Chatib Basri: Re-Opening Kegiatan Ekonomi Akan Membawa Dampak Positif

Ekonomi  SABTU, 08 AGUSTUS 2020 | 17:30 WIB | RMOL

Chatib Basri: Re-Opening Kegiatan Ekonomi Akan Membawa Dampak Positif

Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri/Net

MoeslimChoice | Untuk mengantisipasi asumsi negatif pertumbuhan ekonomi yang oleh beberapa pengamat dikhawatirkan akan makin memburuk. Pemerintah sudah menyiapkan lima langkah untuk mencegah perekonomian masuk ke dalam jurang resesi, dan mendorong pemulihan ekonomi pada kuartal III dan IV 2020.

Sementara sejumlah ekonom menakar dampak pembukaan kembali aktivitas ekonomi di tengah situasi pandemik Covid-19 mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri mengatakan triwulan III menjadi momentum perekonomian untuk kembali bangkit agar tidak tergelincir ke dalam jurang resesi.

"Re-opening kegiatan perekonomian jelas membawa dampak positif," ujar Chatib lewat keterangan persnya yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu, 8/8/20.

Berdasarkan data Google Mobility hingga 17 Juli 2020, aktivitas di sejumlah tempat publik dan pusat ekonomi mulai menunjukkan peningkatan dibandingkan saat PSBB pada Maret-Mei. Indikasi ini yang menurut Chatib membuat aktivitas ekonomi bisa membaik.

Prediksi dari beberapa lembaga keuangan, seperti IMF menunjukkan jika Indonesia akan menjadi negara dengan pemulihan ekonomi tercepat setelah China pada 2021.

IMF memperkirakan perekonomian dunia tumbuh sebesar 5,4 persen dan diikuti proyeksi Bank Dunia sebesar 4,2 persen. Sementara, OECD memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan berkisar di rentang 2,8 persen hingga 5,2 persen.

Adapun lima langkah pemerintah untuk mencegah ekonomi Indonesia amblas di kuartal III.

Pertama, pemerintah akan melakukan belanja besar-besaran untuk menghadapi ancaman resesi yang bakal datang. Lewat cara ini, kontraksi ekonomi akibat pandemik Covid-19 bisa diredam.

"Lewat belanja besar-besaran permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto belum lama ini.

Belanja pemerintah diakui menjadi instrumen yang menjadi daya ungkit untuk memulihkan ekonomi di saat krisis akibat pandemi Covid-19.  Selain itu sektor swasta dan UMKM harus dipulihkan kembali dengan stimulus.

Kedua, pemerintah sudah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Komite ini dipimpin oleh Airlangga Hartarto dan Erick Thohir selaku Ketua Pelaksana.

Lewat komite itu penanganan kesehatan dan ekonomi terus berjalan sinergi. Selain itu komite harus bisa memastikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal tiga 2020 tetap terjaga. Kuartal tiga adalah momentum Indonesia jatuh ke jurang resesi atau tidak.

Ketiga, pemerintah sudah memberikan bantuan ke UMKM, yang juga menjadi salah satu sektor yang terpukul paling awal akibat pandemi Covid-19. Pemerintah menyiapkan berbagai program untuk mengungkit sektor ini menggeliat kembali.

Pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan restrukturisasi dan subsidi bunga kredit bagi UMKM.  Selanjutnya ada pula bantuan UMKM produktif dan kredit berbunga rendah.

Keempat, pemerintah juga menempatkan Dana di Perbankan. Ini dilakukan untuk memutar kembali roda ekonomi. Penempatan yang telah dilakukan pemerintah adalah Rp 30 triliun di Himpunan Bank Milik Negara, serta Rp 11,5 triliun di Bank Pembangunan Daerah.

Penyaluran kredit perbankan sudah membaik seiring dengan adanya penempatan dana pemerintah tersebut. Terbukti adanya penyaluran kredit yang besar dari bank-bank penerima penempatan dana tersebut.

Hingga 22 Juli 2020, penyaluran kredit dari penempatan dana di Himbara telah mencapai Rp 43,5 triliun kepada 518.797 debitur.

Kelima, pemerintah melakukan  Penjaminan Kredit Modal Kerja untuk Korporasi. Program kepada korporasi padat karya ini dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

"Perbankan telah menandatangani perjanjian penjaminan terutama untuk sektor padat karya yang merupakan sektor yang banyak memperkerjakan pekerja," ujar Airlangga Hartarto. (wrn)


Komentar Pembaca