Tebar Kedamaian dan Saleh Sosial Sebagai Pendukung HUT RI ke-75

Oleh: HM Affan Rangkuti

Opini  SABTU, 15 AGUSTUS 2020 | 15:22 WIB | Sunarya Sultan

Tebar Kedamaian dan Saleh Sosial Sebagai Pendukung HUT RI ke-75

HM Affan Rangkuti/ist

Moeslimchoice | Saya akan menyampaikan haji mengajarkan santun kata, tebar kedamaian, saleh sosial sebagai salah satu pendukung tema HUT RI ke-75 Indonesia Maju.

Makna haji memiliki dimensi ganda yang harus dihayati oleh umat Islam. Pertama, haji sebagai pengabdian, yakni membangun kesadaran jiwa dengan melakoni peran sebagai manusia yang tak bisa lepas dari ikatan antara alam semesta berikut isinya. Mengabdi untuk menjaga ekosistem stabilitas hidup dan kehidupan.

Dicintai dan mencintai apa yang diciptakan untuk dijaga jangan sampai tercederai oleh nafsu yang dapat menimbulkan gejolak pertikaian. 

Kedua, haji sebagai kerja nyata dan kerja bersama.

Menjadi lebih baik dari sebelumnya, meningkatkan kepekaan dalam perjalanan baik sebagai pribadi maupun makhluk sosial. Satu kemudahan akan mudah terwujud apabila kerja nyata dan kerja bersama dilakukan. Kepekaan sebagai makhluk sosial yang dibutuhkan bukan persengketaan yang dimunculkan.

Tak ada guna bertikai, dan tak ada manfaat bersengketa. Mencintai dan peka sosial adalah fondasi dari kemakmuran baik bagi diri, orang lain dan lingkungan. Namun dalam perjalanannya, dua makna di atas mengalami pergeseran. Dicintai dan mencintai menjadi harga yang mahal, kepekaan pun menjadi sifat yang langka.

Dalam era yang semuanya didasarkan kepada realita ilmiah, sudah menjadi sangat penting agar proses ibadah haji dimaknai dengan pengertian realistis dalam memperkuat keyakinan umat Islam setelah menunaikan ibadah. Urgensi ini dimaksudkan untuk menandingi sebagian pemeo yang menyatakan bahwa haji tak memiliki relevansi terhadap realitas kekinian.

Semisal pertumbuhan zakat, infak dan sedekah meningkat tajam setiap tahunnya. Rindu kita suatu ketika ada yang mengatakan begini, "Alhamdulillah, tahun ini setiap hari orang mengantri memberikan zakat, infak dan sedekah di lembaga-lembaga amal."

Membicarakan tentang ibadah haji dalam hubungannya dengan perubahan yang terjadi dalam perilaku personal yang telah menunaikan ibadah haji, setidaknya bercermin pada suatu sejarah Islam, dimana suatu saat ada seorang sahabat Nabi Saw mempertanyakan mengenai amalan apa dan bentuk perjuangan bagaimana yang paling istimewa di hadapan Allah Swt.

Nabi Saw menjawab yaitu hajjun mabrurun, atau yang biasa kita sebut haji mabrur. Santun kata, tebar kedamaian dan saleh sosial itulah tandanya.

Memahami alasan tentang mengapa haji mabrur merupakan bentuk amalan dan perjuangan yang istimewa dalam Islam, dapat kita pelajari dari segi pelaksanaan ibadah haji itu sendiri yang sarat dengan simbol-simbol dan penuh makna serta mendatangkan berbagai manfaat yang positif di kemudian hari, baik manfaat atau pengaruh dalam aspek perubahan perilaku diri dalam aktivitas sosial.

Tahun haji 2019 lalu boleh dikatakan sebagai tahun kebangkitan dakwah wasathiyah, moderasi dalam ajaran sikap-sikap yang diajarkan-Nya. Hampir setiap hari dakwah itu berkumandang di setiap hotel yang dihuni jemaah haji Indonesia.

