Duka Bom Beirut| Dianggap Bertanggungjawab, Kepala Bea Cukai Lebanon Ditangkap

Internasional  SELASA, 18 AGUSTUS 2020 | 00:30 WIB

<b> Duka Bom Beirut</b>|  Dianggap Bertanggungjawab, Kepala Bea Cukai Lebanon Ditangkap

foto/net

Moeslimchoice. Kepala otoritas Bea Cukai Lebanon secara resmi ditangkap pada Senin (17/8) setelah diinterogasi atas ledakan besaran yang terjadidi Beirut awal bulan ini, lapor Kantor Berita Nasional (National News Agency/NNA) yang dikelola pemerintah.

Penyelidikan difokuskan pada mengapa hampir 3.000 ton peledak amonium nitrat itu disimpan di pelabuhan kota. Gudang yang terpercik api kemudian menyebabkan ledakan yang menghancurkan ibu kota, dan menewaskan sedikitnya 180 orang dan melukai 6.000 orang.

Tiga puluh orang masih hilang setelah ledakan 4 Agustus lalu itu, yang menyebabkan kerusakan dan kerugian sekitar $ 10 miliar (Rp 148,7 Triliun)
hingga $ 15 miliar (Rp.223 Triliun).

Dokumen yang muncul setelah ledakan, satu-satunya yang paling merusak dalam sejarah Lebanon, menunjukkan bahwa para pejabat telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa 2.750 ton amonium nitrat disimpan di gudang di pelabuhan dan mengetahui bahayanya.

Hakim Fadi Sawwan lalu memanggil dan meminta keterangan Kepala Bea Cukai, Badri Daher, yang ditahan beberapa hari setelah ledakan. Selama empat setengah jam di hadapan dua pengacaranya, Badri dicecar dengan puluhan pertanyaan sebelum akhirnya dikeluarkan surat perintah penangkapan, kata badan tersebut. Daher akan tetap ditahan saat penyelidikan berlanjut. Daher ditangkap karena dianggap bertanggungjawab karena mengetahui dan membiarkan bahan berbahaya itu berada di gudang.

NNA menyatakan bahwa setelah mencecar Daher, Sawwan menuju ke lokasi ledakan untuk mengamati kerusakan dan kemudian akan kembali untuk memeriksa Hassan Koraytem, ​​yang juga pejabat tinggi pelabuhan hingga hari terjadinya ledakan.

Presiden Lebanon, Michel Aoun mengatakan, penyelidikan atas ledakan dahsyat itu "sangat kompleks" dan tidak akan selesai dengan cepat. Aoun mengatakan, penyelidikan itu dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama bertujuan untuk menentukan keadaan di sekitar kargo, yang kedua dari mana asalnya dan siapa yang mengirimkannya, dan yang ketiga, untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab untuk menangani dan mengamankannya.

Aoun mengatakan, FBI dan penyelidik Prancis membantu karena "mereka, lebih dari kita, memiliki kemampuan dan kemampuan untuk mengetahui detail tentang apa yang membuat kapal itu di sini, apa sumbernya, dan siapa pemiliknya."

Tim penyelidik FBI yang beranggotakan sembilan orang tiba di Beirut pada  Minggu (16/8), menurut seorang pejabat penerbangan Lebanon, dan diyakini telah bergabung dalam penyelidikan. 

Sementara Penyelidik Prancis telah aktif lebih dulu selama berhari-hari di pelabuhan.

Kemarahan rakyat Lebanon sudah tak terkendali atas korupsi, dan salah urus oleh para elit penguasa. Pemerintah Lebanon, yang didukung oleh kelompok militan Hizbullah dan sekutunya, telah mengundurkan diri pada 10 Agustus lalu.

Belum ada pertemuan khusus ataupun formal tentang siapa yang akan menggantikan Hassan Diab sebagai Perdana Menteri dan kemungkinan tidak ada kandidat yang muncul. [mt/AN]


Komentar Pembaca