Cerita "Alumni" Covid-19: Ujungnya Ujian Keimanan Dan Dimensi Spiritual

Kesehatan  SABTU, 26 SEPTEMBER 2020 | 17:30 WIB | RMOL

Cerita

Walikota Bogor, Bima Arya/Rep

MoeslimChoice | Walikota Bogor, Bima Arya berbagi cerita pengalamannya saat dinyatakan positif Covid-19 dari hasil swab test di RS Bogor Senior pada 19 Maret 2020. Bima pada saat itu dinyatakan sebagai pasien pertama yang dinyatakan positif.

"Saya pasien 001, tidak ada tempat bertanya. Saya nanya ke sebelah saya pasien 002, staf saya yang kondisinya sama dan belum banyak 'alumni' yang bisa ngasih cerita," kata Bima dalam diskusi Smart FM bertajuk "Covid-19: Suara Penyitas", Sabtu, 26/9/20.

Sehingga, pada saat itu, kata Bima, yang menyemangati adalah orang-orang yang sama sekali belum pernah mengalami terkena Covid-19.

"Saya tanya dokter, dok diobatin apa, dokternya cuma bilang gini, 'Pak Wali kan tahu kalau ini (Covid-19) belum ada obatnya'," tandas Bima.

Kondisi yang demikian, membuat Bima Arya sadar bahwa untuk bertahan dan berusaha agar sembuh dari virus asal Kota Wuhan, China itu hanyalah keyakinan pada diri sendiri untuk dapat sembuh.

Meskipun saat itu dia merasakan, indra perasa dan penciumanya terganggu dan mual-mual dimana gejalanya mirip demam berdarah.

"Ujung-ujungnya ini soal keimanan dan dimensi spiritual. Karena dari medis itu banyak yang ribet," ucap politisi PAN itu.

Saat isolasi, Bima lebih memilih untuk puasa dari media sosial agar tidak melihat pesan atau informasi terkait pandemi Covid-19 yang justru menambah beban pikiran.

"Hari ketiga, Pak Jokowi telepon, saya bilang, 'bapak sarankan kepada yang menjalani ujian Covid-19, ini bukan hanya sosial distancing, tapi sosial media distancing', karena itu bikin stres," ungkap Bima.

Sehingga Bima berkesimpulan kalau virus yang mulai menyerebak pada Desember 2019 itu terlebih dahulu menyerang pikiran dan perasaan baru setelahnya pernafasan.

"Kalau kita bisa memanage pikiran dan perasaan insyaAllah yang lainya bisa kita kelola," demikian Bima Arya. (wrn)


Komentar Pembaca