah setelah masa penutupan yang lama karena pandemi," katanya.

Dia mengatakan, bahwa pencabutan larangan umrah secara bertahap mencerminkan apa yang dikatakan tentang keselamatan jamaah ke tempat suci yang menjadi prioritas utama Arab Saudi.

"Ini mencerminkan ketajaman Arab Saudi untuk mengendalikan virus corona sampai vaksin diproduksi," kata Al-Zahrani.

Seperti Al-Zahrani, Sattam Jassar, seorang pekerja dry cleaning Yaman, mengatakan kepada Arab News, bahwa dia telah berada di Arab Saudi selama bertahun-tahun, dan dia tidak bersedia untuk mengajukan izin Umrah.

"Saya merasa pandemi ini akan segera berakhir, dan saya bisa Umrah dengan nyaman. Banyak ekspatriat di Arab Saudi yang izin tinggalnya telah berakhir bersiap untuk kembali ke negara mereka. Saya percaya orang-orang ini harus diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah Umrah, karena mereka mungkin tidak menemukan kesempatan lagi untuk mengunjungi Masjidil Haram di Makkah," kata Jassar.

"Negara ini dikenal tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan jamaah haji," kata Jassar.

Di sisi lain, Saleh Al-Qudaimi, seorang pengemudi keluarga Yaman berusia akhir lima puluhan, mengatakan bahwa dia akan melakukan semua yang dia bisa untuk menjadi kelompok pertama yang melakukan ibadah Umrah.

"Anda tidak bisa membayangkan betapa tidak sabarnya saya mengenakan pakaian putih dan mengelilingi Ka'bah yang sakral. Pandemi ini telah membuat saya kehilangan kesenangan yang saya rasakan, ketika berada di Masjidil Haram. Saya ingin Umrah setidaknya sekali lagi dalam hidup saya," katanya.

"Di tengah pandemi kasus COVID-19, pelaksanaan ibadah haji berakhir sukses, dan ini tidak mungkin terjadi jika pengelolaan hajinya tidak profesional. Manajemen ini juga akan membuat ibadah Umrah menjadi kisah sukses lainnya, dengan langkah-langkah kesehatan yang diambil pihak berwenang," tambah Al-Qudaimi. [mt/AN]


Komentar Pembaca