Menteri Teten Gelar Pelatihan agar UMKM Sanggup Hadapi Dampak Covid-19

Ekonomi  SELASA, 08 SEPTEMBER 2020 | 09:25 WIB | Warni Arwindi

Menteri Teten Gelar Pelatihan agar UMKM Sanggup Hadapi Dampak Covid-19

MoeslimChoice | Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengakui unit-unit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia akan menghadapi uji ketahanan hingga beberapa tahun ke depan. Menurut dia, berbagai kajian menyimpulkan, UMKM dan perekonomian nasional harus bersiap menghadapi situasi Covid-19 dalam waktu cukup lama. 

Namun, lanjut Menkop UKM, bukan Indonesia saja yang mengalaminya. "Ada 295 negara yang berdampak cukup signifikan. Saya kira kita harus bisa bertahan dalam situasi global ini," kata Teten dalam pernyataan resmi, Selasa, 8/9/20.

Sebagai salah satu jalan keluar yang diupayakan kementeriannya, Teten mengungkapkan akan menggelar berbagai pelatihan selama pandemi. Targetnya, kata dia, koperasi dan UMKM dapat melakukan adaptasi bisnis dan adaptasi usaha. "Digitalisasi UMKM pun menjadi prioritas, termasuk inovasi produk," sambungnya. 

Ia mencontohkan, pengrajin batik di Jawa Tengah, awalnya mengalami penurunan penjualan luar biasa, tapi kemudian mereka bertahan. Mereka banting setir dengan berjualan produk pakaian rumah, seperti daster, celana pendek, dan lainnya, sehingga penjualan meningkat.

Selain itu, lanjutnya, banyak juga restoran dan kafe tutup karena tidak boleh berjualan. Lalu mereka banting setir membuat produk makanan kemasan, seperti frozen food, dan makanan siap saji dalam bentuk siap dimasak di rumah. Saat ini sektor makanan dan minuman industri perumahan tengah digandrungi.

“Jadi sekarang ini, baik penjualan lewat media sosial dan online luar biasa dan akan terus tumbuh. Penting saya kira harus bisa membaca peluang usaha yang masih ada di tengah pandemi Covid," ujarnya.

Sehari sebelumnya, Senin, 7/9/20, Menteri Teten  membuka secara virtual pelatihan bertema 'KUKM Eksis dan Mampu Beradaptasi dalam Pandemi Covid-19 dan Era New Normal' di Lombok Tengah. Dalam kesempatan itu ia mengungkapkan, bantuan yang diberikan pemerintah kepada UMKM disesuaikan dengan kondisi masing-masing. 

"Bagi UMKM yang memang terdampak sangat ekstrem, maka diberikan bansos. Bagi UMKM yang mengalami kesulitan pembiayaan sementara kegiatan usahanya masih berjalan, diberikan restrukturisasi pinjaman subsidi bunga 6 bulan dan keringanan pajak, serta pinjaman dengan bunga tiga persen," jelasnya.

Untu UMKM yang belum tersentuh perbankan (unbankable, diberikan Banpres produktif sebesar Rp2,4 juta. "Bantuan ini diberikan kepada 12 juta pelaku usaha mikro. Sampai pada akhir September 2020 ditargetkan sudah 100 persen," kata Teten.

Jika kemudian didapati perekonomian nasional pada Kuartal I 2021 masih landai, maka kedua bantuan itu (restrukturisasi dan banpres produktif usaha mikro) kemungkinan besar akan diteruskan. Agar dapat menghadapi ujian daya tahan tentunya. (wrn)


Komentar Pembaca