Syeikh Ali Jaber Tak Yakin Pelaku Penikamnya Gila, Ini Alasannya

Daerah  SELASA, 15 SEPTEMBER 2020 | 04:55 WIB | RMOL Group

Syeikh Ali Jaber Tak Yakin Pelaku Penikamnya Gila, Ini Alasannya

Syeikh Ali Jaber/net

Moeslimchoice | Ulama dan pendakwah terkenal, Syeikh Ali Jaber meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penusukan yang dialaminya di halaman Masjid Falahudin Kecamatan Tanjungkarang Barat, Kota Bandarlampung, Minggu (13/9).

Syeikh Ali meyakini, ada motif tertentu yang membuat dirinya menjadi target pelaku.

"Iya memang tidak mungkin jika dia mengalami gangguan kesehatan bisa melakukan hal ini. Kita satu, masyarakat bersama aparat keamanan para ulama dan dai harus sinergi saling membantu dan mengisi," katanya, dalam press conference di RM Café n Resto Baba Rayan, Jl P. Emir M. Noer, Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung, Senin (14/9).

Syeikh Ali mengatakan, dari kabar yang beredar pelaku dianggap ada gangguan jiwa. Namun, dirinya tidak yakin sampai detik ini, sebab dirinya yang langsung berhadapan pelaku.

“Dan ketika pelaku  itu  menghadap saya, dia langsung  tusuk saya. Saya juga sempat pandangi matanya kemudian saya melawan dia, dia bukan orang-orang yang ada gangguan jiwa apalagi dengan tenaga dan kekuatan serta badan yang kurus kecil tapi dia bisa melakukan itu," jelas Syeikh Ali.

Menurutnya, ini orang terlatih bukan sembarang orang. "Dia betul-betul orang terlatih dan kemudian dia tusuk saya mengarah ke leher, namun jatuhnya ke tangan dan dia ingin cabut lagi untuk tusuk lagi. Tapi Allah SWT menolong saya, gerakan badan saya dan saya lawan akhirnya pisaunya patah di dalam tangan saya hampir kurang 8 cm dan pisaunya pun masih didalam," tegasnya.

“Ketika orang-orang amankan anak itu saya pakai tangan saya sendiri dengan mengucapkan bismillah, saya lepas pisau dan terus berdarah sampai ditangan saya penuh darah. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah membaik bahkan saya turun untuk mengisi kajian kembali dan presscon," tambah Syeikh Ali.

Ia berharap, meski peristiwa penusukan ini terjadi di Lampung, bukan berarti ini mejadi kebiasaan atau budaya Lampung.

"Budaya Lampung itu cinta damai, cinta ulama, cinta para astasis, cinta dakwah, cinta Alquran, apa lagikami datang kemari tidak pernah sepanjang dakwah kami selama 12 tahun di Indonesia kami tidak pernah diajarkan kekerasan apalagi hal-hal yang memecah belah umat. Justru kami ingin mempersatukan umat dan kami selalu ingin menjaga kebersamaan dibawah bendera merah putih," tutup Syeikh Ali.[fah]


Komentar Pembaca