Kasus Meninggal Akibat COVID-19 di Brasil Sentuh Angka 100.000 Lebih

Internasional  MINGGU, 09 AGUSTUS 2020 | 16:00 WIB

Kasus Meninggal Akibat COVID-19 di Brasil Sentuh Angka 100.000 Lebih

foto/net

Moeslimchoice. Brasil menjadi negara kedua yang melewati tonggak sejarah suram dengan kasus meninggal sebanyak 100.000 kasus akibat virus corona pada Sabtu (8/8), ketika Presiden AS, Donald Trump menandatangani tindakan eksekutif yang memperluas bantuan ekonomi di negara yang paling terpukul di dunia.

Perintah pemimpin AS itu, menyusul kegagalan partai Republik dan oposisi Demokrat untuk menyetujui paket stimulus baru, meskipun negara itu menganggur dua digit, penurunan bisnis, dan tingkat infeksi virus corona yang sangat tinggi.

Hanya sehari setelah Amerika Latin dan Karibia menjadi wilayah yang paling terpukul dalam pandemi global, Brasil melaporkan total kasus meninggal sebanyak 100.477 kasus, bergabung dengan AS sebagai satu-satunya dua negara yang melampaui angka kematian enam digit.

Korban terus meningkat di seluruh dunia, dengan angka kematian global kini telah melonjak melewati angka 722.000. Lebih dari 162.000 di antaranya berada di AS, yang hampir mencatat 5 juta kasus.

Total kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di dunia berada di 19.506.443, menurut penghitungan Universitas Kedokteran John Hopkins.

India memiliki lebih dari dua juta infeksi, jumlah kasusnya meningkat dua kali lipat dalam tiga minggu, dan telah mencatat 42.518 kematian.

Dan lebih dari 10.000 orang telah meninggal akibat virus corona di Afrika Selatan, kata kementerian kesehatan pada Sabtu (8/8), ketika sepak bola mulai digelar setelah ditutup selama 145 hari yang disebabkan oleh virus korona.

Meningkatnya infeksi di dan sekitar Paris telah mendorong para pejabat untuk membuat pemakaian masker wajah menjadi wajib di luar ruangan di daerah ramai dan hotspot turis di kota dan sekitarnya mulai Senin (10/8).

Masker wajib dikenakan untuk semua orang yang berusia 11 tahun ke atas "di zona tertentu yang sangat padat," kata pernyataan polisi, termasuk di tepi Sungai Seine dan lebih dari 100 jalan di ibu kota Prancis.

Saat suhu melonjak di seluruh Eropa Barat, wisatawan memadati pantai meskipun ada peringatan tentang risiko infeksi.

Pada Sabtu (8/8), sehari setelah Inggris mencatat hari terpanas di bulan Agustus dalam 17 tahun pada suhu 36,4 derajat Celcius (97,5 Fahrenheit), sebagian besar garis pantai selatannya dipadati wisatawan.

Otoritas lokal di Jerman memperingatkan bahwa beberapa pantai dan danau akan ditutup jika terdapat banyak orang.

Sementara itu, Polisi Belgia telah menangkap beberapa orang pada Sabtu (8/8) di resor Blankenberge, setelah perkelahian terjadi di pantai antara petugas dan pemuda, yang mereka suruh pergi karena menolak menghormati dan mematuhi langkah-langkah keamanan virus.

Dan sekitar 5.000 orang berdemonstrasi di Wina untuk meningkatkan dukungan finansial untuk kehidupan malam dan melonggarkan peraturan virus corona.

Beberapa tempat kerja tetap menjadi hotspot infeksi. Perusahaan daging besar, Danish Crown mengumumkan, pada Sabtu (8/8) bahwa mereka telah menutup rumah pemotongan daging (jagal) besar di Denmark, setelah hampir 150 karyawan terjangkit virus itu.

Sementara itu, di India saat ini memiliki beban kasus pandemi tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil.

Petugas kesehatan wanita di beberapa negara bagian India, melakukan pemogokan dua hari sejak Jumat (7/8) dan merencanakan protes massal di New Delhi pada hari ini, Minggu (9/8) untuk menuntut gaji yang lebih baik, pensiun yang lebih tinggi dan peralatan serta pengujian perlindungan anti-virus.

Shiksha Rana, seorang aktivis kesehatan sosial di New Delhi, mengatakan kepada AFP, bahwa sedikitnya 200 petugas kesehatan, dan keluarga mereka telah terinfeksi di wilayah Delhi saja.

"Kami harus menggalang dana untuk pengobatan dan makanan bagi keluarga mereka," katanya.

Di AS, di mana banyak orang Amerika mengandalkan langkah-langkah bantuan yang disetujui sebelumnya oleh Kongres, tetapi sebagian besar berakhir pada Juli, Trump mengatakan, keputusannya untuk menghindari anggota parlemen dengan tindakan eksekutif akan berarti uang "didistribusikan dengan cepat."

Sementara di Ghana, anak-anak Palestina kembali ke sekolah, setelah libur lima bulan karena lockdown akibat virus corona, tetapi dengan lebih sedikit kelas dan langkah-langkah keamanan khusus.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Palestina, UNRWA, mengatakan lebih dari 285.000 siswa telah kembali ke 277 sekolahnya.

Gaza, di bawah blokade Israel sejak 2007, telah melaporkan 78 kasus penyakit COVID-19, dengan satu kasus meninggal. 

Dan di Taiwan, kini maskapai penerbangan telah berinovasi untuk mencoba meringankan kerugian finansial dari penurunan virus corona, dan sekarang menawarkan "penerbangan ke mana-mana" dan kursus pramugari untuk anak-anak. [mt/AN]


Komentar Pembaca