Menegakkan Kebenaran dan Melawan Kebathilan, Bagaimana Caranya?

Opini  SELASA, 22 SEPTEMBER 2020 | 06:50 WIB

Menegakkan Kebenaran dan Melawan Kebathilan, Bagaimana Caranya?

Foto ilustrasi/net

ISLAM Rahmatan Lilalamin adalah Islam yang membawa kedamaian dan kebaikan bagi semua orang. Lebih dari itu sejumlah mufassirin bahkan menyebutkan, kedamaian dan kebaikan yang dianjurkan Islam tidak hanya kepada sesama manusia, akan tetapi juga juga terhadap hewan, tanaman, serta alam semesta secara keseluruhan.

Kosa kata "Rahmatan Lilalamin" terdapat di dalam Al Qur'an (Surah Al Anbiya : 107) yang muncul sejak 15 abad yang lalu. Bunyi Surah Al Anbiya 107: " Tidaklah Kami mengutus Engkau (Muhammad) kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. 

Tafsir yang paling umum memaknainya perintah ini sebagai muara dari perintah-perintah lainnya termasuk perintah shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Logikanya, semua ibadah yang dilakukan seseorang akan sia-sia jika tidak bermuara pada buah kebaikan yang bisa dinikmati bersama.
 
Kosa kata "Rahmatan Lilalamin" ini memiliki makna sangat penting dan dalam bila dikaitkan dengan kehidupan sosial, khususnya kehidupan politik yang terkait langsung dengan kekuasaan dan kompetisi dalam meraih kekuasaan yang cendrung keras. 

Meskipun kosa kata ini sudah dikenal dan akrab bagi ummat Islam sejak generasi pertama,  akan tetapi faktanya ayat ini tidak mudah diamalkan. 
Terbukti sejarah panjang kekuasaan dalam Islam terkait perebutan kekuasaan tidak selalu berjalan damai. Akan tetapi juga sering berdarah-darah, bahkan sudah dimulai sejak generasi pertama yang notabene sahabat dan murid langsung Rasulullah.
 
Sejarah Islam juga mencatat darah yang tumpah akibat perebutan kekuasaan, bukan hanya terjadi antar kelompok kepentingan  atau antar kekuatan politik yang bersaing, akan tetapi juga antara adik dan kakak, antara suami dan istri, serta antara anak dan bapak.
 
Karena itu, untuk melaksanakan Islam Rahmatan Lilalamin diperlukan keluasan ilmu dan ketinggian akhlak, kebesaran jiwa serta kehalusan budi, yang diikuti ketauladanan dalam sikap, ucapan, maupun perbuatan.
 
Kebanyakan tokoh politik Islam gagal dalam masalah ini. Ada yang pada awalnya sangat Ikhlas dalam berjuang dan idealis dalam gagasan maupun kehidupan keseharian, kemudian berubah menjadi pragmatis dan cinta dunia, disebabkan tidak kuasa melawan manisnya kekuasaan yang tidak jarang diikuti oleh gelimang harta. 

Akan tetapi sering juga terjadi, tokoh-tokoh politik yang melihat potensi ummat yang sangat besar, lalu dieksploitasi dengan menggunakan narasi dan simbol-simbol Islam untuk meraih ambisi kekuasaannya. Bagian ini jauh lebih banyak dibanding yang termasuk kategori sebelumnya.
 
Karena itu ummat Islam harus pandai menilai sehingga tidak mudah terkecoh, mana yang tulus dalam berjuang Hal dan membela kepentingannya, dan mana yang cuma berpura-pura. 

Hal ini sebetulnya mudah dicermati, jika kita punya cukup informasi dan tekun mengikuti langkah-langkah politiknya. Apalagi saat ini ada jejak digital yang tidak mudah dihapus. 

Karena biasanya tokoh-tokoh seperti ini tidak satu kata dengan perbuatan, kata-kata indah hanya berhenti sampai pada retorika di panggung politik saja, sementara tindakan dan langkah kesehariannya berjalan dengan logikanya sendiri, yang tidak berbeda dengan para politisi pada umumnya.
 
Jika merujuk pada Rasulullah Muhammad SAW dalam kapasitasnya sebagai pemimpin politik maupun Kepala Negara Madinah, dalam memimpin beliau sangat sabar,  tidak pernah marah atau berkata kasar baik kepada sahabat maupun kepada lawan-lawan politiknya. 

Budi pekertinya halus dan luhur sehingga sangat dihormati kawan dan disegani lawan. Itulah sebabnya Rasulullah disebut Uswathun Hasanah atau contoh yang baik, Rasulullah juga disebut Qudwah atau model ideal. 

Kepada rakyatnya yang berbeda suku maupun agama, Allah memerintahkan agar Rasulullah memaafkan kesalahannya, memohonkan ampun untuk mereka, dan tetap mengajaknya bermusyawarah untuk urusan bersama, khususnya terkait dengan urusan negara (Al Qur'an, Surah Ali Imran :159). 

Selain Khalifahurasyidin yang dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam, ada nama Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyad, dan Salahuddin Al Ayyubi. Siapa nama-nama pemimpin atau politisi Islam yang mendekati mereka di era modern ? Tentu tidak mudah untuk menemukannya.[***] 

OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB 
Pengamat politik Islam dan demokrasi



Komentar Pembaca