Ketenangan Jenderal Sigit

Oleh H Albiner Sitompul SIP, MAP

Opini  KAMIS, 20 AGUSTUS 2020 | 12:47 WIB

Ketenangan Jenderal Sigit

"KETENANGAN adalah kekuatan lahir dan batin."

Ungkapan itu merupakan hasil penalaran Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP selama pengabdiannya kepada negara, sejak tamat Akmil 1988 di Satuan Tentara Nasional Indonesia (TNI), di Kepresidenan dan Lembaga Ketahanan Nasional RI, serta memimpin beberapa yayasan dan organisasi masyarakat umum maupun kegamaan.

Ketenangan membutuhkan sebuah intuisi. Sementara intuisi itu merupakan hidayah yang diberikan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada umat-Nya yang dekat kepada-Nya dalam melaksankan setiap tugasnya kepada negara.

Intuisi akan selalu hadir mendampingi seseorang yang paham, bahwa dalam melaksankan tugasnya adalah Kehendak Tuhan Yang Maha Esa, untuk melayani masyarakat. Demikianlah intuisi akan hadir terus menerus pada saat pelaksanakan tugas-tugas yang berikutnya.

Seseorang yang diberi hidayah oleh Allah SWT menjadi pembeda dalam pelaksanaan tugas umat-Nya, akan menjadi teladan kepada orang lain yang menyadari keagungan Tuhan. Namun hidayah itu kadang menimbulkan kecemburuan pula bagi seseorang yang tidak memahami Yang Maha Kuasa, seperti cemburunya seitan kepada Nabi Adam AS.

Seseorang yang diberi hidayah akan lebih banyak menerima cobaan dari pada orang yang belum diberi hidayah. Kepercayaan kepada Tuhan dengan berserah secara tulus dan ikhlas, itu juga yang dapat memperkuat ketenangannya menghadapi cobaan, termasuk pelaksanaan protokol kesehatan dari pemerintah dalam menghadapi Covid-19.

Intuisi Sang Jenderal "Sigit" itulah yang disebut banyak orang ketika melihat Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo di media sosial dan ketika berdialog ringan dan berat dengannya. Sosok tokoh di jajaran Kepolisian RI, tetap bersahaja dan tenang bila ditanya tentang perjalanan kariernya.

Patut ditelaah langkah-langkah hidupnya dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari. Kesatuan yang memiliki jargon melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat tersebut dibuktikannya secara profesional, modern dan terpercaya. Mengapa? Artikel ringkas dan sederhana ini menyodorkan berbagai macam prestasi yang merupakan anugrah yang dimiliki pria berusia 51 tahun ini dari Tuhan Yang Maha Esa.

Jenderal lulusan 1991 dari Akademi Kepolisian, ketika penulis bertanya, ternyata dia tidak pernah henti memohon ketenangan dan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Pemurah dalam setiap menjalankan tugas-tuganya. Hal ini juga ditunjukkannya, ketika memangku jabatan Kabareskrim, sebuah jabatan yang banyak didambakan orang lain, dia tetap tidak lupa bersyukur atas anugrah Tuhan dan berterimakasih kepada sesama serta bermohon kepada Tuhan tetap memberi ketenangan lahir dan bathin dalam menghadapi jalan terjal dengan ragam tantangan dan rintangan.

Entri point "ketenangan" itulah kemudian menjadi penilaian penulis yang menarik untuk diteladani dari "Sigit". Di samping itu, dalam catatan Majalah Tempo, Jenderal Sigit merupakan Perwira yang meraih pangkat Komisaris Jenderal Polisis angkatan 91 dan Perwira termuda yang menjabat sebagai Kabareskrim dalam kurun satu dekade terakhir.

Olahan ketenangan dalam melaksanakan amanah dapat dibaca dari riwayat perjalanan hidupnya. Pertama, ketika dipromosikan tahun 2009 mengisi Kapolres di Pati, beliau dianggap minim prestasi. Kedua, penolakan keras dari MUI Banten ketika menduduki jabatan Kapolda dengan alasan rasis. Ketiga, ketika dipromosikan menduduki amanah sebagai Kabareskrim dengan aroma senioritas dan lainnya.

Tentu terlalu prematur untuk men-skemakan tiga persoalan tersebut, dari berbagai permasalahan yang dihadapi Jenderal bintang tiga ini. Hanya saja, itu memadai untuk dapat dijadikan sebagai bahan pengetahuan awal sekaligus membuka pintu perkenalan, bagi siapa saja.

Namun, tempahan ketenangan dan lingkungan zona kerja, menjadi daya tarik tersendiri dalam membangun keuletannya. Tidak heran, akhirnya interaksi sosialnya dengan para ulama yang intens, ketika beliau bertugas di Jawa Tengah (Pati, Semarang, dan Solo) dan Banten, kota penuh kiai dan ulama tercipta sebagai peluang untuk sharing kebangsaan dalam melayani masyarakat. Sebut saja misalnya, silaturrahmi Jenderal Sigit dengan Kiai Sahal Mahfudz yang pernah menduduki Ketua MUI dan Dewan Penasehat Pengurus Besar Nahdhatul Ulama.

