Bawa Virus Lebih Banyak, Anak-anak Lebih Berpotensi Besar Sebagai Penular COVID-19

Kesehatan  JUMAT, 25 SEPTEMBER 2020 | 07:05 WIB | Zulfa Fahmi

Bawa Virus Lebih Banyak, Anak-anak Lebih Berpotensi Besar Sebagai Penular COVID-19

Foto Ilustrasi/net

Moeslimchoice | Anak-anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 memiliki jumlah virus dalam darah atau viral load yang tinggi di saluran napas sehingga kemungkinan mereka menularkan individu lainnya sangat besar. 

Hal ini diungkapkan pakar Kesehatan Anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A saat Webinar Program Sekolah dan Pesantren Sehat oleh Unilever Indonesia, Kamis (24/9/20).

"Masyarakat perlu memahami bahwa meski seringkali tidak menunjukkan gejala, anak yang terinfeksi COVID-19 memiliki jumlah virus dalam darah atau viral load yang tinggi di saluran napas sehingga kemungkinan mereka menularkan individu lainnya sangat besar," katanya.

"Untuk meminimalkan risiko ini, maka biasakan anak melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan benar, dan pastikan mereka mendapatkan gizi seimbang sehingga imunitasnya tetap terjaga,” tambah dr. Mesty.

Lebih jauh lagi, guna mencegah lingkungan pendidikan menjadi klaster penyebaran COVID-19, dr. Mesty berpesan agar para pengajar serta orang tua terus menanamkan pentingnya protokol kesehatan, seperti memakai masker, sering mencucit angan dan menjaga jarak aman lebih dari dua meter, agar anak dapat lebih siap ketika nanti diperbolehkan kembali bersekolah.

"Hal ini menjadi sangat penting karena pakar kesehatan mengatakan bahwa perubahan perilaku berkontribusi 80% dalam mengendalikan kurvapan demi," ungkap dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Head of Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, Nurdiana Darus. Menurutnya, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada 16 Agustus, tercatat bahwa jumlah kematian anak (0-18 tahun) akibat COVID-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik, angkanya 1,1% lebih tinggi dari Tiongkok, Italia dan Amerika. 

"Data lain juga menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama terkait proporsi angka kejadian COVID-19 pada anak, yaitu sebesar 9,1%. Permasalahan ini pun makin menantang karena berbagai kegiatan harus tetap berjalan, termasuk belajar mengajar," paparnya.

Di masa pandemi program ini, lanjutnya, Program Sekolah dan Pesantren Sehat oleh Unilever Indonesia makin relevan sebagai upaya melindungi kesehatan anak, mempersiapkan mereka menghadapi era adaptasi kebiasaan baru, sekaligus menekan penularan COVID-19.

“Hasil evaluasi terhadap efektivitas program menunjukkan data menggembirakan, program ini berhasil merubah kebiasaan 43% anak untuk terbiasa mencuci tangan di lima waktu penting, dibandingkan sebelumnya yang hanya tiga kali sehari saja,” terang Nurdiana.

Penanaman PHBS secara intensif dan berkelanjutan, ungkapnya, menjadi sangat krusial karena anak merupakan salah satu golongan usia yang rentan terjangkit penyakit, termasuk COVID-19. 

Selain edukasi PHBS, melalui program Program Sekolah dan Pesantren Sehat, Unilever Indonesia Foundation turut menyumbangkan wastafel permanen untuk cuci tangan dan sikat gigi, serta mendistribusikan produk-produk kebersihan dan kesehatan di area sekolah dan pesantren.

“Kesuksesan program ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah, LSM lokal, para pengajar, siswa/i, para santri hingga orang tua, dan kami optimis dengan berkolaborasi kita dapat wujudkan Indonesia sehat. Semoga upaya berkelanjutan ini dapat memberikan dampak positif dan mendukung upaya pemerintah dalam memutus mata rantai transmisi virus SARS-CoV-2 di Indonesia,” tutup Nurdiana.

Sementara itu Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Sri Wahyuningsih mengungkapkan bahwa hak anak untuk mendapatkan pendidikan harus tetap diprioritaskan demi masa depannya. 

"Namun sebelum melepas mereka kembali bersekolah, kita harus membiasakan PHBS sejak dini sebagai kunci mengendalikan penyebaran COVID-19 di lingkungan pendidikan," katanya.

Selain memastikan seluruh sekolah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, terangnya, Kemendikbud RI sangat mendorong peranserta para pengajar serta orang tua untuk membekali anak dengan pengetahuan PHBS tepat sejak dini sebagai modal agar mereka dapat belajar dengan aman. 

Beradaptasi dengan kondisi dimana masih banyak sekolah melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ), lanjutnya, pelaksanaan program juga bertransformasi menjadi PJJ.

"Program ini merupakan kolaborasi bersama Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Kementerian Agama RI, sejalan dengan semangat #MariBerbagiPeran yang diusung Unilever Indonesia," katanya.

Kegiatan akan menargetkan para pemangku kepentingan, terutama pimpinan dan pengajar melalui Training of Trainers. Mereka didorong untuk membina dan mengembangkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Pesantren Sehat menuju better hygiene, better nutrition, dan better environment. 

"Pelatihan yang dilakukan secara online didukung dengan modul pembelajaran yang menarik bagi anak serta pendampingan bagi para pengajar." terangnya.

Selain itu, para dokter kecil dan duta santri juga dilibatkan sehingga dapat menyebarluaskan edukasi pada teman-temannya. 

"Tidak hanya edukasi dari pihak sekolah, program ini juga merangkul partisipasi para orang tua agar anak-anak mendapat support system yang lengkap untuk mendampingi mereka di era tatanan baru," tambahnya.[fah]


Komentar Pembaca