Duka Bom Beirut| Warga Lebanon Saling Bantu Setelah Pemerintah Tak Perdulikan Mereka

Internasional  KAMIS, 13 AGUSTUS 2020 | 19:15 WIB

<b>Duka Bom Beirut</b>| Warga Lebanon Saling Bantu Setelah Pemerintah Tak Perdulikan Mereka

foto/net

Moeslimchoice. Di kota Haris, Lebanon Selatan, pasangan yang baru menikah tinggal di salah satu Apartemen milik Safy Faqeeh secara gratis. Di antara mereka sebelumnya belum pernah bertemu, dan mereka tidak sedang berbulan madu. Apartemen sang pasangan pengantin baru itu telah hancur di Beirut saat ledakan besar pekan lalu, yang juga telah menyebabkan kehancuran di seluruh ibu kota.

Faqeeh adalah satu dari ratusan warga Lebanon yang telah membuka rumah mereka untuk para penyintas (korban yang selamat) dari ledakan yang terjadi pada 4 Agustus itu.

Ledakan yang berpusat di pelabuhan Beirut dan melanda ibu kota, menyebabkan sekitar seperempat juta orang kehilangan tempat tinggal mereka karena hancur rata dengan tanah. Tetapi mereka tidak harus berdesak-desakan ke tempat penampungan kolektif atau tidur di taman umum.

Itu karena tidak adanya negara (orang pemerintah), yang turun tangan membantu warga terdampak ledakan. Hingga mereka, para penyintas warga Lebanon telah turun tangan  untuk membantu satu sama lain.

Beberapa orang juga membiarkan kerabat, teman dan tetangga tinggal bersama mereka. Orang lain seperti Faqeeh, juga dengan ikhlas mengulurkan tangan membantu lebih jauh, menggunakan media sosial untuk menyebarkan berita bahwa mereka masih memiliki tempat untuk menampung orang-orang (korban ledakan) secara gratis.

Pasangan pengantin itu melihat tawaran Faqeeh di Facebook untuk mendapatkan apartemen gratis yang dimilikinya di Haris, sekitar 50 mil (80 kilometer) selatan Beirut. 

Akhirnya pasangan pengantin baru itupun tinggal di Apartemen milik Faqeeh. 

"Mereka bisa memakai selama mereka membutuhkannya," kata Faqeeh yang berusia 29 tahun, dan dia memiliki apartemen kedua yang tersedia untuk siapa pun yang membutuhkan. 

"Ini bukan membantu, ini tugas," katanya.

Ketika masih remaja, rumah keluarga Faqeeh rusak dalam perang tahun 2006 antara Israel dan Hizbullah, dan mereka harus tinggal di sebuah rumah di Tripoli, jauh di ujung lain Lebanon. Sekarang dia mencoba membalasnya. 

"Kami telah mengalami beberapa perang dan mereka (orang) menjadi tuan rumah bagi kami," kata Faqeeh.

Bantuan yang diberikan orang Lebanon lebih dari sekadar tempat tinggal. Berbekal helm dan sapu, ratusan relawan juga telah menyebar di lingkungan Beirut yang rusak parah, membersihkan rumah-rumah orang dan melakukan perbaikan dasar gratis, seringkali cukup untuk memungkinkan penduduk tinggal di sana.

Ledakan itu membuat seluruh blok berantakan, dengan jalan-jalan dipenuhi pecahan kaca, logam bengkok, batu bata pecah. Namun dalam beberapa hari, beberapa jalan bersih, puing-puing tersortir dengan rapi. Itu berkat relawan yang kerap menggunakan media sosial untuk mengatur kemana mereka harus bekerja membersihkan jalan atau membersihkan rumah-rumah yang rusak. 

Di beberapa tempat, mereka menyapu jalan dan mengangkut puing-puing sementara pasukan keamanan atau tentara berdiri di dekatnya, mengawasi.

 Pemerintah hampir sepenuhnya meninggalkan rakyatnya untuk menangani akibat ledakan tersebut. Di luar pelabuhan yang dihancurkan, tidak ada kru pembersihan pemerintah di jalan-jalan. Begitupun  para pejabat tak terlihat untuk membantu, selain janji kompensasi kepada mereka yang rumah atau bisnisnya rusak. [mt/AN]


Komentar Pembaca