Jenderal Haftar Peringatkan Erdogan, Keluar dari Libya atau Hadapi Peluru

Internasional  SENIN, 03 AGUSTUS 2020 | 08:30 WIB

Jenderal Haftar Peringatkan Erdogan, Keluar dari Libya atau Hadapi Peluru

foto/net

Moeslimchoice. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mendapat peringatan keras pada Minggu (2/8) untuk membawa pasukannya keluar dari Libya atau harus berhadapan dengan senjata. 

Peringatan itu dikeluarkan oleh orang kuat militer Timur Libya, Jenderal Khalifa Haftar, yang memimpin Tentara Nasional Libya (LNA) dalam konflik dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) di Tripoli, pimpinan Fayez Al-Sarraj.

Erdogan telah mengirim tentara bayaran yang didukung Turki dari Suriah untuk membantu perjuangan GNA, bersama dengan artileri dan senjata berat yang makin menguntungkannya. 

Dalam pidatonya kepada pasukannya saat Idul Adha, Haftar menuduh presiden Turki "datang ke Libya untuk mencari warisan leluhurnya."

"Kami memberi tahu dia (Erdogan) bahwa kami akan menerjemahkan warisan leluhur Anda dengan peluru," kata Jenderal Haftar tegas. 

Untuk pasukan Turki di Libya, tidak akan ada belas kasihan karena mereka tidak pantas mendapatkan belas kasihan, tambah Haftar.

Rakyat Libya tidak akan pernah menerima pendudukan oleh orang-orang Turki, dan tidak akan pernah lagi dijajah, lanjut Haftar.

Samuel Ramani, seorang peneliti di Universitas Oxford, Inggris, mengatakan kepada Arab News bahwa Haftar meningkatkan retorikanya untuk melawan Turki.

"Dia benar-benar menekankan bahwa perangnya di Libya bukan hanya perjuangan melawan ekstremisme atau milisi teroris yang sejalan dengan GNA, tetapi juga perjuangan untuk kedaulatan dan kemerdekaan Libya dari agenda hegemonik Turki," kata Ramani.

Peringatan Haftar kepada Erdogan terjadi setelah pertengkaran yang terjadi antara Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar dengan Menteri Negara Urusan Luar Negeri UEA, Anwar Gargash yang mendukung Haftar.

"Abu Dhabi melakukan apa yang dilakukannya di Libya, melakukan apa yang dilakukannya di Suriah. Semua itu sedang dilaporkan. Di tempat dan waktu yang tepat, rekening akan diselesaikan," kata Akar. 

"Kita perlu bertanya kepada Abu Dhabi, dari mana permusuhan ini, dari mana niat ini, dari mana kecemburuan ini berasal?" tanya Akar.

Gargash menanggapi dengan peringatan kepada Turki untuk berhenti mencampuri urusan Arab. 

"Ilusi kolonialis milik arsip sejarah," kata Gargash. 

"Hubungan antara negara tidak dilakukan dengan ancaman," tambahnya. [mt]


Komentar Pembaca