Semua berdakwah tentang haji. Apakah itu petugas kesehatan haji dengan Dakwah Kesehatan Haji nya, petugas pelayanan umum dengan Visitasi Bimbingan Manasik dan Ibadah nya, petugas transportasi dengan Dakwah Bis Salawat nya dan lainnya, semua bertema satu Dakwah Haji.

Tak bosan, tak letih, dan tak henti-hentinya petugas haji ini bersuara agar jemaah haji Indonesia dapat memahami hikmah ibadah haji dengan doa dan usaha semaksimal mungkin agar jemaah haji dapat menyelesaikan ibadahnya dan menjaga kemabruran haji sepulangnya nanti ke Tanah Air. 

Segudang harapan petugas haji kepada jemaah agar sepulangnya nanti berkeinginan kuat berkontribusi terhadap pembenahan dan tranformasi kehidupan sosial.

Berpadu dengan program pembenahan pemerintah untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan. 

Aroma itu sudah tercium dan berharap menjadi kenyataaan saat berakhirnya masa Arafah Muzdalifah dan Mina berdekatan dengan HUT RI ke-74 lalu. Tema besar yang diangkat sebagai pembuka kesadaran semua komponen bangsa yakni Menuju Indonesia Unggul.

Mari kita tengok ke belakang lembaran semangat pendahulu dalam mengaktualisasikan setelah pulang menunaikan ibadah haji. Mereka benar-benar menjalankan didasari takwa, sebagaimana diajarkan Nabi Saw bahwa sesungguhnya sebaik-baik bekal ialah takwa.

Abad 16 sampai 19 misalnya, jemaah haji tidak sebatas beribadah tetapi membawa misi patriotisme, atau mendorong pembaharuan perubahan. Seperti halnya, Imam Bonjol dan Diponegoro, begitu pulang haji memimpin perjuangan membebaskan bangsa dari kolonialisme Belanda.

Begitu pula dengan Hasyim Ashari, Ahmad Dahlan, Hasan Ma'shum dan lainnya. Sebegitu pulang setelah menunaikan rukun Islam ke lima masing-masing mendirikan organisasi dalam mendukung dan berperan serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajah, hingga saat ini organisasi itu masih eksis berperan dalam pendidikan, dakwah dan amal sosial.

Cakupan perhatian para haji sudah sangat luas. Bukan hanya memikirkan soal-soal ibadah saja, tapi juga meliputi masalah kenegaraan termasuk hubungan diplomatik.

Di abad itu, misalnya para ulama Aceh telah menjalin hubungan telah menjalin hubungan dengan Sultan Rum, Khalifah Usmani di Turki. Itu berarti, para ulama sudah merintis solidaritas dunia muslim dengan menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara muslim.

Begitu pula Sultan Agung dari Mataram mengirim delegasi ke Hijaz untuk menjalin persahabatan agar perjalanan ibadah haji berlangsung aman. Selain Aceh dan Mataram, negeri muslim nusantara lainnya yang menjalin hubungan dengan Hijaz ialah Kesultanan Banten, Palembang dan Makassar. Di Makkah, para pedagang dan jemaah haji membentuk sebuah komunitas sebagai mukimin.

Jangan terkejut ketika banyak para pejabat di Arab Saudi ada merupakan keturunan Indonesia. Salah satunya adalah Menteri Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi, Mohammed Saleh bin Taher Benten.

Ada juga Wakaf Habib Bugak Asyi yang kini dikenal sebagai Wakaf Baitul Asyi yang setiap tahunnya memberikan wakaf tunai kepada jemaah haji asal Aceh sebesar 1.200 Riyal Arab Saudi.

Semangat perubahan mendorong peran pedagang muslim dan haji yang kembali dari Makkah berdakwah menyebarkan Islam di Nusantara. Di belakang hari tradisi semangat patriotisme itu diteruskan oleh para haji di masyarakat dikenal sebagai pemimpin informal dengan sebutan antara lain ustaz, tuan guru, syekh, kyai dan lainnya.

