Bu Ani Masih Berharap Indonesia Terhindar dari Resesi

Ekonomi  SELASA, 25 AGUSTUS 2020 | 08:50 WIB | Warni Arwindi

Bu Ani Masih Berharap Indonesia Terhindar dari Resesi

MoeslimChoice | Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih berharap Kuartal III Tahun 2020 ekonomi nasional tetap tumbuh dan terhindar dari resesi. Strategi untuk mencapainya adalah percepatan penyerapan untuk pertumbuhan dengan pemerintah menggunakan seluruh instrumen untuk memulihkan ekonomi.

“Strategi percepatan penyerapan untuk kuartal ketiga ini menjadi kunci agar kita bisa mengurangi kontraksi ekonomi atau bahkan diharapkan bisa menghindari dari technical ressesion yaitu dua kuartal negatif berturut-turut meskipun kalau dilihat di kuartal kedua, kontraksi di bidang konsumsi dan investasi cukup menantang untuk memulihkan memang dibutuhkan kerja all out oleh semua pihak,” ungkap Menteri Ani dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 24/8/20.

Raker itu mengagendakan Pembahasan Perkembangan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Selain Menteri Keuangan, rapat itu juga mengagendakan kehadiran Gubernur Bank Indonesia (Gubernur BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (Ketua DK OJK) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (Ketua DK LPS).

Untuk program PEN yang telah ada (existing) dan telah memiliki alokasi DIPA akan dipercepat penyerapan dan ketepatan sasaran terus diperbaiki pada penyaluran tahap berikutnya. Sedangkan untuk program baru yang data dan mekanisme penyalurannya tersedia akan dilakukan percepatan proses penyelesaian regulasi dan revisi DIPA pada program PEN baru,  agar dapat segera dieksekusi.

Sementara untuk program usulan baru yang tidak didukung data valid dan membutuhkan perubahan regulasi yang rumit akan dialihkan untuk penguatan program existing yang implementatif.   “Untuk akselerasi dari program eksisting terus dilakukan percepatan dan tentu karena banyak program mencapai sampai Desember memang ada yang pencairannya per bulan seperti bansos," ungkap Menkeu.

Dalam rapat itu berkembang wacana bahwa aktivitas ekonomi berada dalam tren perbaikan, namun masih terbatas dan diliputi ketidakpastian yang tinggi sehingga belanja pemerintah harus diakselerasi menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi. Percepatan belanja pemerintah ini akan mendorong konsumsi dan investasi yang pada kemudian menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi kuartal III (Q3) kembali positif.

“Untuk berbagai belanja pemerintah baik belanja pegawai yang di mana pembayaran THR gaji ke-13 sudah direalisasi meskipun jumlahnya lebih sedikit karena tidak termasuk tukin. Untuk belanja barang mungkin ini yang paling menantang karena banyak belanja barang dari K/L adalah dalam bentuk travelling atau perjalanan dinas dan event-event yang sekarang mungkin tidak bisa dilaksanakan melalui kegiatan belanja barang dengan adanya work from home (WFH)," ujarnya.

Untuk konsumsi masyarakat, lanjut Menteri Ani, bansos diharapkan bisa meningkatkan daya beli masyarakat terutama untuk kelompok 45 persen warga di lapisan terbawah. "Namun, kita berharap untuk kelompok kelas menengah bisa juga mulai memulihkan kegiatan konsumsinya yang  sangat tergantung kepada confidence akan adanya penanganan covid secara cepat,” tandas Menkeu.

Bagaimana, apakah sudah confidence? Kita lihat akhir kuartal III (Juli-September) 2020. (wrn)


Komentar Pembaca