Di Tengah Kebuntuan Bentuk Pemerintahan Baru, PM Lebanon Mengundurkan Diri

Internasional  SABTU, 26 SEPTEMBER 2020 | 23:00 WIB

Di Tengah Kebuntuan Bentuk Pemerintahan Baru, PM Lebanon Mengundurkan Diri

foto/net

Moeslimchoice. Perdana Menteri Lebanon yang ditunjuk mengundurkan diri pada Sabtu (26/9), di tengah kebuntuan politik atas pembentukan pemerintah baru, dan ini memberikan pukulan bagi upaya Presiden Prancis, Emmanuel Macron untuk memecahkan kebuntuan berbahaya di negara yang dilanda krisis itu.

Pengunduran Mustapha Adib sebenarnya telah diumumkan hampir sebulan, setelah dia ditunjuk untuk menjadi PM Lebanon, setelah pertemuannya dengan Presiden Lebanon, Michel Aoun, yang kemudian tak lama setelah itu Adib mengatakan kepada wartawan bahwa dia telah mundur.

Pemimpin Prancis telah mendesak politisi Lebanon, untuk segera membentuk Kabinet yang terdiri dari para spesialis independen yang dapat bekerja, untuk memberlakukan reformasi mendesak untuk mengekstraksi Lebanon dari krisis ekonomi dan keuangan, yang menghancurkan yang diperburuk oleh ledakan 4 Agustus di pelabuhan Beirut.

Sementara itu, politisi Muslim Sunni terkemuka Saad al-Hariri mengatakan pada Sabtu (26/9), bahwa siapa pun yang merayakan kegagalan inisiatif Prancis untuk membuat para pemimpin Lebanon yang rapuh membentuk pemerintahan baru, akan menyesal menyia-nyiakan kesempatan itu.
 
"Kami mengatakan kepada mereka yang bertepuk tangan atas runtuhnya inisiatif Presiden Prancis Emmanuel Macron hari ini, bahwa Anda akan gigit jari dalam penyesalan," katanya dalam sebuah pernyataan.

Samir Geagea, ketua Partai Pasukan Lebanon, dalam pernyataannya mengatakan: "Setiap dana talangan hanya dapat dipikirkan dengan pemerintah yang benar-benar independen. Adapun penunjukan Menteri dari faksi kelompok yang berkuasa, itu membuktikan kegagalannya dan membawa negara ke arah yang dituju."

Mantan Menteri, Mayjen Ashraf Rifi juga mengatakan bahwa, "Adib, yang memerangi mafia senjata dan korupsi selama sebulan, keluar dengan kepala tegak dan tidak ikut serta menipu orang Lebanon dengan sebutan pemerintah untuk menguji pelaku eksperimen."

"Celakalah semua orang yang berkontribusi pada keringanan hukuman dan kelangsungan sistem persenjataan dan korupsi. Tidak ada lagi plafon di Lebanon di bawah plafon yang ditempel Mustafa Adib," kata Rifi.

Upaya PM Adib yang didukung Prancis, telah menemui banyak hambatan, setelah kelompok utama Syiah di negara itu, Hizbullah dan Amal, bersikeras untuk mempertahankan kementerian keuangan utama. 

Desakan mereka muncul setelah pemerintah AS menjatuhkan sanksi pada dua politisi senior yang dekat dengan Hizbullah, termasuk mantan Menteri Keuangan.

Kedua kelompok tersebut juga bersikeras untuk menunjuk Menteri Syiah di Kabinet baru dan keberatan dengan cara Adib membentuk pemerintahan, tanpa berkonsultasi dengan mereka.

Setelah pertemuan singkat dengan Aoun pada Sabtu (26/9), Adib mengatakan dia mundur karena jenis Kabinet yang ingin dia bentuk "pasti akan gagal" dan dia ingin melindungi persatuan Nasional.

Lebanon, adalah negara bekas protektorat Prancis, terperosok ke dalam krisis ekonomi dan keuangan terburuk negara itu dalam sejarah modernnya.

Negara gagal membayar kembali utangnya untuk pertama kalinya pada bulan Maret, dan mata uang lokal telah runtuh, yang menyebabkan hiperinflasi dan melonjaknya kemiskinan dan pengangguran di negara itu.

Krisis ekonomi ini diperburuk dengan adanya ledakan besar yang terjadi pada 4 Agustus lalu di pelabuhan Beirut, yang disebabkan oleh ledakan ribuan ton amonium nitrat, dan menewaskan hampir 200 orang, melukai ribuan orang, serta menyebabkan kerugian senilai miliaran dolar.

Negara ini sangat membutuhkan bantuan keuangan, tetapi Prancis dan kekuatan internasional lainnya telah menolak untuk memberikan bantuan sebelum reformasi serius dilakukan. 

Krisis ini sebagian besar disebabkan oleh korupsi sistematis dan salah urus selama beberapa dekade oleh para penguasa Lebanon.

Pemimpin Prancis tersebut menggambarkan inisiatifnya, yang mencakup peta jalan dan jadwal reformasi, sebagai "kesempatan terakhir untuk sistem ini".

Pengunduran diri PM Mustapha Adib terjadi beberapa hari setelah Presiden Aoun sendiri secara blak-blakan mengatakan kepada wartawan bahwa Lebanon akan menuju "neraka" jika pemerintahan baru tidak segera dibentuk.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, dia mengkritik sekutu politiknya, kelompok Syiah Hizbullah dan Amal, karena bersikeras mempertahankan portofolio Kementerian Keuangan dalam pemerintahan baru, tetapi juga mengkritik Adib, karena berusaha membentuk pemerintahan dan memaksakan nama untuk posisi di Kabinet tanpa berkonsultasi dengan blok parlemen. [mt/AN]


Komentar Pembaca