Dalam sejarah kebangsaan Indonesia banyak nama-nama haji patriotik, antara lain Samanhoedi, Oemar Said Tjokroaminoto, Agoes Salim, Mas Mansoer, Ki Bagoes Hadikoesoemo.

Jemaah haji dalam kehidupan sosial membuktikan pula bahwa pergerakan kebangsaan dan pergumulan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tak dapat dilepaskan dari peranan kaum haji, baik yang sempat terekam maupun yang tidak.

Termasuk juga peranan petugas haji yang sudah ada sejak tahun 1948, sebagai Misi Haji RI yang pertama, tiga tahun setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mereka adalah Mohammad Adnan sebagai ketua misi, Saleh Suady sekretaris, Syamsir Sutan Rajo Ameh bendahara dan Ismail Banda anggota.

Jika di masa lalu semangat para haji menjiwai gerakan sosial menegakkan kebenaran dan keadilan, termasuk melakukan transformasi, bagaimana dengan para haji saat ini. Saat ini para haji termasuk petugas haji sangat dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk bersama lebih membangun bangsa dan negara yang unggul.

Walau haji tahun ini terkendala wabah Virus Corona hingga jemaah dan petugas belum bisa menjalankan darma nya bukan berarti lemah apalagi pasrah. Ini hanya masalah waktu dan keadaan. Justru situasi saat ini dijawab dengan pengabdian yang lebih lagi dalam berjuang penuh melawan dan memutus mata rantai penyebaran wabah hingga keadaan kembali normal. Bersama kita doakan vaksin buatan Indonesia dipermudah, diperlancar hingga bisa diproduksi massal nantinya.

Salah seorang filsuf mengatakan dalam salah satu bukunya tentang haji mengingatkan kepada kita bahwa kewajiban para haji setelah kembali ke Tanah Air, adalah jadikanlah negerimu menjadi sebuah negeri yang aman karena engkau telah pulang dari Tanah Haram. Jadikanlah zaman mu zaman yang mulia seolah-olah engkau tetap berada di dalam keadaan ihram.

Kutipan tersebut jika dicermati dengan tugas yang dihadapkan kepada jemaah haji dan semua petugas nanti adalah relevan, mengingat sekarang ini adalah bagaimana mengisi hasil rintisan dan kepeloporan para tokoh pendahulu dengan turut bersama dalam membangun negeri.

Bersama juga kita doakan agar sebagai manusia, jangan ada lagi membedakan berdasarkan suku, agama, ras, antar golongan dalam aktivitas kehidupan sosial formal-informal yang terjadi mendatang. Jika masih ada maka sama artinya terperangkap di era perbudakan, rasis, intoleran dan dipastikan muncul kecemburuan hingga dendam tak berkesudahan.

Cukuplah masa-masa itu berlalu dan menyudahinya atas nama cinta dan kasih sayang.

Ciptakan tenggang rasa antara sesama. Keberhasilan seorang manusia dalam hidip adalah disaat mampu memanusiakan manusia lainnya. Aktualisasikan pesan-pesan sosial dalam ihram di masyarakat.

Berusaha menularkan ihram kepada setiap individu agar memposisikan dirinya sebagai pencinta kasih dan sayang. Sikap hidup yang bersedia untuk bekerja keras dan tidak mudah putus asa, berprilaku sederhana, gemar menolong, silaturrahim, anti pertikaian dan cinta damai. Di sinilah ihram mengaktualisasikan pesan dan semangatnya.

Semoga semangat aktualisasi pesan ibadah bagi jemaah dan petugas haji seiring dengan HUT RI ke-75 merupakan salah satu wadah mengisi dan meneruskan cita dan kepoloporan para pendahulu dalam mencerahkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. Salam Khebinekaan, Jemaah dan Petugas Haji Santun Kata, Tebar Kedamaian, Saleh Sosial, Indonesia Maju.

Penulis adalah: Ketua Umum Pengurus Besar Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PB FKAPHI)

[ary]


Komentar Pembaca