Jenderal Sigit, mulai dikenal publik saat karirnya tahun 2009, jabatan yang diamanahkan berawal dari Polres Pati, Wakapoltabes Semarang dan Kapolres Surakarta. Prestasi beliau semakin cemerlang, terbukti tahun 2014 dipanggil ke Istana sebagai Ajudan Presiden Joko Widodo, kemudian diamanahkan menjabat sebagai Kapolda Banten 2016, lanjut ke Mabes Polri sebagai Kepala Divisi Propam Polri tahun 2018, hingga pada posisi strategis sebagai Kabareskrim. Jenderal Sigit terus berupaya menciptakan ketenangan, kedamaian dan kerjasama yang kondusif dalam melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Mata publik semakin tertuju pada Jenderal Sigit, akankah mampu membongkar berbagai kasus yang dinantikan masyarakat? Sebut saja misalnnya, kasus "penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan" seperti di peti es kan bertahun-tahun. Ternyata, harapan masyarakat tentang usut kasus tersebut, tidak menunggu lama, dan terbongkar kejahatan penyiraman hingga pelimpahan ke pengadilan dan bahkan sudah putus bersalah oleh hakim.

Belum lama ini, muncul kasus yang membuat laman publik menaruh kecurigaan terhadap lembaga kepolisian atas hapusnya red notice dan surat jalan Djoko Tjandra, seorang buronan kelas kakap selama beberapa tahun. Ternyata, ketenangan dalam kepemimpinan Jenderal Sigit, tanggal 30 Juli 2020 berhasil diringkus di Malaysia.

Beritasatu.com juga memberitakan, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit telah menyelamatkan kerugian negara. Kasus yang berdasarkan hasil audit BPK merugikan negara sebesar 2,7 miliar dolar AS atau Rp 37 triliun itu bermula saat pemilik PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Honggo Wendratno "bermain mata" dengan dua tersangka lain, yakni Raden Priyono, bekas Kepala Badan Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas dan mantan Deputi Finansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono. BP Migas kini berganti nama menjadi SKK Migas.

Tiga kasus tersebut, walau ada pemain balik layar berstatus sama-sama berbaju coklat dan pemangku kepentingan, dihadapinya dengan tenang dan menyerahkan semua urusannya kepada Tuhan Yang Maha Mengatur, semuanya menjadi terang benderang, publik pun merasa lega atas ketenangan Jenderal Sigit dalam menegakkan hukum di tengah pemerintah dan masyarakat yang sedang menghadapi pendemi Covid-19.

Tentu masih banyak cobaan yang dihadapinya, erat kaitannya dengan integritas dan profesionalisme Jenderal Sigit. Biarlah waktu yang akan membeberkan fakta-fakta kesetiannya kepada seluruh lapisan masyarakat, institusi, dan pemerintah dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesai yang bersih dan berwibawa.

Teladan Ketenangan
Tidak sedikit manusia yang terjebak dalam berbagai momentum integritas dan profesionalisme ketika berhadapan dengan internal dan desakan arus mafia hukum. Ini membutuhkan kematangan lahir dan bathin serta penuh ketenangan.

Tindakan arogansi dan anarkis tentu harus dihindarinya dalam tahapan analisis, agar dapat menghasilkan kinerja yang berkualitas. Inilah kemudian yang menjadi poin penting dalam menstranformasikan nilai dari ketenangan.

Penulis juga menambahkan, bahwa ketenangan adalah suasana jiwa yang berada dalam keseimbangan (balance) sehingga menyebabkan seseorang tidak terburu-buru atau gelisah. Dalam bahasa Arab yaitu kata ath-thuma'ninah yang artinya ketentraman hati kepada sesuatu dan tidak terguncang atau resah. Kemampuan menyeimbangkan faktor-faktor psikologis dalam berpikir dan bertingkah laku, inilah kemudian oleh Zakiah Dradjat menyebutnya dengan istilah "sehat mental".

Kemampuan Jenderal Sigit dalam mewujudkan keharmonisan yang sungguh-sungguh antara faktor jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan, kemampuan juga kemerdekaan dirinya.

Bukan an-sih belaka, fakta-fakta yang berbicara, terintegrasi menjadi sebuah kesimpulan yang memiliki nilai historis atas jejak perjalanan Jenderal Sigit. Berbagai kasus dari internal hingga dihadapkan dengan mafia-mafia hukum, sosok Jenderal Sigit tetap tenang. Inilah, yang diinginkan untuk diteladani oleh siapapun baik di internal kepolisian sebagai corong pelayan masyarakat maupun instansi lain, terlebih untuk generasi bangsa di masa mendatang.

Terakhir, titik temu batin antara Jenderal Sigit dan penulis, memiliki kesamaan kemampuan berintuisi dalam mengemban tugas dan tanggung jawab. Intuisi itu yang kemudian membuat setiap individu memiliki kemampuan mengelola "ketenangan" jiwa.

H. Albiner Sitompul, S.IP, M.AP
Ketua Umum Jam'iyah Batak Muslim Indonesia.


Komentar Pembaca